Mengapa fokus kuliah ke kesehatan perempuan dan gender

Percaya tidak, saya sudah 15 menit menatap layar laptop yang memperlihatkan laman blog post kosong. Bukan tidak tahu mau menulis apa, tapi bingung mau menumpahkan apa saja. Ada banyak ide yang lompat-lompat di kepala, bersamaan dengan sudah begitu banyak informasi yang saya serap pagi ini.

Biasanya kalau seperti itu, ide yang paling kuatlah yang akan mencuat. Kali ini saya ingin bercerita tentang mengapa akhirnya fokus kuliah saya pada women's and gender health. Padahal awalnya saya ingin konsen ke Epidemiologi.

Memang betul, semakin banyak membaca, semakin banyak mendengarkan kuliah, berbicara dengan orang yang punya banyak ilmu dn pengalaman, mau tidak mau wawasan kita akan semakin terbuka. Secara otomatis, pikiran pun semakin terbuka untuk menampung hal-hal yang baru tersebut. Namun bersamaan dengan itu, kita semakin merasa bahwa kita tidak tahu apa-apa. Menurut saya, itu tanda yang baik untuk kita mau mengeksplor lebih banyak lagi.

Jadi waktu saya kuliah kedokteran, saat mempelajari penyakit atau bahkan ketika belajar kesehatan masyarakat hampir tidak pernah disinggung tentang gender. Padahal sering sekali para dosen menyebutkan tentang sex sebagai faktor resiko suatu penyakit. Contohnya, penyakit jantung banyak ditemukan pada pria. Tapi terus, fakta ini menunjukkan apa? Ok, mungkin ada yang juga lebih lanjut mengatakan, karena pria itu lebih banyak merokok (pun kalimat ini belum bisa menjelaskan apa-apa), tapi lebih sering dikatakan hal itu terjadi karena 'unknown' faktor. Kebanyakan mahasiswa digiring pada opini bahwa faktor genetik itu memainkan peran besar untuk menjelaskan 'unknown' faktor tersebut.

Padahal kalau mau kita ulas leih dalam lagi, banyak sekali faktor-faktor yang menjadi social determinants of health. Mulai dari yang lingkup personal seperti umur dan sex, juga lingkup lebih luas seperti faktor biologi, sosial dan lingkungan, dan faktor yang jauh lebih luas seperti pekerjaan, rumah, komunitas, pendidikan, gender, politik, budaya, ekonomi dan lainnya. Faktor predisposisi ini mungkin ada yang juga disebutkan ketika kita membahas suatu penyakit. Tapi jarang kita membahasnya sebagai intersection yang saling berkaitan erat satu sama lain.

Contoh ke penyakit jantung tadi yang katanya lebih banyak diderita oleh laki-laki. Laki-laki yang mana? Mereka tinggal di mana? Pekerjaannya apa? Budayanya apa? Aktivitas mereka apa? Mereka banyak merokok karena apa? Di negara mereka regulasi merokok itu seperti apa? Dan lainnya. Hal-hal ini sering sekali luput ketika berbicara tentang penyakit dulu ketika saya masih kuliah kedokteran.

Di sini, saya mendapati bahwa hal-hal seperti ini penting sekali untuk dipelajari. Bagaimana kita berharap untuk merubah perilaku sehat seseorang atau suatu kelompok, kalau kita sendiri tidak mengerti faktor-faktor bawaan dari orang atau kelompok tersebut yang mempengaruhi mereka dalam pilihan hidup sehat (ataupun tidak sehat).

Itulah mengapa saya tertarik untuk melihat kesehatan masyarakat dari sudut pandang ilmu sosial.

Kenapa fokusnya ke kesehatan perempuan dan gender?
Bagi saya, kesehatan perempuan itu masih harus menjadi fokus perhatian. Dibanyak tempat, terutama di setting negara berpendapatan rendah dan menengah (termasuk di beberapa daerah di Indonesia), perempuan mengemban tanggung jawab jauh lebih besar dari laki-laki di rumah tangga. Perempuan harus mengurus anak, mengurus keluarga dan ikut bekerja. Keputusan dalam keluarga masih dipegang oleh laki-laki. Dan pastinya ini akan berpengaruh ke banyak hal termasuk kesehatan.

Kenyataan bahwa perempuan ditakdirkan memiliki rahim pun akan banyak menimbulkan masalah kesehatan yang tidak akan dialami oleh laki-laki. Seperti resiko untuk hamil (padahal tidak direncanakan), resiko kematian saat melahirkan dll.

Perempuan hidup lebih lama dari laki-laki. Tapi kelebihan umur perempuan ini tidak sejalan dengan kualitas hidup mereka. Karena akan sejalan dengan faktor-faktor seperti ketergantungan finansial, penyakit degenaratif, kesehatan mental.

Tapi pembelajaran saya tidak hanya tentang perempuan saya tapi juga gender. Gender disini diartikan sebagai konstruksi sosial yang dibentuk oleh masyarakat dalam hal mendefinisikan pria dan wanita. Norma tentang perempuan dan laki-laki ini juga akan banyak berhubungan dengan kesehatan. Contohnya, laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung keluarga, sehingga mereka lebih banyak bekerja di luar, sehingga resiko mengalami kecelakaan lalu lintas lebih besar. Atau, laki-laki diharapkan tumbuh kuat dan tegas sehingga di beberapa society (termasuk misalnya Timor) kekerasan terhadap perempuan dan anak itu dianggap 'wajar'.

Secara personal, alasan saya ingin lebih belajar mengenai kesehatan perempuan dan gender adalah karena selama saya kerja hampir 3 tahun, kebanyak orang yang datang periksa di saya adalah perempuan. Mereka datang dengan banyak cerita. Namun, seringkali saya tidak dapat 'menangkap' fenomena apa yang terjadi di balik cerita tersebut, karena kurangnya pengetahuan saya tentang hal ini. Setelah belajar di sini, saya semacam ingin mengulang kembali masa kerja saya dulu. Semoga ada kesempatan berikut.
[ selengkapnya... ]

I know i will miss this someday

I am writing this, when i am supposed to finalise my research project. You must have guessed it right, it is because my chronic procrastination habit. Yeah, it's so dangerous, people!


But remembering that i only have less than 2 months to worry about my academic life here makes me  feel so sad. I think i will easily cope with the fact that i will leave Melbourne, this beautiful city. I think, it will be not too hard to be back again as a woman who lives in a village. It must be tricky, but i know i can survive. However, thinking about leaving this academic atmosphere is so dificult. I already know from the very first day i came to this university, that i will enjoy this learning culture. You know, the feeling when you are seeing people with their serious faces walking so fast with a big back pack, or looking at an old woman reading book so serious at the library, or people are talking with their hands waving at the discussion room with a big screen showing their presentation task. I will miss the fact that when i am curious about one thing, i can easily access the google scholar and then when it is a paid journal, i just need to copy paste the title to our online library, and voila! it's there.

I will miss when i have nothing to do at the evening, i just access events.unimelb.edu.au and i will find many interesting discussion or show going on at the university, so i can choose to attend one of them.

I will miss going to the seminar and we don't have to talk with people. Or even if we talk, we will talk about the content of the discussion. So i don't have to put more effort when it comes to chit chat or small talk.

I will miss finding my kind of species easily around the uni. Well, i mean those who look so serious, alone, with their 'thinking mode on' face.

I will miss when i can sit down on the grass, under the sun, or at the garden alone, or enjoying a cup of coffee by myself at a cafe without bothering people will stare at you as you are an alien.

Somehow, Melbourne is a definitely cool city for an introvert :).

Or now, when i live with my partner, i will miss the time we walk together around the city. Only walking and talking.

It's not about the glamorous city or the party or the dynamic life i will miss the most of this city, it's about how this environment acknowledge people like me to enjoying being alone or solitude.

But maybe, there are other place like Melbourne. I just have to discover. And for this reason, i silently pray and dream if only one day i can find the similar atmosphere in different part of the world. *fingers crossed*

Melbourne, 2016
[ selengkapnya... ]

Perempuan yang membeli bunga untuk dirinya sendiri

Tahun kedua tinggal di Melbourne belum membuatku terbiasa dengan kota yang dikenal mempunyai empat musim dalam sehari. Jangan pernah lupa membawa payung dan cardigan atau layer saat keluar rumah, karena kamu tidak akan pernah tahu perubahan cuaca seperti apa yang akan terjadi sejam selanjutnya. Lebih lagi sekarang bulan September. Entah hanya di Melbourne atau juga terjadi di tempat lain di Australia, perubahan antara musim dingin ke musim semi selalu ditandai dengan hujan terus menerus. Biasanya hujan hanya terjadi beberapa jam saja, tapi akhir-akhir ini dari pagi sampai sore selalu hujan. Seperti juga hari Selasa ini.

Baiklah aku harus mengakui bahwa walaupun aku seorang penikmat hujan, dan beberapa kali menulis terinspirasi dari hujan, tetapi dari segi kehidupan akademik, hujan adalah musuhku. Hujan membuat mengantuk. Hujan membuat sering lapar dan tak bisa berkonsentrasi belajar. Hujan membuat kemulan di tempat tidur menjadi berlipat-lipat ganda nikmatnya.  Apalagi saat itu suhu di luar 9 derajat celcius, masih tergolong dingin untuk musim semi. Tentu saja itu tidak baik untuk seorang pelajar sepertiku, yang sedang didera beberapa deadline tugas. Tapi, siapa yang bisa menangkis kekuatan magis hujan? (Ya aku tahu ini pembenaran untuk menunda-nunda. Selalu akan ada alasan untuk menunda membereskan pekerjaan).

Walaupun malas dan enggan, toh pukul 3.30 sore aku mandi juga. Percayalah, walau flatmu dimanja dengan fasilitas shower dengan pilihan air panas dan air dingin, tetap saja mandi di saat hujan dan menggigil buatku adalah prestasi yang butuh usaha. Kadang di hari termalasku di mana aku tak mengahasilkan apa-apa, aku menenangkan pikiranku dengan berkata, ‘setidaknya kamu mandi hari ini. Dan itu termasuk hal besar. Kamu harus berbangga dengan diri sendiri’. Ha! Sekarang kamu tahu bahwa selain malas, aku juga naif. Kembali ke pembicaraan, sore itu aku ada janji dengan seorang teman untuk bertemu di kota. Dia harus menempuh perjalanan satu jam lebih memakai tram dari Bendoora. Sedangkan aku cukup jalan kaki sekitar seperempat jam.

Kita bertemu di café Brunetti yang terletak di Swanston street. Café Italia ini cukup terkenal dan otentik di Melbourne, walau mungkin bagi pecinta kopi mengatakan bahwa tempat ini terlalu umum dan mainstream. Para pecandu kopi tentu akan menyarankanmu untuk mencoba kopi di sudut-sudut lain kota yang tempatnya tidak ramai dan kamu bisa langsung bercakap dengan baristanya. Tapi, tak mengapa, menurutku kopi di sini juga enak dan kue coklatnya pas untuk menemanimu bercakap dengan teman. Saat aku sampai di sana, temanku itu sudah datang. Aku melihat satu buket bunga terletak di atas meja. Dia menyambutku dengan hangat sambil menanyakan kabarku. KArena melihat arah mataku dia mengatakan, ‘aku baru saja membeli bunga di depan Melbourne town hall.’ Kuamati bunga tersebut. Rangkaian bunga rose berwarna putih dan merah muda yang cair. Dibungkus dengan kertas berwarna merah darah dan dipercantik dengan pita merah. Spontan kucium bunga tersebut sambil menutup mata. Aroma bunga yang segar masuk ke sensori hidungku dan menyebar ke serabut saraf lainnya yang spontan membuatku tersenyum. Melihatku berekspresi seperti itu temanku berkata, ‘Aku ingin membahagiakan diriku dengan membeli bunga. Dan lagi, aku juga selalu suka toko bunga yang tadi itu. Bentuknya unik dan indah.’

Toko bunga yang dia bicarakan itu terletak di pinggir jalan utama jantung kota Melbourne. Tokonya berwarna hijau dengan ukiran-ukiran yang cantik di tiang maupun badannya. Bermacam bunga dijual di sana dan selalu segar. Bunganya ditata diluar dengan rapih. Temanku ini menambahkan, ‘Bukankah sore selepas hujan menjelang malam adalah waktu yang paling tepat membeli bunga?’ Aku ikut tersenyum sambil berangan, ‘Sepertinya aku sendiri belum pernah menghadiahi diriku serangkai bunga.’

Kita lanjut bercerita sambil aku menyeruput secangkir mocca dan dia menikmati segelas cappucino. Tak lama temanku memesan beberapa potong kue coklat untuk kami berdua. Kami duduk di luar café yang juga dilengkapi penghangat, tapi pun masih bisa merasakan semilir angin dingin dan mencium bau rumput segar selepas ditiban hujan seharian. Di meja-meja sebelah kami tampak beberapa kelompok yang juga sedang menikmati kopi mereka. Dua orang teman sepulang kerja yang sedang bercerita, sepasang muda-mudi yang saling memeluk, seorang kakek dan nenek yang membawa payung besar, empat orang berbahasa timur tengah saling tertawa lepas, semuanya menikmati Selasa sore setelah hujan di bulan September. Seorang pengemis laki-laki berambut putih datang mendatangi kami. Dia membawa kertas di dadanya berisi nama dan alasan dia mengemis. Dia meminta uang kembalian. Di sini kalian mungkin bingung dengan terminologi yang saya pakai. Karena para pengemis di sini umumnya berkata, ‘can you give me change?’ atau ‘do you have change?’ yang mana kalau diterjemahkan menjadi uang kembalian atau mungkin dalam Bahasa Indonesia, lebih tepat disebut, ‘uang kecil’ atau koin. Mungkin suatu saat aku akan menulis tentang para homeless di sini. Namun menulis tentang hal sensitive dari kacamata aku yang tidak tahu apa-apa tentang kota ini tentu bukan hal yang bijak juga. Sudahlah, toh saat ini aku sedang fokus mengangkat bagaimana seorang perempuan bisa menyenangkan dirinya sendiri tanpa menunggu orang lain atau pangeran berkuda putih menciumnya dari tidurnya yang panjang.

Kami bercerita kesana dan kemari. Kopi kami sudah mencapai dasar, dan kue coklat tinggal remahannya. Tetapi bunga putih dan merah muda yang dirangkai dibungkus kertas dan pita merah darah tetap menemani kami seolah ikut mendengar dengan seksama percakapan dua perempuan berumur 20an akhir. Aku menambahkan kata akhir setelah kata 20an, karena tidak seperti usia 30an atau 40an, bagi seorang perempuan pada umumnya, ada perbedaan cukup signifikan dari cara memaknai hidup dan menghidupi hidup ketika berumur 20an awal dan 20an akhir. Di masa 20an awal, seorang perempuan merasa dia sudah dewasa dan bukan lagi remaja. Dia sudah bisa menentukan banyak hal dan hidup dan merasa paling tahu tentang dirinya sendiri. Pada prosesnya kemudian, ada banyak hal yang terjadi hanya dalam selang beberapa tahun berikutnya. Entah itu patah hati yang dahsyat, dikhianati sahabat, tidak direstui pilihan oleh orang tua, berpergian ke tempat baru, mengenal budaya baru, berkenalan dengan komunitas baru yang membuka pikiran, melanjutkan sekolah lagi ke pilihan yang dipilih berdasarkan hati, mencintai lebih hebat, dan lainnya, yang kemudian membuat perempuan ini di akhir umur 20an merasa dia masih butuh waktu untuk mempertajam dan memperkaya diri sendiri. Bukan soal materi, tapi soal kebutuhan jiwa. Dari yang merasa paling tahu kemudian merasa paling kecil dan ingin lebih banyak lagi mengeksplore. Setidaknya itu yang saya dan beberapa teman dekat rasakan.

Sudahlah, aku kembali melantur. Malam itu, kami melanjutkan perbincangan seru kami di sebuah restoran di Lygon Street. Dan bunga ini terus menemani. Mungkin aromanya, mungkin warnanya yang menenangkan, mungkin karena dia dibeli oleh seorang perempuan yang mengapresiasi dirinya sendiri, sehingga bunga itu dengan caranya sendiri membius kami dalam obrolan-obrolan beragam yang tidak membosankan.

Kami pulang dengan perut kenyang dan senyum mengembang. Kami berpisah, dia membawa pulang bunganya dan aku menyimpan tekad untuk menuliskan ini setibanya aku di rumah.

Selasa malam di bulan September di kota ternyaman di dunia 5 tahun terakhir setelah hujan seharian ini berakhir dengan manis dan santai. Aku menikmatinya. Dan aku juga perempuan ini pun menikmatinya.


Melbourne, 2016
[ selengkapnya... ]

1st September 2016

Welcome Spring,

I woke up in the morning, and then i did meditation after that i practiced Yoga and i read a book and.... (well guys, i am kidding). I always wonder how peaceful my life will be, if i can be like that every day :p. However, the reality is:

I woke up in the morning, and like millions of people out there who have been controlled by social media, i unconsciously (remember this is unconsciously, so blame my subconscious mind) opened Facebook, instagram and twitter from my iPhone, and then Facebook kindly welcomed me with the sweet notice about spring is officially started.

This makes my feeling mixed. On the one hand, i love spring, i love the colourful flowers, i like the blossom trees, i like the weather, i like the fact that i don't have to wear so many layers when i am going outside the house and so forth. But on the other hand, it reminds me that i only have less than 4 months in Melbourne. Gosh,,, where does the time fly?

But well, i think writing about wondering why the time is moving so fast will be not a good solution. The best i can do is to appreciate what i am doing in the meantime. To try to make this limited time becomes more valuable. On the other words, try the best to live the life to the fullest.

Well guys the words above you can find it a lot in google or in the inspiring books from inspiring people. It sounds so cliché. It is so true but honestly it's quite challenging to apply consistently.


Those words popped up in my mind just after i realised that i only have few months here. So basically, i should get up and do this and that. Or go to the places i always want to go in Melbourne. Or maybe just simply walking at the garden. But then the korean drama stopped all my beautiful plans :D. i feel the urge to finish what i have started two days ago (sounds so responsible).

At the end of the day, i don't regret what i did today. I didn't study. I didn't reply emails. I didn't do this and that. At least, today i cooked, i went to buy groceries and then i spent the evening with Yosua walking around the city and ended up in the coffee shop. All is good.

we still need plain water to enjoy the hot chocolate. Life may be like that as well (for me).  I still have to keep my unimportant activities to balance the exciting part of my life.
I used to live my life with high motivation to not waste my time, blah blah blah. If you read my blog like 4 or 5 years before, you may notice the differences in how the content of this blog changed.

But i do enjoy it. I still enjoy reading these motivational posts, which you can read under the label 'inspirasi', 'lifelesson', or some in 'lintas pikiranku'. i like it. I acknowledge how me, Sandra, went into the process, which still on going. I may change the way i write later in the next 5 years or so. I may come back to who i am in the past 5 years. And it's ok. That's life. And for the narcissistic, selfish person like me, i am pretty proud of my self.

I think self appreciation is good. Even the most important thing is not the appraisal moment, but the reflection process. It's easy to find the beautiful part in my life and admit it on the public. But it's surely difficult to be aware of the dark side of mine.

So what is the point of this post?

I don't know. I just want to leave trails in this beautiful date.

i will write soon about things that i never dream of. But then it happens like durians fell down. :p

But later.

This night, i am writing this post at the edge of the bed, seeing my roommate (read: husband) sleep peacefully (because the only time he can be in the peaceful state is when he is sleeping or maybe in the class, but most of the time when we are together, he can't be that peaceful, you know what i mean. Yes, i am that annoying (sometimes)), i only want to take a deep breath, and say thank You.

Yes, thank You (for You that deserve the capital letter). I am so grateful with the way You plan my life. Thank You.


I want to say sorry for not doing my best. But then i know You must be smiling, because i keep saying the promise, but never make it true. Even i know, You are waiting ;).

After all, life is good.


197 Peel Street, September 2016
[ selengkapnya... ]

Eureka Skydeck

Akhirnya berkesempatan juga naik ke atas gedung yang diclaim tertinggi di Australia. Sebenarnya kalau menurut wikipedia Eureka Tower itu berada pada nomer umur kedua setelah Q1 (Queensland number One). Tapi jumlah lantai di Eureka jauh lebih banyak yaitu 91 (atau ada yng bilang 88) lantai. Sedangkan di Q1 78 lantai. Eureka terletak di southbank, di kota Melbourne. Bisa dicapai dnegan menggunakan free tram zone.

Untuk masuk, kita harus membeli tiket seharga AUD 20. Tapi saat itu saya belinya satu tiket AUD 9, karena pas lagi harga promo. Supaya sampai ke atas, kita ngga harus naik tangga ( ya iyalah yaaa), tapi naik lift dnegan kecepatan super, yang untuk mencapai lantai 88 hanya butuh 38 detik! Pokoknya sensasi nya mirip kayak pesawat baru mau terbang atau pas landing.

Di atas, yang dilakukan ya.... foto-foto aja sih :D. Sambil romantisan menikmati sunset juga bisa. Saya langsung kasih foto-fotonya aja ya. Website resmi Eureka silahkan klik di sini







really love this pic!






All pictures are taken by: @josuanatanael (instagram). Not allowed to copy without permission. :)

[ selengkapnya... ]

Jalan-Jalan ke Mount Buller

Ada yang bilang, kalau winter di Australia terutama di tempat-tempat dingin kayak di Tasmania, Canberra, Melbourne, Adelaide itu agak rugi, karena di sini cukup dingin tapi tidak turun salju :D. Mentok-mentok yang turun itu hails atau hujan es. Tapi di beberapa gunung untungnya turun salju dengan volume yang cukup banyak sehingga bisa dipakai main-main salju semacam skiing, snowboarding, atau yang paling sederhana tobagoning.

Di Victoria sendiri, ada beberapa gunung salju. Yang saya tahu itu ada Mount Buller, Mount Lake dan Mount Baw-Baw. Taun lalu saya bersama teman-teman gereja kami ke Mount Lake.

Tahun ini, yosua dan saya pergi ke mount Buller bersama teman-teman kampus lainnya. Kami memakai jasa travel funaddicts. Banyak sekali agen tour yang menawarkan paket untuk ke mount buller. Dan umumnya untuk high season selama winter bisa diakses setiap hari. Di mount buller sendiri banyak sekali penginapan, resort dan apartemen. Memang sepertinya menyenankan jika bisa tinggal beberapa hari di sana, yang berarti main salju sepuasnya.

Perjalanan dari victoria ke mount buller sekitar 3.5 jam. Cukup jauh, tapi tidak membuat pusing seperti kalau jalan dari Kupang ke Kefa :D.

Di mount buller kami berdua tidak sempat mencoba main ski. Padahal, Yosua sangat ingin. Alasannya karena peralatan sewanya yang cukup mahal -___-. Ya sudahlah, saya meminjam perkataan dari Coelho yang berkata, kalau pergi ke suatu daerah, sisakanlah satu atau dua aktifitas atau tempat yang tidak dilakukan atau dikunjungi. Dengan begitu, ada keinginan (atau motivasi) dalam hati untuk kembali mengunjungi tempat tersebut. Walau demikian, untuk seseorang yang baru saja memegang salju, Yosua cukup menikmati waktu di mount buller. Berikut foto-fotonya :D
Ini tempat bis-bisa dan mobil-mobil parkier. Dari sini, kita berangkat pakai shuttle bis gratis yang disediakan dari mount buller untuk ke area utamanya.


Tempat belajar ski yang level mudah. Mereka juga menyediakan pelatih untuk yang baru mau belajar.

Bisa juga tuh naik sky line untuk menikmati gunung dari atas :)


Sadar kamera banget, dek :D

Ini tempat ski atau snow board yang level menengah. Di sini agak sepi



Tempat main tobogan. Buat yang ngga bisa ski, ngga bisa snow board, meluncurlah dengan tobogan

Kayaknya kalau disiram sirup ABC rasanya lebih nendang deh, mas

Resort cantik

Ada beberapa stopan bus. Karena daerahnya cukup luas



Dingin banget yang pasti kalau pas kabut dan hujan kayak gini.
[ selengkapnya... ]

The 500th post

For someone who easily gets bored with something, this is hilarious. I never imagine i can be this consistent if it comes to writing a personal journal. Then i remember, since i was 10 years old, i used to record my life in a diary and then moved to blog.

Well, i should admit that. in this two months, i don't write here as much as i used to. The reasons are firstly, i am trying to write in a note book now and somehow i feel like i am more free to express my thought in that book. I mean, i don't have to worry about how people will interpret what i write. I don't have to bother with the feeling like, 'hmmm i think this is to personal for strangers to read' or else.

Secondly, in this digital area, no, let me edit, in this social media area, things that used to be so valuable, thoughtful, mindful, and so on and so forth are regarded less. I hope you get what i mean. In one day, if you open Facebook, instagram and twitter, you will see and read tons of wise words and pictures etc. It's just too much. And many times its not related et all. For instance, a picture showing someone is laughing while running in the beach with the background crystal clear blue sky and the caption is like wisdom words to encourage people to be happy and enjoy life and be thankful. Well, this was good. This was so motivating before. But imagine everyday you see the similar posts from different people, with quite similar words. How will you feel? You will start to speak in your mind while you scrolling the phone, 'come one Mario Teguh wanna be, just make your caption as simple like, '(insert the name of the place) and how do you feel about the place. The end' :D Well, at least i feel like that. I used to be like that (maybe) until i found how irritating it is when i become the audience. So that's why i decided to not to post to much in this blog if i think it will not bring any advantages for me or for other people.

Hmmm, let me make it clear. despite not so related pictures and captions, I still enjoy other's (enjoyable, entertaining, informative) posts on social media. This is one of my pleasure activities here. I just want to say that people (like me) who read the inspirational words each day each second, will easily get bored and even don't read it until the last word. Because we see it too much. I would be way much much much better if people write what they feel about something. What this picture of theirs make them reflect. It's totally different with the wise words that people can easily get from google. And somehow, as the audience, we can distinguish it. And for sure it is more enjoyable to read about someone personal reflection. Or like, if you want to post a scenery picture from your holiday, just put the information about the place, how you get there, with whom, how you experience the nature etc.

Well, lets comeback to what is the purpose of this post. I will keep writing in this blog for sure. Maybe, do you have any suggestions what i should write? ;).

G'day mate!

[ selengkapnya... ]

Mencari Akomodasi di Melbourne

Walaupun deadline di depan mata, tapi one blogpost will not hurt you. Hehe. Ini kenapa tiap kali mau menulis blog selalu saja saat mendekati deadline ya? Padahal mau dibilang waktu luangnya banyak. Terus dipakai apa dong waktu-waktu yang berhamburan itu? Browsing kayaknya ya.. :D

Dua bulan terakhir ini, yosua dan saya cukup dipusingkan dengan permasalahan akomodasi. Bukan mencari akomodasi sih, tapi lebih ke mencari tenants untuk menempati dua kamar di atas. Tapi bersyukur, semua sudah beres. Jadi saya ingin membagikan tips mencari akomodasi di Melbourne.

Ada banyak sekali situs, web, Facebook group, yang menawarkan akomodasi di Melbourne. Ini berdasarkan pengalaman saya ya.

1. Lewat Kampus
Saya dapat akomodasi di cardigan street kemaren itu lewat papan pengumuman di kampus unimelb. Di situ banyak ditempel iklan-iklan akomodasi. Biasanya, karena memang yang penawar lebih menginginkan untuk student yang menempati kamar atau rumah mereka. Selain itu, di websitenya unimelb juga ada halaman khusus untuk housing. Banyak juga informasi yang bisa kita dapat di situ.

2. Komunitas Indonesia di Melbourne
Orang Indonesia dimana-mana pastinya erat ya persatuannya. Sama juga kayak di sini. Saya dapat informasi akomodasi di peel street juga dari teman Indonesia. Bisa dari mulut ke mulut, atau grup whatsapp, atau yang paling banyak iklannya adalah milis indomelb di yahoo.

3. Portal-portal akomodasi
Banyak sekali situs yang menawarkan akomodasi. Saya bagi yang saya tahu ya. Jadi kita bisa cari di

Gumtree
Flatmates
Domain
Realestate

Dan masih banyak lagi pastinya. Setahu saya, semua orang baik itu individu maupun agen bisa mengiklankan properti mereka di situ. Kita tinggal menghubungi kontak yang ada untuk merencanakan inspeksi. Biasanya kalau lewat agen, mereka sudah ada jadwal khusus. Dan biasanya banyak sekali yang sekali datang inspek, apalagi akomodasi yang murah dan dekat kota.

4. Facebook group
Nah ini saya baru tahu nih. Dan langsung saya coba untuk iklanin kamar yang di peel street itu, langsung berhasil!
ini nama group-nya. Bisa di cari di Fb

Melbourne rent a room/house/flat/accommodation
Rentals in Melbourne: Houses Apartments Rooms
Melbourne Rooms For Rent
Fairy Floss Real Estate

Saya sangat terbantu sekali dengan web ini. Karena response rate-nya tinggi, yang berarti sangat baik buat kami biar segera menemukan tenant baru. Karena sekali lagi, untuk kota yang begitu hidup seperti Melbourne, dengan banyaknya students, migrants, backpackers, pengunjung, akomodasi (yang affordable) itu sangat diminati.

Semoga membantu!



[ selengkapnya... ]

87

Aku ingin menanyakan apa kabar. Tapi kemudian aku ingat kamu tidak mungkin juga menjawab. Atau mungkin kamu menjawab, tapi telingaku tak mungkin menangkap suaramu.

Aku ingin berkata aku rindu. Tapi sudahlah. Mengucapkan kata rindu hanya akan membuat rindu semakin menjadi.

Aku ingin berteriak aku sekarang sedang baik-baik saja. Lalu aku sadar, kamu sudah tidak tuli lagi. Tidak perlu seperti dulu, kita berteriak sambil mengeja kata perlahan-lahan di sudut telingamu.

Bagaimana, kalau cukup aku bisikkan, 'Selamat hari jadi.'

Sebelas Juli sekarang sudah tidak pernah sama lagi.

Di sana, apakah kamu masih suka membaca buku?


Tertanda,
Cucumu yang dulu sering kamu ajak menemanimu main badminton, naik vespa kesayanganmu.
[ selengkapnya... ]

Hello July

Well, actually i should begin the first post of this month by telling my experience attending Asia Pacific Week 2016 in Canberra. It was a thoughtful, knowledgeable and unforgettable memory which i definitely will keep it on this blog. However, two or things are happening now, and i couldn't get my brain to concentrate to write about the conference.

So this is (as usual) only another random post as i want to organise things in my head.

House in Melbourne.

I ever told you that started this year, i moved to Peel Street, where used to be my first accommodation in Australia before Cardigan Street. This is an old house, and not a perfect house actually, as there are several disadvantages as an old building. But the thing i like about this house is the privacy. My husband and i live at the first floor, and we have our own living room, our own kitchen, bathroom, without sharing with anyone else. For someone (who are unsocialised) like me, this is a big good thing! I mean, i can treat this house like my own home. I can postpone to do the dishes as long as i want, without bothering other's opinion. I can throw my coat at the living room, without thinking about someone else will be mad. I can be who i am once i arrive this house. My husband and i unconsciously have built an attachment with this house. We really enjoy living here. It's still a short period of time but we fell so comfy here. So, when this issue came to us, we are frankly upset. The issue is about the lease extension. We are still working on it. And we really hope, we can still live in there until my graduation *finger crossed*.

Goals

Another thing that ruins my head now (in a good way) are about life goals. The first thing we discussed when we were reunited (after being apart for a week) was about his dream. Basically, i am so happy to hear about his dreams. And the fact that he urges himself to achieve this thing is just awesome! So, then i came up with one suggestion (as i ever read it somewhere) that he and i should make 30 before 30 lists. Then we have like 17-18 months to achieve.

I will update about the list soon.

Well, now let me finish the literature review for my research proposal. *sigh*

I hope you all have a good day.
[ selengkapnya... ]

To Top