Tentang Embel-Embelnya Kita

Sebagai seseorang yang paling lama kerja di satu tempat itu hanya 2 tahun, saya sudah akrab dengan perasaan ini. Yaitu, merasa bingung untuk menjelaskan tentang ‘siapa’ saya. Sudah jadi budaya ya, kalau kita ketemu orang, selain nanya, ‘apa kabar?’, pertanyaan basa-basi berikutnya adalah, ‘sekarang kerja di mana?’ Dan tentu saja hal itu adalah hal yang lumrah dan sudah mengakar. Karena kita dibentuk untuk mengukur seseorang dari pekerjaan dia sekarang. Kalau kita di Timor, kalau kita menjawab, ‘sudah PNS, kemarin baru saja dilantik 100%’. Sambutannya pasti, ‘wih bae su, luar biasa ya sudah ada kerja tetap.’ Pekerjaan sudah menjadi status sosial. Dari situ ketika kita menjawab kita kerja apa dan di mana, di kepala penanya mungkin mereka sudah mengira-ngira oh kira-kira orang ini sebulan dapat gaji berapa dan kekayaan dia apa.

Teman-teman sebaya saya yang kebanyakan sudah berusia 29 dan 30 tahun, banyak dari mereka yang sudah bekerja di satu tempat di atas 5 tahun. Dan banyak juga dari mereka yang juga punya pemikiran seperti di atas. Sekali lagi, itu karena kita dibentuk untuk percaya bahwa kita menilai seseorang dari pekerjaannya.

Saat saya masih sekolah S2 di Melbourne, banyak sekali teman-teman yang bertanya, ‘Abis lulus kerja apa?’, ‘Oh, mau jadi dosen ya?’. Please don’t get me wrong, I 100% prefer questions like that than a question like, ‘Are you expecting? When will you have a kid?’.

Maksud dari postingan ini, sering sekali kita mematok pekerjaan sebagai kunci keberhasilan seseorang atau sesuatu yang mendefinisikan seseorang.

Jarang sekali ketika saya sekolah, saya mendapat pertanyaan dari teman-teman saya di Timor, seperti, ‘fokus kuliah-nya di mana? Mengapa tertarik hal itu? Lagi mengerjakan penelitian tentang apa?’ Intinya saat saya masih di Melbourne, jarang saya mendapat pertanyaan tentang kejadian saat itu, apa yang sedang saya alami dan lakukan saat itu. Semua lebih suka menanyakan, kelak saya akan kerja apa. Seolah-olah, tidak penting saya kuliah apa, kuliah di mana, selama kuliah saya berprestasi atau tidak, selama kuliah saya mendapat pengalaman apa, tapi lebih penting nanti saya akan menghasilkan berapa rupiah lewat pekerjaan saya.

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti Festival Elaf Dame, yang diadakan di Kapan oleh Lakoat Kujawas. Festival yang ditujukan untuk anak-anak di sekitar Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara ini, sangat menarik sekali karena dipenuhi oleh banyak aktivitas. Seperti, pemutaran film, permainan tradisional, pohon cita-cita, mewarnai, dan ditutup dengan pementasan teater cerita rakyat berjudul Kap Nam Tofena. Saya amat sangat menikmati kegiatan tersebut. Lebih dari itu, di kesempatan ini saya bertemu dengan relawan-relawan yang luar biasa berbakat. Beberapa dari mereka baru saja lulus kuliah, beberapa sudah bekerja, dan beberapa memang mengidentifikasikan diri sebagai relawan dan bekerja pada badan sosial. Ada celetukkan dari mereka bahwa, ‘nanti kalau ditanya beta kerja di mana, beta bakal jawab, kerja di lakoat kujawas.’ Ada juga yang ketika dalam perbincangan santai, mereka bilang, mereka itu, ‘komunitas pengangguran.’ Padahal, yang mereka kerjakan itu jauh jauh jauh sangat bertolak belakang dari definisi kata ‘nganggur’.

Menjadi relawan seperti mereka, bagi saya adalah suatu kegiatan yang mulia. Bayangkan, ketika mereka dengan semangat datang dari SoE (ada yang bahkan dari Kupang) mencemplungkan diri di kegiatan-kegiatan Lakoat Kujawas di Kapan, melatih adik-adik, mengurus mereka, menginspirasi mereka, memastikan semua kegiatan berjalan baik, mengeluarkan ide, tenaga, uang bensin, waktu dll dan semua itu dilakukan tanpa dibayar. Bukankah, jiwa menjadi relawan seperti itu sudah amat jarang sekali kita temukan di sekeliling kita?

Kan lebih banyak kalau pegawai di organisasi (pemerintah atau non pemerintah) kalau mau ke masyarakat, bertanya dulu, ‘ada uang jalan tidak? Besar tidak?’ Padahal gaji bulanan sudah ada.

Kembali ke cerita hidup saya (tsaahh) yang mungkin mirip dengan keadaan beberapa relawan di atas, kalau saat ini ada yang tanya, ‘Jadi nanti ngajar ya?’ atau ‘Nanti kerja di mana?’ Kemungkinan saya hanya akan menjawab dengan singkat, ya atau tidak tahu. Toh, jawaban apapun dari saya tidak akan mempengaruhi hidup si penanya (dan hidup saya juga) . Toh si penanya juga tidak berkontribusi sepeser pun untuk biaya hidup saya, kenapa terlalu ambil pusing?

Tentu saja, saya tidak mungkin menceritakan tentang mimpi. Tentu saja, saya tidak mungkin menceritakan tentang ide. Karena bagi mereka yang suka menanyakan ini, hal-hal itu adalah absurd. Karena hal yang nyata adalah, setiap hari memakai seragam, masuk kantor, dan setiap bulan mendapat gaji, entah performa kerja baik atau tidak akan tetap mendapat gaji.

Saya belajar di sini, untuk tidak melabeli seseorang dari pekerjaan mereka. Saya belajar untuk menghargai mimpi, ide, kreatifitas, passion, kesukaan, seseorang bukan hanya pekerjaan dia saja. Saya belajar untuk mendefinisikan pekerjaan dalam arti yang lebih luas, bukan saja pekerjaan yang menghasilkan uang setiap bulan, tetapi juga pekerjaan apapun yang membuat bahagia. Mungkin itu adalah menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan mengurus rumah, mungkin itu adalah menjadi peneliti dan pengembang ide, mungkin itu adalah menjadi blogger, mungkin itu menjadi relawan, mungkin itu penanam sayur dan buah, dan lainnya.

Dan sekali lagi pesan untuk diri sendiri, untuk tidak melabeli seseorang berdasarkan seragam mereka.


A human is like other humans, they have a lot of stories to tell. Just listen, and stop asking! J


Kepada para relawan yang menginspirasi: teruslah melakukan hal yang kalian suka dan yang bermanfaat. Teruslah menginspirasi lewat karya kalian. Teruslah mengasah sisi kemanusiaan kalian. Tutup telinga untuk semua suara sumbang. Banyak sekali yang membutuhkan kalian :).
[ selengkapnya... ]

Refleksi 2016

Peringatan: postingan ini penuh dengan kenarsisan, tidak usah dibaca kalau tidak tertarik :D. Saya hanya ingin merekam jejak perjalanan seperti biasa.
#2016BestMoments

Bagi dunia keseluruhan, 2016 adalah kemunduran. Terlihat dari banyaknya ancaman, banyak orang meninggal karena perang dan teror, isu politik, dan lainnya. Di Indonesia sendiri 2016 tidak begitu baik jika melihat banyak pertikaian agama dan politik yang setiap hari muncul di berita. Tapi bagi saya pribadi, 2016 adalah tahun yang sangat amat berkesan dalam hal yang positif.

2016 memberi saya banyak kejutan yang nyaris tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Contohnya bekerja dengan Nossal Institute, mengikuti konferens gratis di Canberra, menang lomba menulis dari Melbourne Writers Festival, menjadi pembicara untuk acara Australia Awards, menyelesaikan studi master, ikut banyak seminar, dan sempat juara lomba 2 three minutes thesis presentation.

Banyak dari semua itu yang sama sekali di luar mimpi saya. Salah satunya juga  diwawancara SBS karena menang lomba menulis adalah bagi saya suatu kenangan yang tak akan dilupakan.

Di samling itu, di hubungan pribadi pun saya mengalami banyak hal baik di 2016. Di mulai dengan menikah lalu hidup bersama suami di negeri orang. 2016 membuat saya banyak mengenal diri saya sendiri juga pasangan saya.

Di akhir 2016 saya juga bisa beribur dengan orang tua. Dan kami sangat menikmatinya.

2016 saya mengenal banyak sekali orang-orang baru. Seperti mereka yang saya kenal dari Asia Pacific Week, Short course Malaria, latihan kepemimpinan, maupun beberapa teman gereja.


Tentu saja, di samping semua cerita penuh kebanggaan (juga kenarsisan) di atas, pastinya ada cerita ngga enaknya ya. Tapi saat saya menulis ini, semua cerita tidak enak tadi semacam lenyap dan hampir tidak saya ingat lagi.

Kalau hanya boleh 1 kata untuk mendeskripsikan 2016, bagi saya, 'Extraordinary!'

Banyak yang saya pelajari di tahun 2016, beberapa juga sudah terekam di blog. Malam ini saya agak mengantuk untuk menulis dan mengingat kembali semua itu, mungkin hanya bisa berbagi beberapa dan singkat saja. Jadi ini refleksi saya:

1. Tidak muluk-muluk, tapiii
Saya memulai 2016 dengan tanpa resolusi apapun, tanpa suatu keinginan spesifik apapun, tapi ternyata malah banyak kejutan yang lalu saya alami. Dari dulu saya memang jarang sekali punya keinginan atau target yang wah. Tetapi, tahun 2016 mengajarkan saya untuk tidak melewatkan kesempatan. Semua kegiatan juga kemenangan itu didapat karena saya mencoba. 2016 mengajarkan saya untuk berinisiatif. Dan saya berharap pelajaran ini tetap saya bawa sampai tahun-tahun berikutnya.

2. Jalan-jalan itu penting untuk hidup yang seimbang
Awal 2016 kami ke Rote, lalu Yosua ikut ke Melbourne, di Melbourne kami jalan-jalan ke banyak tempat, juga sempat ke Tasmania dan Sidney. Di setiap akhir perjalanan, selalu terbit rasa senang dan segar. Tentu saja hal itu penting untuk melanjutkan hidup.

3. Pengalaman lebih berharga dari memiliki barang.
Ceritanya pengen hidup lebih minimalis. Sebenarnya konsep hidup ini sudah saya terapkan untuk beberapa hal. Dan ini sangat sesuai dengan ciri hidup pasangan saya, jadi semoga ke depan tidak terlalu susah.

4. Hidup bersama dengan orang yang mengerti kita itu menyenangkan

5. (lanjut nanti ya)

Sementara itu dulu.

Terima kasih banyak, Sang Penyelenggara Hidup. Terima kasih sudah menyiapkan semua ini dengan sangat indah.


[ selengkapnya... ]

Menulis terakhir di Peel Street

Malam terakhir dan semua barang sudah selesai di-packing. Akhirnya saat ini akan datang juga. Namun di luar ekspektasi saya, saya tidak sesedih yang sebelumnya saya pernah bayangkan. Sedih pasti. Berat iya. Terutama tadi pagi, saat akan beraktivitas, seperti ada beban berat mengganjal di dada. Tapi lalu masih bisa saya bawa untuk berkegiatan ini di hari ini.

Mungkin karena entah bagaimana saya tahu  bahwa saya akan kembali lagi. Mungkin ada keyakinan bahwa hidup tidak berhenti sampai di sini ketika saya meninggalkan Melbourne. Mungkin.

Melbourne tanpa usaha yang berarti telah berhasil dengan sukses membuat saya dan Yosua jatuh hati dengan kota ini. Kami menikmati setiap detik keberadaan kami di kota ini. Entah itu mempelajari budaya, berkunjung ke tempat baru, mengenal sejarah, membangun pertemanan dan lainnya.

Kemarin, ada makan malam perpisahan dengan teman-teman gereja. Mereka adalah keluarga kami yang sesungguhnya di Melbourne ini. Walau hanya bertemu seminggu sekali (kadang dua kali) ada ikatan yang erat di antara kami berdua dan keluarga gereja CIUC. Berat meninggalkan gereja ini, tapi seperti lagu yang mereka yang nyanyikan untuk kami, kami percaya bahwa kita akan bertemu kembali. 'Sampai bertemu, bertemu, sampai lagi kita bertemu.'

Hari ini, justru hati saya belajar (kembali dan lagi) dari suami saya.

Pagi hari sebelum kami berangkat jalan-jalan mencari oleh-oleh, dia mencegat saya di pintu dan menyerahkan sejumlah uang dengan matanya yang berbinar, 'ini untuk kamu pakai beli hadiah ulang tahun.' Saya terenyuh dan terharu sekali untuk ini. Semua uang kerja dari dia selama ini selalu dikasih ke saya, dan kami terlalu sering bersama beberapa bulan terakhir ini, untuk saya tidak tahu, bahwa dia sedang menyimpan uang untuk suatu maksud. Ahh, lelaki ini, besar rasa sayangnya sama sekali tidak berubah dari dulu. Padahal, saya ini mungkin orang yang paling menyebalkan buat dia :'). hari itu, suami saya membelikan kami berdua sepasang sepatu. Mungkin sebagai simbol untuk kami melangkah lebih jauh lagi nanti.

Di luar sedang hujan.

Hari ini agak aneh, tadi siang sangat panas, lalu turun hujan yang sangat deras. Di Melbourne sini jarang sekali hujan begitu deras dan lama seperti tadi. Sampai-sampai saat sudah agak reda dan kami mau nyebrang di perempatan, ada genangan air di jalan raya dan ada orang lokal yang dengan takjub berkata, 'Look at the car who's coming, look at the water'. Katanya sambil menunjuk mobil yang melaju di atas genangan air yang mengakibatkan kayak semprotan air ke pinggir jalan. Saya dan Yosua tersenyum saat mendengar itu, kami berbisik, ya ampun bukannya itu tiap hari terjadi ya kalau musim hujan di tempat kami :D.

Jadi intinya?

Mungkin hari ini hanyalah satu hari yang lain. Mungkin tidak sespesial hari teakhir di Melbourne. Mungkin.

Tinggal di rumah ini, sungguh menyenangkan (walau juga membuat sakit kepala beberapa kali). Tapi Yosua dan saya belajar banyak di rumah ini.

Hari ini, biar saya tutup dengan harapan, bahwa kami akan kembali lagi ke Melbourne suatu waktu.


Terima kasih banyak untuk waktu-waktu yang berkesan ini, Melbourne. Terima kasih sudah memberi kami kenangan manis yang akan kami bawa dan ingat selalu.

Sampai bertemu lagi.


Peel Street, 29 Desember 2016 11:24 pm
[ selengkapnya... ]

24 Desember 2016

Kemarin adalah ulang tahunnya Yosua. Dan seperti yang sudah-sudah menjelang ulang tahunnya selalu saya yang deg-degan tanpa alasan yang jelas. Padahal tidak sedang menyiapkan kejutan apapun. Padahal tidak terlalu membuat sesuatu yang istimewa. 

Tepat pukul 00.00, saya membawa kue dan lilin sambil menyanyikan lagu happy birthday. Walaupun tentu saja beli kue bersama dia, dan dia yang memberi tahu di mana letak lilin serta pemantik api di rumah, tetap saja mukanya tersenyum bahagia saat itu. Kami berdoa lalu saya memintanya untuk membuat refleksi terhadap satu tahun belakangan ini. Tapi seperti biasa, Yosua tidak terlalu tertarik dengan ide-ide abstrak seperti itu.

Hari itu panas sekali. Kami ke pasar dan sarapan ribs and chips lalu lanjut membeli oleh-oleh dan pergi ke suatu tempat lalu balik ke rumah. Cuaca yang sangat panas, membuat tidak nyaman untuk berkeliaran di luar. Sedangkan dalam rumah, walau tidak pakai AC tapi adem. Satu lagi hal yang saya kagumi dari perencanaan tata kota tata bangunan di sini yang mana, sudah membuat sehingga suhu dalam rumah itu hampir selalu sama. Padahal ini bangunan super tua. 

Sorenya kami pergi ke kota untuk ikut perayaan natal di Melbourne Town Hall. Di situ bertemu dengan beberapa teman. Di gereja kami kebetulan tidak ada perayaan malam natal jadi kami ikut di sini. Cukup menyenangkan dengan christmas carol-nya dan lampu lilin yang dibagikan ke semua yang hadir. Malam itu banyak sekali yang mengikuti kebaktian. Baru saya sadar, ini mala natal pertama saya dan Yosua sebagai keluarga. Tapi hampir tak ada yang spesial. Mungkin karena setiap malam natal dalam 5 tahun terakhir ini kami selalu bersama di mana pun itu.

Pulangnya kami dan teman-teman makan di restoran korea. Seorang teman memimpin doa sebelum makan juga mendoakan Yosua yang sedang berulang tahun. Setelah itu kami menikmati makanan yang menurut saya pas di lidah.

Pulangnya kami pergi ke Woolworths membeli sesuatu lalu berjalan kaki pulang ke rumah

Di jalan, saya bertanya ke Yosua, 'Apakah kamu senang.' Dia berkata iya. Saya lebih senang lagi karena memiliki pasangan yang gampang sekali disenangkan :).


Hari ini hari Natal.

Natal pertama saya di Melbourne. Saya tidak mau menulis yang terakhir, karena bisa jadi akan ada kesempatan yang berikut. Masih sangat pagi untuk menceritakan cerita hari ini.

Tinggal 5 hari lagi kami di Melbourne. Saya belum merasa sedih, mungkin juga dalam hati kecil tahu kalau saya akan kembali ke sini. Entah kapan. Dan untuk itu, saya menaruh harap.

Selamat natal semuanya, semoga damai beserta kita selalu.

Salam,

Sandra.

Melbourne, 2016
[ selengkapnya... ]

Liburan Bersama Orang Tua di Melbourne

Sejak hari pertama saya datang ke Melbourne (Januari 2015), saya selalu berangan-angan untuk bisa menunjukkan kota ini dan segala keunikan serta keistimewaannya kepada orang terdekat saya. Lalu banyak sudah yang terjadi yang di taun 2015 dan 2016 itu. Antara lain, Yosua mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah ditekuni selama 3 tahun, lalu kami menikah dan dia ikut tinggal di sini setahun terakhir. Masih dalam angan saya, ingin sekali membawa orang tua juga ke sini untuk berlibur. Karena pikirnya, mumpung saya masih di sini sehingga punya alasan untuk berlibur ke luar negeri. Perlu diketahui, orang tua saya yang tinggal di SoE ini, hampir tidak pernah pergi ke tempat jauh hanya dengan alasan refreshing. Mereka datang ke Malang beberapa kali karena untuk menjenguk kami atau menghadiri wisuda kami. Mereka beberapa kali ke Manado untuk menjenguk Opa Oma dulu. Mama ke Bali beberapa kali dalam setahun karena memang untuk tugas. Ketika saya mengutarakan niat untuk ke Melbourne, untuk menghadiri wisuda saya, awalnya mereka sempat ragu.

Mereka baru 100% mengiyakan di bulan September 2016 sehingga lalu mereka baru mengurus paspor, dan saya mulai mencari tiket murah, yang kemudian sudah agak susah karena di bulan Desember itu adalah peak season. Lalu bulan Oktober kami mulai mengurus visa. Untuk pengurusan visa, saya memakai jasa dari IDP Denpasar (selembaga dengan IALF di jalan raya Sesetan). Asal semua dokumen lengkap, maka visa bisa terbit dengan cepat tanpa harus kita sendiri yang mengurus di kedutaan Australia. Pastinya hal ini memudahkan kami yang tinggalnya di daerah nun jauh.

Lalu waktu berjalan dengan cepat dan hampir tiba untuk berangkat. Ada satu peristiwa yang lalu membuat kami hampir ragu, orang tua bisa datang atau tidak, karena tiba-tiba sakitnya Papa kambuh yang sangat menyiksa dirinya sampai tidak bisa tidur beberapa hari. Tapi bersyukur kemudian semua bisa terlewati.

Saat mereka mau berangkat, saya sudah menulis detail apa saja yang harus dilewati untuk sampai ke pesawat di Denpasar dan untuk keluar dari bandara di Melbourne. Untungnya kemudian mereka bertemu orang baik hati di pesawat sehingga dibantu karena bahasa inggris orang tua sangat terbatas sekali.

Kami menjemput mereka di bandara pada malam hari dan saya melihat muka mereka kusut setelah perjalanan yang sangat jauh dari SoE - Kupang - Bali - Melbourne. Tapi setelah sampai di rumah kami, lalu makan, mereka berdua bisa beristirahat dengan sangat nyenyak. Kami bersyukur untuk itu, karena sehari sebelumnya mereka tidak bisa tidur sama sekali disebabkan sakitnya papa yang kembali menyerang. Kalau analisa sederhana saya, sepertinya itu disebabkan juga oleh rasa cemas dan stres untuk perjalanan jauh, sehingga mengganggu ritme tubuh.

Hari berikutnya, pagi hari saya mengajak mama ke pasar setelah kami sarapan roti dan teh. Pasar Queen Victoria Market hanya terletak 500 meter dari rumah kami. Papa setelah sarapan masih lanjut tidur lagi. Mama sangat terkesima dengan pasar Vicmart yang bersih, banyak macam jualan, teratur, dan serba ada ini. Kami membeli buah, sayur juga ikan. Pulangnya dimasakin mama ikan goreng dan sayur lalu kami makan siang bersama. Setelah itu, kami jalan kaki ke kota. Masuk ke State Library, jalan sepanjang CBD, ke Christmas Village di Swanston Street, Berfoto di depan Flinders Street Station, naik tram gratis ke Dockland, lanjut ke DFO Southwharf, mencari jam tangan di Emporium mall. Lalu jalan kaki pulang ke rumah.

Pasar Vic Mart





Mom and Son :)

Di depan icon-nya Melbourne, Flinders Street Station

Naik tram pertama kali :)
Hari Rabunya, adalah hari wisuda saya. Kami berempat keluar rumah sebelum jam 8 untuk ikut breakfast bersama staf pengajar dan wisudawan Melbourne School of Population and Global Health di Royal Exhibition Building, Carlton dan bertemu dengan teman-teman saya lalu mendengar kata-kata selamat dari kepala sekolahnya. Kemudian saya mengambil toga, dan kami mengikuti prosesi wisuda yang lumayan lama karena wisudawannya amat banyak sekali. Setelah itu kami ke kampus saya, the University of Melbourne untuk berfoto di sana. Abis dari situ, karena perut sudah lapar, kami makan di restoran italia, Universal di Lygon street. Habis dari situ saya mengantar pulang toga dan kami semua pulang ke rumah. Saya ingin sekali mengajak mama ke Summer Night Market di QVM tapi ternyata mereka kecapekan dan ingin istirahat saja di rumah malam itu.



Di kampus tercinta

:)

Hari Kamis, Yosua pergi menyewa mobil. Hari itu kami ingin melakukan perjalanan jauh ke Mornington Peninsula, yang sekitar 110 km dari kota Melbourne. Idenya adalah saya dan Yosua ingin menunjukan kehidupan country side-nya Australia ke mama papa. Benar saja, tanpa saya mempengaruhi, papa sangat terkesima dengan peternakan di tepi jalan, gerombolan sapi yang besar-besar, makanan sapi yang digulung-gulung, alat memberi pupuk untuk tanaman dan sebagainya. Kami sampai ke National Park-nya dan jalan kaki melewati tangga yang sudah disiapkan dengan rapih dan cantik untuk tiba di bibir laut. Awalnya mama ragu menuruni tangga tersebut, karena beliau takut ketinggian, tapi setelah diyakinkan (dengan agak paksa) oleh kami akhirnya beliau berani juga :p. Terbukti kemudian beliau sangat menikmati perjalanan di tangga tersebut karena memang pemandangannya indah, bersih, dan alami. Pulang dari sana kami kembali ke Melbourne lagi dan hari sudah sore, kami singgah makan di rumah makan Indonesia di Ayam Penyet Ria. Kami istirahat bentar d rumah, lalu jam 8 malam mumpung mobilnya masih ada, saya mengajak mama ke Barkly Square. Papa seperti biasa tidur. Beliau seperti membayar hutang tidur minggu-minggu sebelumnya itu. Di Barkly kita ke KMart dan Coles. Mama memborong coklat untuk oleh-oleh juga membeli beberapa barang di KMart.



Family :)



Hari Jumat pagi, Yosua mengembalikan mobil pagi-pagi. Saya, Mama dan Papa pergi ke Victoria Market. Kami mengelilingi beberapa sheds dan memebeli souvenir untuk kerabat. Setelah itu, ke toko daging membeli ayam lalu kami menikmati coklat panas serta cake di cafe di situ. Mama dan papa terlihat sangat menyukai coklat panas mereka. Pulangnya masih sempat beristirahat sedikit sebelum kami pergi ke Royal Park, karena janjian dengan teman-teman untuk barbecue. Awalnya saya dan Miftah (teman saya) yang merencanakan ini karena ingin menunjukkan ke orang tua kami budaya barbecue di sini. Ternyata banyak teman yang juga mau dan bersedia ikut. Jadi siang itu ada sekitar 17 orang yang bbc. Senang sekali. Di tambah lagi Royal Park itu indah, banyak permainannya, luas, asri dan pastinya bersih. Semua kekenyangan memakan sosis, ayam, fried zucchini (yang dibuat Lisa yang berasal dari US), buah, roti, juga nasi tentu saja :p. Pulangnya kami sempat tidur sore sebentar lalu kami berjalan kaki ke kota. Yosua sempat mengajak untuk masuk ke Flagstaff Station untuk melihat jalur kereta api bawah tanah, yang ada 4 lantai bawah tanah di situ. Kami pergi ke Federation Square, berfoto di Hosier Lane (yang ternyata orang tua tidak tertarik), menikmati street art performance, pergi ke QV membeli coklat (lagi) lalu pulang ke rumah.













Hari Sabtu, kami mengajak orang tua ke Brighton Beach, sekalian nyoba naik kereta api. Saat itu kami salah kostum, karena sampai di Brighton, anginnya kencaaaangg sekali. Jalan menyusuri pantai yang sebenarnya biasa saja, lalu tentu berfoto di bathing boxes yang berwarna-warni itu. Saat itu juga ada polisi pantai yang sedang latihan rescue yang lalu menjadi perhatian utama buat papa dibanding bathing box-nya :p. Naik ke jalan, kamis sempat berfoto di monumen juga di meriam tua yang dipakai saat perang dunia. Pulang dari sana, kembali ke Emporium lagi mencari jam tangan. Kali ini ketemu. Memang papa saat mau datang tidak ingin membeli apa-apa selain jam tangan, makanya sering banget kami ke mall hanya untuk cari jam tangan. Katanya mumpung di sini, sekalian nyari yang asli :).










Hari minggunya saya mengajak mereka ke gereja kami di Caulfield naik tram selama 1jam. Senang rasanya bisa memperkenalkan papa dan mama ke orang-orang gereja yang seperti saudara bagi kami ini. Kami makan siang bersama dan lalu kami pamit pulang. Mama meminta diantarkan ke toko barang bekas, lalu kami ke Savers di Brunswick. Hehe ternyata mama suka sekali memilah-milih barang di sana, yang kalau dengan teliti bisa dapat harta karun :D.

Papa bahkan sempat ikut koor di gereja :)




Lalu kami pulang, makan dan beristirahat. Seminggu ini berjalan dengan sangat cepat dan menyenangkan. Besoknya sudah harus kembali mengantar mama dan papa ke bandara. Walau agak sedih, tapi saya senang karena semuanya senang. Papa bahkan beberapa kali berkata, kalau ingin ke sini lagi.

Saya belajar beberapa hal dari liburan bersama orang tua saya ini:
1. Papa dan mama itu suka mengobservasi (sama kayak saya). Mama punya keahlian untuk mengobservasi orang-orang di jalan, kalau papa suka memperhatikan hal-hal kecil yang teknis di sekitar. Di hari pertama, mama sudah bisa menyimpulkan kalau orang Melbourne suka memakai baju hitam dan gelap. Lalu saya menceritakannya tentang Melbourne Black. Papa mirip dengan Yosua memperhatikan detil, seperti bangunan, bahan rumah, mobil, sambungan listrik, dan lainnya. Apalagi papa tidak sibuk dengan kamera untuk foto-foto, dia benar-benar hanya memperhatikan dan menikmati suasana.

2. Orang tua senang diajak liburan. Mama bilang sambil tersenyum lebar, 'ini kayak mimpi ya, mama bisa sampai ke sini'. Dan saya bisa melihat mereka betul-betul sangat menikmati liburan ini. Setiap malam, mama mencatat di notes kecilnya apa saja aktifitas hari ini, juga nama-nama tempat. Ini lalu menguatkan hipotesa bahwa pengalaman itu jauh lebih berharga dibanding memiliki barang. Papa terkesima dengan kerja di sini, ditambah lagi mendengar cerita dari Yosua sehingga papa lalu ingin supaya Nyongki juga bisa merasakan hidup di luar negeri.

3. Liburan itu bisa membuat badan lupa akan penyakit. Terbukti sejak  hari pertama papa bisa tidur nyenyak dan tidak pernah mengeluh tentang sakit di wajahnya. Ditambah lagi di sini kami jalan kaki jauh dan sering sehingga badan pun terasa enak dan ringan.

Semoga setelah ini masih ada lagi kesempatan untuk berlibur bersama keluarga :).




Melbourne, Desember 2016




[ selengkapnya... ]

Liburan Hari Pertama




Setelah tinggal di Melbourne hampir 2 tahun, akhirnya saya ke Sidney juga :p. Dan ini akan jadi perjalanan antar state pertama kali untuk liburan. Sebelumnya saya pernah ke Canberra untuk mengikuti conference.


Postingan kali ini lebih ke cerita saja ya, dibanding review tempat-tempat (karena emang belum kemana-mana sih).

Yosua dan saya berangkat ke Sidney memakai bus malam. Alasannya karena lebih murah dari tiket pesawat. Waktu itu kami pesan sudah cukup mepet, dan lagi saya juga bukan tipe orang yang rajin memantau harga tiket di internet tiap hari. Pengalaman saya beberapa bulan lalu naik bus ke Canberra pulang pergi cukup nyaman. Saya menikmati. Karena perjalanannya mulus, tidak oleng, tidak berliku. Saya pun cukup sering mengikuti tur wisata dengan bus seharian penuh dan selalu menikmati.

Untuk persiapan, saya termasuk yang suka mempersiapkan sesuatu dengan cukup detil. Sudah bikin list apa saja yang harus dibawa dan disiapkan, beberapa hari sebelumnya mulai packing dsb. Semua rasanya tidak ada yang lupa. Tapi hal yang saya remehkan justru yang terjadi.

Total perjalanan dari Melborne ke Sidney itu hampir 12 jam dengan 2 kali berhenti. Kita berangkat jam 7 malam. Saya tidak bisa tidur selama perjalanan. Cuma tidur ayam saja tidak sampai 2 jam. Masuk jam 5 pagi, bus sudah masuk New South Wales, dan mulai berhenti beberapa kali menurunkan penumpang. Jalanannya pun mulai berliku, diselingi banyak lampu merah. Mungkin karena perut lagi kosong, agak capek, juga bus yang berhenti-berhenti, saya merasa mual dan lalu muntah. Dalam kondisi di tas kami tidak ada satu kantong plastik pun. Sehingga scarf pun jadi korban -___-.

Turun dari bus, masih sangat pagi, jam 6.30. Perut kami keroncongan, juga ngantuk dan saya merasa sedikit pusing. Sedangkan waktu check in ke penginapan itu jam 12 siang. Di sekitar Sidney Central itu belum ada cafe yang buka. Akhirnya berkat bantuan gugel map kami mencari 711. Belum sampai ke sana, eh kok lambung saya beraksi lagi tanpa terkontrol. Saya makin lemas. Akhirnya Yosua yang lanjut mencari 711 (yang untungnya sudah dekat) dan saya duduk lemas di perhentian tram. Pagi itu kemudian kami buka dengan makan pop mie panas. Rasanya sedikit lega. Jam masih jam 7 lewat. Rencana awalnya nih ya, waktu masih di Melbourne, kami pikir walau masih pagi kami ingin mengelilingi kota Sidney dengan nenteng-nenteng ransel sambil tunggu jam check in. Tapi apa daya kondisi tubuh berkata lain. 

Sambil nunggu Pop mie :p

Yosua pun mengusulkan nunggu di taman. Karena pikirnya bakal banyak taman juga kayak di Melbourne, yang setiap blok ada tamannya. Cek gugel map, ada Chinese garden. Kami jalan 1km lebih sampe sana, ternyata tamannya tutup -__-. Jadilah duduk di kursi-kursi ngadep jalan melihat orang-orang lagi berangkat kantor atau olahraga. Duduk di situ sekitar 1.5 jam, saya bahkan sempat tidur dikit. (Ya ampun asli tampang udah ngga karuan). Perut kok lapar lagi. Tapi waktu itu belum jam 9 dan rumah makan (yang sedia nasi) pada belum buka. Jadi kami mutar-mutar bentar trus nekat pergi ke akomodasi kami yang kami pesan lewat AirBnB. Lokasi kami nginap memang di suburb yang sekitar 40 menit naik bus dari kota. Sampai di jalan depan rumah, nekat telpon owner-nya. Untung ya mereka baik. Karena kami dibolehin masuk, walaupun janjian check in jam 12 :').

Syukurlah...

Kami mengganjal perut dengan cupcakes yang dibawa dari Melbourne. Terus karena ngantuk sekali, kami tidur sebentar, lalu mandi, lalu naik bus kembali ke kota buat cari makan. 

Dalam kondisi seperti ini (lapar, pusing, masuk angin, ngantuk, capek), makanan apa yang bisa menenangkan? Yakkk betul sekali, makanan Indonesia! Kita makan di rumah makan Shalom yang terletak di dekat Darling Harbour. Kayaknya terkenal banget ya rumah makan ini. Emang enak sih. Saya suka iga bakar bumbu rujaknya :). Perut kenyang, hati senang, baru deh lanjut jalan-jalan.

Ngga ada yang terlalu istimewa sih hari pertama. Dan memang juga tidak mengharapkan yang istimewa. Justru lebih senang kalau dalam perjalanan tuh belajar hal-hal praktis kayak gini :D.

Masih ada 2 hari lagi di Sidney sebelum lanjut ke state lain. Semoga tetap menyenangkan :).

Earlwood, 30 November 2016

Kamar kami untuk 3 hari ini

[ selengkapnya... ]

Tur (Gratis) ke Wilsons Promontory

Sebelum cerita perjalanannya, saya cerita dulu ya gimana bisa dapat tur gratis ini :). Jadi akhir bulan Juli kemarin, saya iseng mengikuti kompetisi menulis untuk siswa international di Victoria yang diadakan oleh Study Melbourne bekerja sama dengan Melbourne Writers Festival. Bersyukur kemudian saya terpilih jadi finalis, lalu saat pengumuman pemenang nama saya pun disebut sebagai peraih people's choice award. Kalau mau membaca tulisan saya, ada di sini. Beneran ngga nyangka, karena menulis itu saya sedikit terburu-buru, tidak pakai proof read, dan mepet sekali saat deadline-nya (hmm sounds familiar kayak lagi ngerjain tugas :p). Tapi mungkin 2016 adalah tahun keberuntungan saya, karena kemudian lalu saya diwawancara oleh SBS Australia program Bahasa Indonesia juga disebut di sini. Bagi saya ini menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga tentu saja.

Nah salah satu hadiahnya adalah mendapat voucher tour dari Bunyip travel untuk 2 orang. Yeiy, pas dong ya buat saya dan Yosua. Kami memilih paket ke Wilsons Promontory National Park. Turnya itu setiap Rabu dan Minggu. Hari Minggu kami tidak bisa, jadi bisanya Rabu. Tapi selama Rabu semester ini, Yosua ada kelas Bahasa Inggris, jadi baru bebas setelah minggu ke2 November. Kami liat-liat jadwal di kalender ternyata, setelah ini jadwal kami sudah penuh, dan lagi bulan depan kami sudah pulang Indonesia. Satu-satunya yang bisa ya Rabu ini, tanggal 23 November. Sebelumnya kami liat perkiraan cuaca, sudah tidak berharap banyak karena cuacanya di Melbourne dan Wilson prom itu hujan dan berawan. Tapi kata Yosua, 'pergi aja, toh gratis juga'. Iya sih. Benar saja, hari Rabu pagi itu kami berangkat ke tempat travelnya diiringi gerimis mengundang. Sekitar pukul 07.30 bus kecil yang mengangkut kami datang. Kali ini tidak seperti tur yang pernah kami ikuti, bus yang ini kecil berisi maksimal 20 orang. Tour guide sekaligus driver-nya bernama Andrew, yang adalah pensiunan tentara. Andrew itu ramah dan informatif.
The bus

Pemandangan sepanjang jalan

Cuaca yang berawan di selingi hujan menghantar kami ke Wilsons Prom. Waktu tempuh dari Melbourne ke sana berkisar 3 jam lebih. Kami sempat beristirahat di 2 tempat. Saat istirahat di tempat pertama, Andrew berkata bahwa tidak usah khawatir dengan cuaca yang sekarang. Justru kalau dimulai dengan cuaca seperti ini biasanya sampai di atas, cuaca akan menjadi bagus. Waktu itu dalam hati saya meragukan. Karena saya sudah mengecek cuacanya Wilsons Prom dan seharian itu bakalan kelabu.

Tapi ternyata, pengalaman, firasat dan kepekaan itu jauh lebih tajam dibanding teknologi ya :D. Benar saja, hujan berhenti setelah perhentian kedua dan langit pun mulai keliatan :).

Wilsons Promontory itu adalah taman nasional yang begitu luas di Victoria. Dulunya ditempati oleh kaum aboriginal sekitar 6,500 tahun lalu. Wilayah ini (dulu) terkenal dengan tempat penghasil makanan. Saat ini, banyak orang datang ke sini untuk mendaki gunung, berkemah, jalan-jalan, main ke lautnya. Bagi Andrew (mungkin karena tur guide juga ya). Wilsons prom adalah tempat paling indah di Australia. Saya pernah dengar juga sih dari ada teman yang sudah mengelilingi beberapa state juga berkata begitu. Saya setuju kalau, tempat ini yang paling indah dari (sedikit) tempat yang sudah saya kunjungi di sini.


Bus yang kami tumpangi di parkir di kaki gunung. Lalu kami mendaki sejauh 3.5 km untuk sampai ke puncak gunung Oberon. Beratnya pendakian ini termasuk yang medium. Yang bikin saya sangat kagum, ada dua orang peserta tur yang berusia sekitar 70an atau 80an ya, mereka mendaki dengan santai. Pelan tapi pasti. Bahkan ketika sampai ke puncak pun, saya tidak melihat napas mereka terengah-engah. Saya langsung berkata ke Yosua untuk akan lebih memperhatikan kesehatan kami. Banyak bergerak, makan sehat dan istirahat cukup biar terus kuat.

Dua orang kuat ini :)


Sepertinya langsung ke foto-foto saja ya, biarkan foto yang bercerita banyak :D. Karena memang indah sekali pemandangan di atas.

Gunung yang akan didaki

Start from here

Keep moving forward!
Bentar lagi :)

Yuhuuuu










Setelah turun gunung, kami ke pantai Squeaky yang juga masih di Wilsons Prom :). Pantainya bagus sekali, pasir putih dan halus, lautnya biru yang meneduhkan. Istimewanya, selain dikelilingi gunung, pantai ini juga memiliki batu-batu raksasa berwarna merah yang seperti dipotong-potong! Juga ada batu kayak cookies coco chips :)









Terima kasih banyak-banyak, suami :)

Sekiaan dulu cerita dan foto-fotonya :).

Menyenangkan sekali bisa berkesempatan pergi ke salah satu tempat yang bersejarah lagi indah di Australia.

Salam,

Sandra
November 2016


[ selengkapnya... ]