Postingan

Ke Pasar

Biasanya orang-orang yang jarang melakukan sesuatu hal yang biasa saja, justru dia yang akan paling heboh koar-koar. Contohnya, ada video youtube dari brightside tentang seseorang yang bereksperimen bangun pagi satu-dua jam lebih awal dari biasanya selama satu minggu dan efeknya ternyata luar biasa membuat dia lebih produktif. Bagi banyak orang lain di luar sana, bangun pagi sebelum matahari terbit adalah sebuah aktivitas biasa dan sehari-hari. Tidak perlu dibikin satu konten youtube dengan animasi yang spektakuler untuk menunjukan manfaat bangun pagi.

Ya sama kayak saya kali ini.

Baru sekitar satu bulan ini saya rajin ke pasar tradisional. Dan akhirnya satu postingan blog saya buatkan. Padahal, jutaan orang secara rutin ke pasar sepanjang hidupnya dan biasa saja.  Inipun karena ibu saya sedang ada di Jogja sehingga setiap dua hari sekali, kemi berdua akan pergi ke pasar. Jam setengah tujuh sampai jam 7 pagi, kami sudah jalan kaki menuju ke pasar yang berjarak sekitar 800 meter dari r…

You Are What You Wear (?)

Gambar
Sewaktu merantau SMA di Malang, setiap hari saya naik angkot melewati sebuah toko baju Darmo di Jalan Letjen Sutoyo. Toko baju itu pada masanya (saya SMA tahun 2002) cukup terkenal, karena tokonya besar namun nyaman, harga pun terjangkau. Di tembok bagian depan toko itu, ada tagline besar yang tertulis: 'You Are What You Wear'. Saya yang dari atas angkot sekalipun selalu bisa membaca tulisan tersebut.

Entah kenapa, enam belas tahun berselang, saya teringat quote di atas dan ingin menulis tentang itu.
Di sini, saya tidak bermaksud untuk melakukan simplifikasi terhadap sesuatu. Manusia dan segala kompleksitasnya pun tak mungkin juga HANYA dapat disederhanakan karakternya melalui apa yang dia kenakan.
Namun, anggap saja apa yang kita kenakan itu sedikit bisa menggambarkan kita atau katakanlah menyumbang sebagian dari perwujudan karakter kita.
Darmo itu memang toko baju, tapi kata 'wear' di sini ingin saya perluas juga dengan benda lain yang kita kenakan di tubuh. Contohny…

Belajar Bermain Gitar

Saya mengetik ini dengan kondisi jari-jari tangan kiri terasa sedikit sakit. Seminggu ini, saya sedang berlatih memainkan gitar. Yosua membelikan sebuah gitar kecil, atau yang disebut guitalele (dengan 6 senar). Kebetulan ini juga untuk mengisi hari libur lebaran yang panjang. Libur lebaran ini kami tidak kemana-mana hanya pergi ke tempat-tempat seputaran Jogja saja. Dengan adanya guitalele ini, sepanjang pagi dan sore, kami selalu menghabiskan dengan bernyanyi diiringi gitar. Menyenangkan sekali.

Sejak masih SD, saya sudah ingin sekali belajar gitar. Dulu, asisten rumah tangga kami mempunyai sebuah gitar. Dia mengajari saya dan Nike. Namun, gitar itu tidak bertahan lama ada di rumah. Saya lupa sebabnya kenapa. Tentu tidak mungkin saya meminta orang tua untuk membeli gitar pada saat itu. Alasannya: segala bentuk hiburan selain buku bacaan tidak mungkin ada di rumah kami. Ibu saya terlalu hemat untuk membeli kebutuhan tersier. Saya pernah bercerita tentang bagaimana ibu mengikat perut …

Tidur Nyenyak

Gambar
Saya bukan seseorang yang suka olah raga. Aktivitas fisik yang dengan senang hati saya tekuni adalah berjalan kaki. Saya pun bukan seseorang yang selalu makan sehat. Namun, boleh dikatakan, dengan tubuh super kurus ini, saya jarang sekali sakit. Dalam satu tahun terakhir, saya tidak pernah batuk pilek. Kadang Yosua kena flu, atau teman kantor kena flu namun saya tidak. Beberapa kali, tenggorokan saya berasa gatal seperti gejala flu, namun saya cukup minum air putih yang banyak dan tidur semalaman, besoknya sudah kembali seperti biasa.

Mungkin, rahasia kecil saya adalah tidur cukup. Bagi saya, tidur malam minimal 7-8 jam adalah kunci memulai hari yang produktif. Waktu tidurnya pun selalu tetap. Jam 10 malam, saya sudah baring-baring di kasur. Jika beruntung akan langsung tidur, jika tidak paling lambat jam 11 sudah tertidur. Dan akan bangun keesokan harinya jam 6 sampai jam 7 pagi (jika tidur di jam 11). Saya yang pemalas ini, kadang suka melewatkan makan malam dan akhirnya lebih memil…

Memulai Residensi (Independen) di Kota Orang

Usia pernikahan saya dan Yosua baru 2 tahun lebih, tapi dalam rentang waktu singkat ini, kami telah menikmati (kalau boleh dikatakan demikian) residensi di 3 kota yang berbeda dengan tinggal mandiri di rumah kontrakan. Pertama di Melbourne tahun 2016, di Kupang tahun 2017 dan mulai Mei 2018 ini di Jogja.

Jadi hampir setiap tahun belakangan ini, kami harus melewati masa-masa berpusing ria mencari-cari info kontrakan, menghubungi mereka yang memasang iklan, bertanya-tanya, melakukan inspeksi rumah, mengambil keputusan (yang biasanya dengan cepat) dan lalu pindah. Belum lagi membeli barang untuk mengisi rumah. Karena pindahannya antar benua, antar pulau yang sangat berjauhan, tidak mungkin barang-barang kami kirimkan. Alhasil, barang di Melbourne kami hibahkan sedangkan barang di Kupang sebagian dijual kembali, sebagian lagi nitip di rumah orang tua saya. Untuk di Jogja, kami baru saja mulai hunting beberapa barang. Per hari kemarin kami sudah meninggali rumah tersebut.

Apakah melelahkan…

Catatan Buku Kuning

Percaya atau tidak, sampai hari ini saya masih menulis ala-ala di buku harian. Tulisan itu umumnya adalah hal-hal yang tidak dapat saya bagikan di blog. Senang saja, jika kemudian satu atau dua tahun setelahnya, saya membaca kembali tulisan-tulisan tersebut, seperti kembali berjalan ke lorong waktu, mendalami perasaan yang nyata saat itu.

Namun tentu saja, buku tersebut tidak bisa saya bawa kemana-mana. Resiko hilang atau terbaca orang lain itu cukup besar. Di satu sisi, banyak ide yang tiba-tiba muncul saja saat saya di kantor atau di perjalanan. Untuk itu, biasanya saya tulis di buku catatan kecil yang selalu saya bawa. Buku itu berwarna kuning. Itu alasan saya memberi judul di atas.
Saat saya baca-baca lagi tulisan-tulisan absurd di buku kuning itu, saya jadi ingin mengabadikan di blog. Tulisan yang tentu saja tidak pribadi untuk saya bagikan

*Bagaimana dapat satu warna spesifik bisa membuat satu, dua, tiga atau lebih percakapan yang muncul. Mungkin memang seperti itu karena sederh…

Percakapan Dengan Driver Gojek

Semalam, saya dan teman-teman lembur mengerjakan pekerjaan kantor di sebuah cafe. Kami baru selesai sekitar jam 11 malam. Saya memesan gojek (goride). Saya lihat di peta, masih banyak motor hijau bertebaran di sekitar tempat itu. Sedikit terkejut karena walau sudah malam, harganya masih tetap 4ribu untuk jarak 2.6km.

Saat di perjalanan, pak driver menawarkan untuk saya mengisi gopay. Saya menolak karena baru tadi saya mengisi gopay lewat mobile banking. Dia menjawab 'ohh' dan terdiam. Saya menangkap sedikit rasa kecewa, lalu saya berubah pikiran, 'Boleh deh pak, saya isi gopay-nya'. Dia menyambut dengan ceria.

Saya kemudian bertanya, biasanya sampai jam berapa? Dia bilang: tidak tentu. Biasanya jam 11 dia sudah pulang, tapi ini tanggung karena poinnya kurang dua, makanya dia menawarkan saya mengisi gopay agar dia mendapat poin.

Hal ini cukup menyentak saya. Mengisi gopay lewat mobile banking memang memudahkan buat saya, tapi tidak memberi keuntungan buat orang lain. Ba…