Liburan Hari Pertama




Setelah tinggal di Melbourne hampir 2 tahun, akhirnya saya ke Sidney juga :p. Dan ini akan jadi perjalanan antar state pertama kali untuk liburan. Sebelumnya saya pernah ke Canberra untuk mengikuti conference.


Postingan kali ini lebih ke cerita saja ya, dibanding review tempat-tempat (karena emang belum kemana-mana sih).

Yosua dan saya berangkat ke Sidney memakai bus malam. Alasannya karena lebih murah dari tiket pesawat. Waktu itu kami pesan sudah cukup mepet, dan lagi saya juga bukan tipe orang yang rajin memantau harga tiket di internet tiap hari. Pengalaman saya beberapa bulan lalu naik bus ke Canberra pulang pergi cukup nyaman. Saya menikmati. Karena perjalanannya mulus, tidak oleng, tidak berliku. Saya pun cukup sering mengikuti tur wisata dengan bus seharian penuh dan selalu menikmati.

Untuk persiapan, saya termasuk yang suka mempersiapkan sesuatu dengan cukup detil. Sudah bikin list apa saja yang harus dibawa dan disiapkan, beberapa hari sebelumnya mulai packing dsb. Semua rasanya tidak ada yang lupa. Tapi hal yang saya remehkan justru yang terjadi.

Total perjalanan dari Melborne ke Sidney itu hampir 12 jam dengan 2 kali berhenti. Kita berangkat jam 7 malam. Saya tidak bisa tidur selama perjalanan. Cuma tidur ayam saja tidak sampai 2 jam. Masuk jam 5 pagi, bus sudah masuk New South Wales, dan mulai berhenti beberapa kali menurunkan penumpang. Jalanannya pun mulai berliku, diselingi banyak lampu merah. Mungkin karena perut lagi kosong, agak capek, juga bus yang berhenti-berhenti, saya merasa mual dan lalu muntah. Dalam kondisi di tas kami tidak ada satu kantong plastik pun. Sehingga scarf pun jadi korban -___-.

Turun dari bus, masih sangat pagi, jam 6.30. Perut kami keroncongan, juga ngantuk dan saya merasa sedikit pusing. Sedangkan waktu check in ke penginapan itu jam 12 siang. Di sekitar Sidney Central itu belum ada cafe yang buka. Akhirnya berkat bantuan gugel map kami mencari 711. Belum sampai ke sana, eh kok lambung saya beraksi lagi tanpa terkontrol. Saya makin lemas. Akhirnya Yosua yang lanjut mencari 711 (yang untungnya sudah dekat) dan saya duduk lemas di perhentian tram. Pagi itu kemudian kami buka dengan makan pop mie panas. Rasanya sedikit lega. Jam masih jam 7 lewat. Rencana awalnya nih ya, waktu masih di Melbourne, kami pikir walau masih pagi kami ingin mengelilingi kota Sidney dengan nenteng-nenteng ransel sambil tunggu jam check in. Tapi apa daya kondisi tubuh berkata lain. 

Sambil nunggu Pop mie :p

Yosua pun mengusulkan nunggu di taman. Karena pikirnya bakal banyak taman juga kayak di Melbourne, yang setiap blok ada tamannya. Cek gugel map, ada Chinese garden. Kami jalan 1km lebih sampe sana, ternyata tamannya tutup -__-. Jadilah duduk di kursi-kursi ngadep jalan melihat orang-orang lagi berangkat kantor atau olahraga. Duduk di situ sekitar 1.5 jam, saya bahkan sempat tidur dikit. (Ya ampun asli tampang udah ngga karuan). Perut kok lapar lagi. Tapi waktu itu belum jam 9 dan rumah makan (yang sedia nasi) pada belum buka. Jadi kami mutar-mutar bentar trus nekat pergi ke akomodasi kami yang kami pesan lewat AirBnB. Lokasi kami nginap memang di suburb yang sekitar 40 menit naik bus dari kota. Sampai di jalan depan rumah, nekat telpon owner-nya. Untung ya mereka baik. Karena kami dibolehin masuk, walaupun janjian check in jam 12 :').

Syukurlah...

Kami mengganjal perut dengan cupcakes yang dibawa dari Melbourne. Terus karena ngantuk sekali, kami tidur sebentar, lalu mandi, lalu naik bus kembali ke kota buat cari makan. 

Dalam kondisi seperti ini (lapar, pusing, masuk angin, ngantuk, capek), makanan apa yang bisa menenangkan? Yakkk betul sekali, makanan Indonesia! Kita makan di rumah makan Shalom yang terletak di dekat Darling Harbour. Kayaknya terkenal banget ya rumah makan ini. Emang enak sih. Saya suka iga bakar bumbu rujaknya :). Perut kenyang, hati senang, baru deh lanjut jalan-jalan.

Ngga ada yang terlalu istimewa sih hari pertama. Dan memang juga tidak mengharapkan yang istimewa. Justru lebih senang kalau dalam perjalanan tuh belajar hal-hal praktis kayak gini :D.

Masih ada 2 hari lagi di Sidney sebelum lanjut ke state lain. Semoga tetap menyenangkan :).

Earlwood, 30 November 2016

Kamar kami untuk 3 hari ini

[ selengkapnya... ]

Tur (Gratis) ke Wilsons Promontory

Sebelum cerita perjalanannya, saya cerita dulu ya gimana bisa dapat tur gratis ini :). Jadi akhir bulan Juli kemarin, saya iseng mengikuti kompetisi menulis untuk siswa international di Victoria yang diadakan oleh Study Melbourne bekerja sama dengan Melbourne Writers Festival. Bersyukur kemudian saya terpilih jadi finalis, lalu saat pengumuman pemenang nama saya pun disebut sebagai peraih people's choice award. Kalau mau membaca tulisan saya, ada di sini. Beneran ngga nyangka, karena menulis itu saya sedikit terburu-buru, tidak pakai proof read, dan mepet sekali saat deadline-nya (hmm sounds familiar kayak lagi ngerjain tugas :p). Tapi mungkin 2016 adalah tahun keberuntungan saya, karena kemudian lalu saya diwawancara oleh SBS Australia program Bahasa Indonesia juga disebut di sini. Bagi saya ini menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga tentu saja.

Nah salah satu hadiahnya adalah mendapat voucher tour dari Bunyip travel untuk 2 orang. Yeiy, pas dong ya buat saya dan Yosua. Kami memilih paket ke Wilsons Promontory National Park. Turnya itu setiap Rabu dan Minggu. Hari Minggu kami tidak bisa, jadi bisanya Rabu. Tapi selama Rabu semester ini, Yosua ada kelas Bahasa Inggris, jadi baru bebas setelah minggu ke2 November. Kami liat-liat jadwal di kalender ternyata, setelah ini jadwal kami sudah penuh, dan lagi bulan depan kami sudah pulang Indonesia. Satu-satunya yang bisa ya Rabu ini, tanggal 23 November. Sebelumnya kami liat perkiraan cuaca, sudah tidak berharap banyak karena cuacanya di Melbourne dan Wilson prom itu hujan dan berawan. Tapi kata Yosua, 'pergi aja, toh gratis juga'. Iya sih. Benar saja, hari Rabu pagi itu kami berangkat ke tempat travelnya diiringi gerimis mengundang. Sekitar pukul 07.30 bus kecil yang mengangkut kami datang. Kali ini tidak seperti tur yang pernah kami ikuti, bus yang ini kecil berisi maksimal 20 orang. Tour guide sekaligus driver-nya bernama Andrew, yang adalah pensiunan tentara. Andrew itu ramah dan informatif.
The bus

Pemandangan sepanjang jalan

Cuaca yang berawan di selingi hujan menghantar kami ke Wilsons Prom. Waktu tempuh dari Melbourne ke sana berkisar 3 jam lebih. Kami sempat beristirahat di 2 tempat. Saat istirahat di tempat pertama, Andrew berkata bahwa tidak usah khawatir dengan cuaca yang sekarang. Justru kalau dimulai dengan cuaca seperti ini biasanya sampai di atas, cuaca akan menjadi bagus. Waktu itu dalam hati saya meragukan. Karena saya sudah mengecek cuacanya Wilsons Prom dan seharian itu bakalan kelabu.

Tapi ternyata, pengalaman, firasat dan kepekaan itu jauh lebih tajam dibanding teknologi ya :D. Benar saja, hujan berhenti setelah perhentian kedua dan langit pun mulai keliatan :).

Wilsons Promontory itu adalah taman nasional yang begitu luas di Victoria. Dulunya ditempati oleh kaum aboriginal sekitar 6,500 tahun lalu. Wilayah ini (dulu) terkenal dengan tempat penghasil makanan. Saat ini, banyak orang datang ke sini untuk mendaki gunung, berkemah, jalan-jalan, main ke lautnya. Bagi Andrew (mungkin karena tur guide juga ya). Wilsons prom adalah tempat paling indah di Australia. Saya pernah dengar juga sih dari ada teman yang sudah mengelilingi beberapa state juga berkata begitu. Saya setuju kalau, tempat ini yang paling indah dari (sedikit) tempat yang sudah saya kunjungi di sini.


Bus yang kami tumpangi di parkir di kaki gunung. Lalu kami mendaki sejauh 3.5 km untuk sampai ke puncak gunung Oberon. Beratnya pendakian ini termasuk yang medium. Yang bikin saya sangat kagum, ada dua orang peserta tur yang berusia sekitar 70an atau 80an ya, mereka mendaki dengan santai. Pelan tapi pasti. Bahkan ketika sampai ke puncak pun, saya tidak melihat napas mereka terengah-engah. Saya langsung berkata ke Yosua untuk akan lebih memperhatikan kesehatan kami. Banyak bergerak, makan sehat dan istirahat cukup biar terus kuat.

Dua orang kuat ini :)


Sepertinya langsung ke foto-foto saja ya, biarkan foto yang bercerita banyak :D. Karena memang indah sekali pemandangan di atas.

Gunung yang akan didaki

Start from here

Keep moving forward!
Bentar lagi :)

Yuhuuuu










Setelah turun gunung, kami ke pantai Squeaky yang juga masih di Wilsons Prom :). Pantainya bagus sekali, pasir putih dan halus, lautnya biru yang meneduhkan. Istimewanya, selain dikelilingi gunung, pantai ini juga memiliki batu-batu raksasa berwarna merah yang seperti dipotong-potong! Juga ada batu kayak cookies coco chips :)









Terima kasih banyak-banyak, suami :)

Sekiaan dulu cerita dan foto-fotonya :).

Menyenangkan sekali bisa berkesempatan pergi ke salah satu tempat yang bersejarah lagi indah di Australia.

Salam,

Sandra
November 2016


[ selengkapnya... ]

Because

"Why did you want to follow me here?"
"Because I love you."

Sounds cheesy, but if you know the whole story only this reason that can make sense.

State Library, 22 Nov 2016
[ selengkapnya... ]

Sebentar Lagi

Duduk di meja makan, menghadap ke arah belakang rumah yang ada sepetak tanah kecil dan sebatang pohon rimbun, tempat banyak burung tinggal, membuat saya seketika diliputi oleh perasaan sedih seketika.

Membayangkan bahwa hidup di sini tinggal sebentar lagi adalah perasaan yang paling ingin saya hindari. Mendengar cicit burung yang selalu ribut di pagi dan di sore hari, sambil menikmati deru angin yang cukup kencang hari ini, menulis sambil memakan sebuah pisang, dan meminum segelas air hangat itu adalah kenikmatan yang sudah terlalu dalam saya menikmatinya.

Tahun ke dua di Melbourne adalah yang terbaik dibanding tahun lalu. Tentu saja, mungkin karena saya sudah bisa beradaptasi, mungkin sudah terbiasa, atau mungkin karena ada Yosua di sini. Walau bukan berarti tanpa ada masalah, karena pada pertengahan tahun ini kami cukup pusing dengan mengurus perpindahan kepemilikan rumah ini. Tapi, toh semuanya bisa berjalan dengan baik, dan walau di akhir bulan Oktober, juga ada pergantian tenant, tapi tetap saja itu hanya hal seujung kuku, yang tidak dapat menggantikan betapa bersyukurnya kami bisa bersama tinggal di sini.

Bukan tentang fasilitas, bukan tentang kemewahan, tapi tentang privasi dan kenyamanan.

Tinggal bersama Yosua di rumah ini, adalah double combo kenyamanan buat saya. Yosua adalah rumah bagi jiwa saya, dan rumah ini juga adalah rumah yang ideal. Ideal bagi saya adalah saya bisa menjadi diri saya sendiri dari ketika membuka pintu rumah, dan di sekeliling rumah. Karena di studio ini, seluruh sudut rumah adalah milik kami tanpa harus berbagi dengan orang lain (tenant yang lain menempati lantai atas, dan mereka mengakses pintu samping untuk naik ke kamar atas, bukan melalui studio kami). 

Sementara menulis ini, cicit burung pun perlahan pergi dan tiba-tiba senyap, hanya sesekali terdengar dentaman kaki di lantai atas. 

Tanpa sadar, saya menghela nafas panjang. Kembali meninggalkan zona nyaman itu tidak pernah mudah. Rumah tua di jalan peel street ini sudah begitu menyatu dengan kami. 

Tapi tak ada pilihan lain selain terus melangkah.


Selamat pagi, burung-burung yang selalu ceria,

Ajarkan aku untuk hanya fokus terhadap hari ini, tanpa perlu mengkhawatirkan hari esok.


Peel Street, 21 November 2016

[ selengkapnya... ]

Terima Kasih, Partner Serba Bisa

Sepertinya sudah lama sekali tidak menulis tentang partner di sini. Padahal banyak sekali yang sudah terjadi terutama sejak hampir setahun tinggal bersama. Duluuuu sekali dia melakukan sesuatu yang istimewa dikit udah jadi satu bahan blog, kayak di sini. Sekarang, saya kok kesannya jadi 'take it for granted' ya. 

Dua malam lalu, heater saluran air panas itu bermasalah, air panas-nya ngga keluar. Sebenarnya kasus ini sering, karena memang kalau lagi berangin, maka apinya bisa padam. Tapi ini Yosua sudah mencoba berkali-kali menyalakan kembali apinya tapi tidak bisa. Saya yang dikit-dikit stress, langsung kepikiran. Soalnya teman-teman di lantai atas juga tidak bisa pakai air panas. Sedangkan saya saat ini masih jadi penanggung jawa rumah ini. Terus kepikiran berikutnya, kalau harus panggil orang benerin salurannya, pasti ongkosnya mahal Akhirnya kami google caranya. Ketemu. Terus coba, dan gagal :p. Kata Yosua, 'besok pagi aja, sekarang kan gelap.' 

Besok pagi, yang dia lakukan pertama kali langsung ngecek alat itu lagi. Dia lantas balik kamar dengan senyum-senyum, 'Beres!'. Lega sekali rasanya.

Banyak sekali kejadian serupa yang kayak gitu. Seperti coat winter saya yang kancingnya copot trus dijaitin, perkakas ini itu yang dibenerin, masakan yang sudah tersedia, karena memang dia hobi masak. Dan lainnya. Hidup di Melbourne tahun kedua ini berjalan dengan mulus dan menyenangkan. Faktor besarnya karena ada partner yang sangat menolong. 

Well, i couldn't ask for a better partner. I hope, i can also be a good one for hm.

Terima kasih ya, Kamu.


Peel Street, 2016
[ selengkapnya... ]

My Reflection on New and Emerging Communities Leadership Women's Program


pic source: Leadership Victoria



This time, i want to share my experience when i became a participant of New and emerging communities leadership women's program (NECLP) by Leadership Victoria.

I knew this event from Facebook. As usual, it didn't take me long to apply. I am an impulsive person, if it comes to learning something new. So i filled the application, and the day after i got a call from Leadership Victoria. They wanted to interview me. I went to the Old Treasury Building on the interview building. It was an old building, next to the Parliament Building, located in the heart of the city. Old buildings never fail to impress me. The interview went smooth. Two women there, and they asked me basically about the application. 

Some weeks after, i got an email said that i am officially one of the participants. Yeiy! And what made me happy was Angel also got the same email ;). 

The training would run in 6 days, in 4 weeks, every Tuesday and Wednesday except one week free. And all participants should commit to attend all days. Not a big deal for me, as i have finished all lectures, despite some major assignments. 

A little bit of Leadership Victoria (LV),  So LV is an organisation which aims to help make a bright future, inspire leaders, create networks and drive change by doing leadership programs, support community organisations, and so on. 

Why i am interested in this program is this may become the first women leadership training i attended. And the idea of connecting  international women together in the one activity is like so cool. Isn't it? I was so excited for sure. 

So i will not tell you all details but only superficial and my reflections. 

The topic of the programs were about setting the leadership context, leadership across communities, communications, being empowered, developing a vision and setting goals and leadership commitment. 

There were so many interesting things in this program. I will tell you some. First, i like the idea of connecting with a buddy. So each of us had our own buddy. At the first, our task was to introduce this buddy. But then, we did so many activities with our buddy, especially when it was about sharing our leadership journey and goals. For introvert people like me, talking with a buddy was easy because it was only two of us. And i might not feel uncomfortable to talk about my ideas and my stories. And on top of that, i got a very nice, inspiring and wonderful buddy. Her name is R. R is from Ethiophia, and she already has a wonderful career in Melbourne as a certified accountant. I really like her personality, the way she sees and treats herself and others. She is so nice. 

Second, all participants were 26 people. We were divided in 6 tables, and each table had their own responsibilities, such as gratituders/energisers, clock-watchers, music heads, paparazzi, bloggers,  and social butterflies. This made us become a part of this program, from the first session, because we had our own tasks. So we were not there only to listen to speakers. But we also played roles in terms of succeeding the training.

Three, networking session. So in day 5, they invited 26 networkers. The networkers were people, who had experiences, knowledge, and stories in leading a community or inisiating a program. It was really nice to hear directly, face to face, from their story.

Ok. So this is my reflections on some of the session. I can't go into details because we should keep all things in the room are in the room. 

1. I learn to know myself better. There was a session of understanding ourselves. When i arrived back at home, i asked my husband, so two of us could practice the way of understanding each others. It was really nice to hear of what people think about you, and you still don't realise about it. 

2. I learn about effective communication. How to give constructive feedbacks and so on. Well, from my experience in my previous work. Giving a positive feedback is not part of the culture. People can easily judge someone from doing something wrong, but when they do something good, there is no acknowledgement of it. Or maybe people will give some appraisal, but they may say, things like, 'cool, good'. Not that clear for this person to know that what they did are good, and has a good impact.

3. There was a session on public speaking in last day. The speaker was an artist. And she was so cool. She taught us how to be confident and how to empower others by the way we speak. Totally great.

4. Stories. All participants come from a wide range of backgrounds. Because this program only for migrants or international women, so some of us just come to Melbourne for this past 5 years. some women have lived here for more than 10 years. But the similarity was we all have our own stories. For me, i learn many things from them. I am inspired by their spirits, their passions, their backgrounds, their personalities and so on. Some people are interested in supporting organisations who working to help women who experience family violence, some are interested to inspire young generations to know about their own heritage, some are willing to inspire women to do sports, and some are wanting to be a better person.

5. The coordinator. The program facilitator was Oenone Serle. And i fell in love with her from the first day. She really knew what she was doing. She was a lovely, smart, encouraging leader. I like most of the sessions run by her. But i did enjoy the mindful session the most. After the day, i downloaded the apps, she recommended, and then i begun to practice meditation. Thank you so much for inspiring me Oenone. :).


At the end of the training, we spell out our pledges. So all of us should make a pledge, about what's next, what's our goals. And then we make promise to do so in the graduation. 

So my pledge is:

I pledge to increase people's awareness of public health issues, particularly gender and women's health, by running a blog (or even a website).

I put this on my blog so it will keep remind me later.


Thank you so much for involving me in this program, Leadership Victoria. I do learn a lot. And i promise to not take it for granted, Will try my best to be a better leader for myself or may be for others in the future.

With love,

Sandra

[ selengkapnya... ]

When Tomorrow finally comes: Ronan Keating Concert in Melbourne

Photo by my friend Eva.
I attended Ronan Keating Concert in Melbourne in 29th October 2016 as a part of his Australia Tour to promote his new album. The concert was held in Halmer Hall, National art gallery Victoria. It begun by a 30 minute performance of Marlisa (X-Factor winner in 2014, who is mentored by Ronan).  Then Ronan sang for like 1 hour and half. He sang some of his new songs and also the old songs. It was really an incredible performance. Well, no doubt or someone with more than 20 years of experience and still counting. He is so freaking consistent to in his own path.

Photo by my friend, Eva

I am not into music actually. But once i like a song, it will stuck in my mind (some in my heart). And Ronan Keating songs effortlessly are. I like almost all his old songs from Sorry, When you say nothing at all, Baby can i hold you, Iris etc. And one of my all-time favourites is If tomorrow never comes.

The song was very special for me. I repeated hearing the song over and over again in mid 2006. It's in SoE and we just came back from picnic to the fountain and one of my friends said the title of the song spontaneously. After this, i kept remember the song  during the 'time'. 

When Ronan sang this song, i was like forcefully come back to my memory lane and found me 10 years ago. it didn't remind me of someone. It reminded me of ME. 

So this (unimportant) post is for the 18 year-old Sandra. You did well. Your heart broken, your tears, your pray, your disappointments, your struggling and your during love were not taken for granted. They were all constructing the reality, which i am enjoying now. Thank you, for being you, Sandra.

After singing the song Ronan said, 'i always like the atmosphere from the audience when i sing this song. I will never take it for granted. Everyone might have one person who he/she didn't have the chance to say how much they love him/her.'

I clapped my hand while also shed my tears. I fell so deep in my memory garbage at the night.

So for me, i know my tomorrow has come, and i already made a good friend with it. and some yesterdays are better to not to be remembered again. Because after all, the most important thing is we live for today.


:')
[ selengkapnya... ]

The House: More Than an Easy Reading

Just yesterday, i found a secondhand book shop close to my house. When i went back from the leadership training, which was at Spring Street, i took a different path then i usually do every day. And somewhere near the intersection i saw a table with bunch of books. There was a pledge there said 1 book for 1$. It didn't took 1 mili second for me to stop and examine all books. Interesting because there was no one sat there to watch the books. it's easy for me to grab all books i wanted and ran away. But of course as a woman with attitude like me i will never do things like that.

It's like really a dream for me. I couldn't be a book hoarder on that day since i still couldn't belief my self not knowing this heaven was around me for this almost two years. Oh God. I am not surprised with the price. The second book price is quite the same. Even i think this was the cheapest. usually i found like 2 or 3 bucks each. After decided which books i wanted, i went to the building and going downstairs, and paid at the cashier. I asked him the open days, and he said, it's Tuesday until Saturday. Gosh! i still couldn't forgive my self for my unawareness during this time.



So, yesterday, i bought only two books. And today i came here again and bought 6 books. And tomorrow i probably will come back again with Yosua (Somebody please stop me).

I have finished one of the book that i will write here.

It was The House by Danielle Steel. I never do not love Danielle's books. It's easy to read and almost always happy ending. it's so suitable for me who need a good easy book during the assignments and training days. :)

Well, it turned out that i liked the book so much. I can't stop reading yesterday and today. I read the book and also questioned my self.

So let me give you a quick review of the book.


Basically, it is a story of Sarah, a successful attorney woman, in her late thirties, never married, have a (jerk) partner, already feel comfort with her life but deep down in her heart, she knows that something missing. Something that even her  (jerk) partner, her family cannot fill it. Her life changes when her old lovely client died in his old enormous house, which is pretty much like a museum. It turns out that the house has a close connection to Sarah. Then Sarah met a (good) guy during the process of changing the ownership of the house. 

Well, in some part  of the story, while Sarah was struggling with her decision in life, i was also questioning my self. 

It's about life. About future. About what do you really want in your life.

Such a big (classic) question, which sadly i (and all of us) shall keep reflecting in that to make sure we are on the right tract of our own wanted life.

It was a good book. I would give 7.5 out of 10. I like how Sarah's role in her life (finally), i also like how Jeff (the good guy) treats Sarah and respect all her decisions. 

Will recommend it to someone who is looking for an easy breezy book but still have a deep meaning in it ;).

Cheers,

Sandra



[ selengkapnya... ]

Lu di SoE Bikin Apa Sa?

Tulisan kali ini dalam dialek SoE, yang juga agak mirip dengan melayu Kupang.


Beta tiba-tiba ingat percakapan yang su lama sekali dengan be pung kawan orang Jakarta. Kayaknya waktu itu be masih pertengahan kuliah S1 yang artinya mungkin su hampir 10 tahun lalu ko. Dia tanya begini, 'Kamu waktu masih di SoE, ngapain aja sama  teman-teman?' Mungkin dia agak susah membayangkan kermana anak-anak kampung menghabiskan waktu. Apalagi di kampung yang sonde ada mall, taman di tengah kota, cafe, bioskop, karaoke dan tempat-tempat gaul.


Be bingung mau jawab apa. Beta di hidup di SoE sampai umur 14.5 tahun sebelum pindah ke Malang untuk sekolah SMA. Kas habis waktu remaja di SoE, beta sonde pernah merasa kehabisan ide untuk bikin sesuatu dan juga sonde pernah merasa tidak nornal atau kurang. Tapi begitu ditanya oleh kawan yang dari ibu kota, b ju langsung ingat-ingat, 'iya e, itu hari beta bikin apa sa e pas masi remaja tinggal di SoE.' Memang betul ju, katong kadang sonde akan peduli dengan sesuatu sampai kemudian ada yang menanyakan itu. :)

Perlu dicatat, beta ni adalah anak rumahan. Beta pung bapa mama talalu bajaga mati beta ko pokoknya be son boleh keluar rumah tanpa alasan yang sonde jelas. Jadi pi kawan pung rumah tu hanya pas kerja kelompok. Sonde mungkin ko pi kawan untuk main-main. Di b pung jaman SMP ju (mungkin su 15 tahun yang lalu), pilihan untuk katong bermain di luar sangat sedikit. Dan jarang sekali ju kita bajanji deng kawan untuk bajalan eksplor tempat-tempat baru. Taman Bu'at yang deka-deka sa b pi mungkin hanya satu tahun satu kali sa pas gereja padang.
sumber : http://tr.123rf.com

Jadi anggap sa ini b lagi nostalgia kegiatan apa yang b lakukan pas b umur 10-14 tahun di SoE.

1. Baca buku
Ini su son terbantahkan lagi. B baca buku apa sa. Pokoknya dari bobo, majalah Aneka, serial Sherlock Holmes, baca komik, suka dengan Conan, Agatha Christie, semua seri Mira W lengkap, John Grisham, Nora Robert, Sandra Brown, sampe beberapa bukunya Fredy S dan Marga T, itu b baca pas itu usia ju. Kalau lu sampe senyum-senyum sambil ingat-ingat itu 2 pengarang terakhir pung buku-buku na bae su, artinya u belum pikun. Iya, beta tau tentang seks bukan dari majalah, film atau orang yang cerita tapi dari baca novel. Yah, ini juga salah satu kelemahan kita pung sistem pendidikan dan gaya pengasuhan anak yang menganggap seks adalah hal yang taboo dan sonde boleh diperbincangkan. Padahal anak usia segitu dia sedang merasa bingung sekali dengan dia pung tubuh dan keingintahuan dia besar sekali. Aduh, ko kermana ko b su omong melantur ni (A nerd will always be nerdy :p).
B dapat akses itu buku dong (maksudnya novel yang bagus-bagus tu) dari perpustakaan daerah Soe yang waktu itu menurut beta su lumayan lengkap buku-bukunya. Banyak juga yang b pinjam dari kawan, dan juga banyak yang b pung orang tua beli kasih. Pokoknya kalau mama deng papa pi Kupang, b son minta apa-apa selain buku. Dan mama pernah beli kasi beta di toko buku bekas, novel banyaaakkk sekali dari terjemahan luar negeri. B sangat suka, karena itu buku setting Amerika di jaman dulu dong. Kalau itu buku-buku 'aneh' dong b curi-curi baca dari ada kaka nona yang tinggal bantu-bantu di rumah. Padahal dia larang mati beta ko baca tu.

Abis itu apa lai e yang be buat. Tunggu ko b pikir do. Oh iya b ikut pramuka, ikut marching band (katong bilang itu drum band), trus yang paling sering tu andia pi belajar di kawan. Kadang-kadang katong pi ko hanya belajar 15 menit abis itu barmaen ma b kastau b pung mama dong bilang katong belajar lama :D. Oh iya itu waktu ju b rajin les bahasa inggris di Cendana. Tempat les yang dulu paling gaul :D. B ju kas abis banyak waktu dengan bermain dan bakalai dengan b pung adek nona.

(pokoknya lu maklum sa kalau di ini postingan b pake kata oh iya talalu sering, ini ju b ada ingat-ingat ju ni. Tau te pikiran su batatumpuk dengan talalu banyak baca jurnal (deng nonton youtube + drama korea)), 

Aduh kayaknya hanya itu kawan dong e. Pokoknya jang bayangkan bilang ada internet, te komputer sa b pegang pas b SMA na. Dan saat itu om Mark Zuckerberg masih SMA unyu-unyu ju mungkin ko dia belum berpikir bikin facebook. Hape sa katong son ada, yang ada hanya kamera fuji film yang isi 36 atau 28 tuh, dan kalau foto abis ko cuci trus ada foto yang tabakar itu sama kek mau menangis dara. Itu pun kapan tempo o baru bisa beli film. 

Nah yang dibawah nih, hal-hal yang beta tahu be pung kawan dong biasa bikin untuk habiskan waktu.

2. Nonton VCD (bajakan)
Pokoknya pas tahun 2000 tuh, itu VCD lagi booming di SoE, beberapa rental VCD tiba-tiba muncul di SoE. B pung kawan dong tiap hari hanya baomong film sa. Baru itu saat ju, film india lagi heboh-hebohnya. B pung kawan yang kaya dong bisa beli VCD asli, tapi saat itu banyak ju bajakan yang bertebaran.
Cuma sudah bisa ditebak, b pung bapa sonde akan mungkin beli kasih kami VCD player (pung kasian lai). Alasannya, nanti beta sonde belajar dan memang beliau leih suka liat katong baca buku darpada nonton. Akhirnya beta mungkin yang paling son tau su kalau kawan2 bacarita film dong. 

3. Maen PS di rental
Kayaknya itu jaman tuh, PS baru tenar. Pokoknya baru upgrade dari nintendo pi playstation. Itu kebanyakan anak laki-laki yang suka main. Kayaknya duu b pernah punya nintendo ju, ma son bertahan lama. B kalau pi sepupu pung rumah, b suka main dong pung video games. B suka mai mario broz dengan yang tembak burung tuh. Lu tau to, yang pake pistol ko tembak-tembak burung di tivi. Talalu unus mati :D.


4. Dengar Musik
Itu saat ju semua orang dengar lagu di tape. Nah, waktu itu ju muncul boyband seperti Westlife, The Moffats, Backstreet Boys, etc. Be paling dengar itu lagu dong kalau dong putar di TV sa. Oh iya, itu jaman tuh di SoE, kalau mau nonton MTV, atau saluran luar begitu, harus pake antena parabola. Nah sekali lagi su bisa ditebak, katong di rumah son ada itu barang. Jadi channel yang selalu ada hanya TVRI dan kalau itu antena di rumah putar model kermana maka mungkin katong bisa dapat RCTI deng SCTV. Aduh itu kalau dong putar itu sinetron, itu anak buah di rumah su son bisa beranjak lai dari depan TV.

5. Nongkrong di simpang
Lokasi dari b pung SMP tuh dekat pasar inpres (satu-satunya pasar besar di SoE), kalau mau keluar di jalan besar tuh ketemu simpang empat, tempatnya bemo jalur atas dan jalur bawah lewat. Di SoE hanya ada 2 jalur bemo sa, atas deng bawah, dan son ada yang bisa bedakan itu bemo pung jalur. Maksudnya son ada tanda sama kek di malang ada tulis AL (Arjosari-Lawang). Jadi kermana lu bisa tau? Tenang ada konjak yang akan batereak dari lima kilometer sana, bilang 'Atas ko kaka? Atas atas ibu'. Nah itu berarti bemo atas yang jalur dari pasar inpres menuju kilo 3. Beta pung rumah dengan sekolah ni mungkin 1 kilo sa. Kalo pagi, bapa antar beta, kalau siang b jalan kaki pulang dengan kawan. Jadi b jarang naik bemo.

Anak-anak SMP nih, suka sekali nongkrong di simpang. B son tau enaknya apa, duduk di pinggir jalan, liat-liat orang atau oto motor yang lewat. Tapi mungkin kalau dipikir, katong pung pilihan berkreatifitas terlalu sedikit mungkin, jadi walaupun lalepo di straat sa ju jadi, asal bisa bakatawa deng kawan.

Beta? Ya son mungkin lah ya. Selain b takut deng b pung bapa, b ju son terlalu suka bakumpul dengan kawan  talalu lama (introvert sejati). B lebih suka pulang sampe rumah, tidur, baca ulang novel.

6. Pi Lapangan
B hampir lupa ini. Lapangan kalo pas sore ju termasuk tempat gaul ju. Karena banyak yang datang maib basket, sepak bola, atau hanya duduk-duduk bacarita sambil ma'ale jagung goreng. Lapangan paling besar di SoE i lapangan puspenmas yang deka b pung rumah. Itu lapangan ju yang kalau ada pameran, atau acara apa biasa bikin di situ. 

7 Pasiar bemo

Bemo kuning = antar desa. kalau bemo putih antar kota. Foto diambil dari twitter @SeputarSoe
Dulu mungkin sekitar tahun 97 ke bawah, bemo SoE tuh berwarna warni. Pokoknya variatif, dengan dia pung dekor-dekor yang menarik. Setelah itu di SoE di tetapkan, angkot dalam kota hanya boleh warna putih, dan ke desa warna kuning. Biar begitu, ini orang SoE dong son berenti berkreasi, dong tetap bikin hiasan-hiasan sedikit (karena su di larang kalau terlalu ramai). Pokoknya itu angkot tuh dong akan hias kermana rupa supaya yang naik suka dan banyak. Terutama anak-anak muda dong. DI dalam angkot ju penuh dneg boneka yang tempel-tempel di jendela. Dan semua angkot punya nama sendiri. Dia pung nama ju macam-macam, ada yang Rival, Princes, Ridho, Elenson, Ekodazton (apa lai e, nanti b tanya orang do te beta sendiri su son tau lai nama angkot sekarang). Nama dong aneh-aneh ju, ma kalau lu tanya dengan dia pung sopir atau pemilik dong biasa kastau lu dia pung arti. Contoh dulu ada oto Crystal, yang artinya bukan berlian itu, tapi singkatan nama dari pak Chris Tallo.  Oh iya, satu lai, lu harus tau kalo orang SOE tuh pintar bikin singkatan.
Kangker = Kangen Kekasih Rahasia :)

Dan seperti yang lu-lu su bisa terka, angkot di SoE full musik semua. Badebum badebam pokoknya. Kadang katong di dalam rumah, kalau angkot dengan suara bas besar lewat, ju bisa ikut taangkat na, apalai yang di dalam oto.

Jadi anak-anak SMP dan SMA di SoE ni, su terkenal sekali suka bapilih oto. Dong hanya mau naik oto yang bagus sa, full musik, di dalam oto bersih, penuh hiasan. Pokoknya itu hanya naik oto yang bae sa. Apalai kalau dong su bakonco deng sopir oto na. 
Kalau sampe ada kawan lain yang dapat liat dong naik oto puruk, itu besok dong su dapat olok tuh :D.

Nah rute di SoE ni sebenarnya singkat sa. Mungkin total perjalanan hanya 5km sa. Dan angkot tuh hanya lewat jalan besar sa, jadi ya, lu turun di cabang mana baru lu lanjut jalan. Ma kadang kalau lu kenal deng sopir, lu bisa minta tolong sopir ko antar sampe depan rumah (sama kek b pung mama. dan biasa oto jelek dong yang mau begitu :p).

Bisa sa, lu naik bemo, satu lagu belum abis lu su sampai lu pung tujuan. Padahal ada nikmati musik enak-enak. Akhirnya banyak anak sekolah yang suka pasiar oto. Istilahnya masuk di diskotik berjalan. Pasiar oto tuh maksudnya, lu ikot taputar deng itu bemo beberapa kali putaran baru lu turun. Atau seharian ju boleh, kalau lu mau. Sopir dong umunya son akan larang. Lu turun, lu tinggal bayar sama kek bayar biasa, kan jauh dekat sama :D.

Katong pung guru dong dan orang tua biasa larang anak-anak dong ko pasiar oto. Ma tetap sa, ko mau bikin apa lai di SoE jadi ya tetap laku sa orang pasir oto. Su pasti lah ya, anak kuper kek beta son mungkin pasiar oto, ma setelah umur begini, dan b pikir-pikir, sebenarnya seru ju tu bisa bapasiar deng kawan-kawan seumuran di diskotik berjalan.

Neuh kayaknya itu su yang b bisa ingat dari b pung masa kecil. Kembali ke pertanyaan dari b pung kawan anak ibukota tuh, waktu itu b cuma bilang, 'Kalau aku paling hanya baca buku sama kadang main ke rumah teman'. Dan beta bisa melihat dia pung muka kek kasihan deng beta. Haha. Padahal beta hepi-hepi sa deng b pung masa kecil tu. Dan kalaupun disuruh ulang memilih mau hidup di mana, b akan tetap pilih untuk menghabiskan b pung masa kecil di SoE yang dingin. 

Kalau lu ping masa kecil dong kermana o?


NB: b pengen sekali kas masuk foto beta waktu SMP ma son ada filenya e.





[ selengkapnya... ]

Seperti Danau

Kasihmu tak seperti sungai
Mengalir berliku dan bertualang.

Cintamu bukanlah samudera
Terbentang luas dan buas.

Sukamu tak seperti air terjun
Deras, melimpah dan bersuara 

Sayangmu sesederhana sebuah danau,
Tenang dan teduh,
Hijau dan lamban,
Tak mengalir tapi menampung,
Tanpa gelora tapi konstan.

Dan aku, ingin menjadi teratai yang 
berbaring lelas di punggung danau
Mengapung pelan tanpa tenggelam.

Melbourne, 2016


[ selengkapnya... ]