Friday Blogging #1

I decided to write every Friday on this blog. Perhaps by doing it I can consistently write something here. I think writing in English will also help me not to forget my writing skill. However, my weakness is always my grammar.So, pardon my broken engkish and please focus only on the content.

Yesterday, we moved to a new house. My husband and I have decided to rent a house since we came back from Melbourne. But looking a new house in Kupang is so tricky. In Melbourne, we also had same issue about moving. Somehow it’s easier to find a house in Melbourne. Because there were so many options, a range of helpful websites, and even agents! But in here, we only rely on the advertisement on the newspaper. Fortunately, in one occasion, Yosua met our friend, and he told us a house in front of his house. The house is close with the main road and close to the city center as well, which is my main consideration if we want to rent a house.

So after living in a (quite expensive yet comfortable) boarding house we moved to a large (and still cheap) house. My beloved father helped us to move. He came with me from SoE. We even brought a bed, chairs, and plastic table from SoE. Thank you, Papa. Dad looked satisfied with this house. It has 4 bed rooms, and a big big living rooms. It is suitable to be an office actually.

Then three of us, went to several places to buy things. A fan (for sure, since everyone knows how hot Kupang is), a cup board, other things to complete the house. And then we went to the old house to get our stuffs.

It was a pleasant journey. And thank to Father who is always happy to help his children. Ahh, the old man with a good heart.

Yesterday, we also experienced a not so good thing. So when our car was turning to a store, a motor cycle came and crushed the car. The motorcycle was so fast; he didn’t notice that we made a turn. Fortunately, he was ok. Fortunately, he used a helmet. But dad’s car had scar and the lamp was broken. People were coming and commenting and watching what dad would do. Some people even told dad to asked the rider to take responsibility of what he has done. Father stayed calm, while more people came to watch. He forgave the rider and showed him the car. The rider cried louder. Maybe he was shock and afraid.


A lesson for all of us. For the rider to always take care. For us to not too into things. To not love badly the thing we own and make us forget what humanity is. For the people who watch, so they know that calmness can also solve things.


For me, to love my father more.
[ selengkapnya... ]

SEBAYA FSP

Semenjak masih di Melbourne, saya sebenarnya gerah jika ditanyai, ‘Nanti balik ke Indo kerja di mana?’ Bukan karena tidak mau berbagi rencana hidup, tapi saya sendiri waktu itu masih bingung mau kerja di mana. Dalam hati kecil, saya sudah tahu hal-hal apa yang pasti akan saya nikmati jika saya lakukan. Tapi kan hidup tak semudah, saya bilang ke suatu institusi bahwa, ‘Hey, ini beta mau bikin ini, lu gaji beta do.’ Dan saya pun belum bisa seekstrim teman saya Dicky Senda yang mengusung konsep Social Enterprise bernama Lakoat Kujawas yang saat ini sudah seterkenal ini padahal belum setahun. (slow claps + standing ovations for Dicky!).

Makanya ketika awal Desember saya melihat postingan bahwa Australia Global Alumni menawarkan dana hibah kepada para lulusan lewat Alumni Grant Scheme, saya langsung ‘klik’ di hati untuk mendaftar, padahal waktu itu masih mahasiswa :D. Ini kesempatan saya untuk melakukan hal yang saya inginkan dan ada yang mendanai!

Jadilah saya mendaftar di hari H deadline yaitu akhir Januari 2017. Sementara itu di bulan yang sama saya mulai bekerja di satu NGO untuk periode yang pendek. Benang merah antara bekerja di tempat yang cukup professional ini saya belajar banyak tentang hal-hal manajerial. Sehingga ketika bulan Maret saya ditelpon bahwa proyek saya lulus, setidaknya saya sudah ada sedikit skill.

Dua puluh lima penerima dana hibah ini kemudian mendapat pelatihan selama 2 hari pada 17 dan 18 Maret kemarin di Jakarta. Senang rasanya bertemu dengan orang-orang hebat dengan project yang luar biasa. Sempat merasa minder karena proyek saya sepertinya terlalu sederhana, hehe.



Jadi project saya tentang apa?

Judulnya adalah : Sexual Reproductive Health Peer Educators for Adolescents in SoE, NTT.

(lengkapnya di sini)

Mengapa? Karena masalah remaja berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas itu kian hari kian beragam. Sedangkan pendidikan tentang hal ini masih amat sangat kurang. Belum lagi, kesehatan reproduksi dan seksualitas itu berkaitan banyak hal dengan gender, konstruksi sosial, citra diri remaja, akses informasi dan layanan kesehatan dan lainnya.

Sehingga, saya berpikir untuk membuat suatu pelatihan bagi remaja yang membahas isu-isu ini secara menyeluruh.

Tentu saya tidak bekerja sendiri. Tim saya ada Randi, Nansi, Yosua dan Rini. Saya membagi ide ini ke mereka saat saya sudah tahu bahwa saya lolos mendapat dana hibah ini J. Karena empat dari kami adalah anggota Forum SoE Peduli, supaya bisa ‘mengangkat’ nama FSP kami pun menamai proyek ini SEBAYA FSP. Sebaya sendiri berarti rekan dan teman. Berharap remaja dapat menerima kami sebagai teman mereka yang bisa dipercaya membagikan informasi tentang kespro dan seksualitas.

Kami juga bekerja sama dengan KPA NTT dan juga Youth Center Tenggara PKBi yang terlebih dahulu terjun di isu kespro remaja.

Saat ini kami tengah menyusun modul untuk pelatihan. Semoga semuanya bisa berjalan dengan baik!



[ selengkapnya... ]

Kelas Berburu Beasiswa dan Belajar Bahasa Inggris (BERBASIS) dari FSP





Terima kasih untuk desainnya, Randi :)


Forum SoE Peduli (FSP) di awal 2017 ini mengadakan sebuah kelas untuk berburu beasiswa dan belajar Bahasa inggris. Kami menyebutnya sebagai kelas BERBASIS. Tujuan dari kelas BERBASIS ini adalah sebagai tempat sama-sama belajar dan bermimpi bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah dengan memanfaatkan beasiswa yang ditawarkan. Dan juga ada kelas Bahasa inggris untuk siapa saja yang mau melatih kemampuan Bahasa Inggris.

Pertemuan perdana Berbasis

Kelas BERBASIS dimulai pertama kali tanggal 21 Januari 2017 dan sampai tanggal 15 April kemarin sudah 7 kali diadakan. Kelas ini diadakan dua minggu sekali. Tempatnya, kami meminjam ruangan di kampus STKIP SoE.

Sejauh ini, saya melihat antusiasme yang cukup besar dari teman-teman. Terbukti dari 4 pertemuan pertama, kelas kami dihadiri oleh hampir 30 orang setiap pertemuan. Beberapa selalu setia hadir setiap pertemuan, beberapa hanya datang sekali atau dua kali. Tapi tidak apa-apa, tidak ada tekanan atau kewajiban untuk selalu datang. Jika dirasa ini penting, maka silahkan saja datang dan bergabung J.

Yang membuat senang, beberapa adik SMA juga selalu datang bergabung. Mereka datang untuk belajar Bahasa Inggris. Kelas Bahasa Inggris kami selalu diupayakan supaya menyenangkan, dan lebih banyak aktif berbicara.

Sabtu 2 minggu lalu, kelas kami kedatangan tamu dari USA. Namanya Miss Crystal yang sedang mengajar Bahasa Inggris di salah satu SMA di Kupang. Saya melihat, semua teman terlihat antusias berbicara dengan Crystal. Crystal membimbing kelas Bahasa inggris bersama anak SMA. Kelas beasiswa saat itu mengadakan perbincangan melalui skype dengan kak Alfredo Kono (PhD student di Iowa University). Setelah semua kelas berakhir, teman-teman di kelas beasiswa masih bercakap dengan Crystal selama satu jam lebih. Semua tampak menikmati kelas dua minggu lalu. Minggu ini kami belajar Bahasa inggris bersama, mulai mempraktekkan tenses yang sederhana, disambung dengan belajar toefl part listening.

Senang bisa bertemu dengan teman-teman yang bersemangat dan berani bermimpi. Tinggal di kota kecil, SoE bukan berarti kita tidak punya kesempatan untuk melihat dunia lebih luas ;).

Jadi buat siapa saja di SoE yang ingin bergabung dengan kelas BERBASIS kami, maka silahkan saja datang di STKIP SoE setiap hari Sabtu dua minggu sekali pukul 4 Sore.

Untuk pengumuman lebih lanjut, silahkan bergabung dengan group facebook BERBASIS.





[ selengkapnya... ]