Postingan

Tips Menyederhanakan Hidup untuk Menghindari Cemas

Saya masih ingat percakapan saya dengan seorang sejawat Dokter senior. Dia bilang kalau semua orang, umumnya memiliki sebuah kecenderungan isu kesehatan mental. Bukan yang ekstrim sampai harus dibantu dengan obat-obatan, tapi hanya berupa tendensi saja. Contohnya: ada orang yang cenderung untuk takut ruang tertutup, bukan sampai ke clustrophobia, tapi orang tersebut agak takut jika masuk lift. Atau ada orang yang gampang tertekan jika ada suatu masalah, yang mungkin menurut orang lain itu adalah hal kecil. Ada beberapa orang prefeksionis yang cenderung obsesif, yang kadang harus mengecek beberapa kali hal-hal yang sebenarnya telah dilakukan. Kalau saya, saya ini gampang cemas.

Saya mudah khawatir untuk hal-hal yang belum terjadi. Kecemasan saya ini, beberapa tahun terakhir semakin bertambah (mungkin juga dengan semakin bertambahnya umur dan juga tanggung jawab ya). Yang tahu hal ini tentu saja orang yang sehari-hari bersama saya, dalam hal ini suami. Suami saya pernah bilang: 'Kam…

Pelayanan Rumah Sakit Mata Dr Yap Yogyakarta

Gambar
Halo Semuanya,

Mungkin kali ini saya akan menulis tentang pengalaman saya mengantar mama berobat di RS Mata Dr Yap Yogyakarta. 
Ibu saya di pertengahan bulan Juni saat libur lebaran tahun 2018 ini mengalami gangguan di mata kanannya. Kejadiannya sangat mendadak, beliau bangun pagi dan mendapati bahwa mata kanan beliau tidak bisa melihat apa-apa. Hal ini tanpa disertai rasa nyeri, atau rasa apapun, juga tak ada perubahan di mata bagian luar. Jika dilihat dari luar, tidak ada yang berubah dari mata ibu saya. Saat itu ibu saya hanya mengeluh ke ayah  dan adik saya. Ibu saya berkata, 'be pung mata ni kabur e.' Mungkin karena beliau memakai istilah 'kabur' sehingga orang yang mendengar pun menginterpretasikan menjadi: ya paling kabur kayak lagi pusing kepala. Dan karena ibu saya tidak merasa kesakitan, dan tidak ada mata merah, bengkak atau apapun, beliau berpikir bahwa kelainan ini akan berlangsung secara cepat dan membaik. 
Ibu saya baru memberitahu saya ketika sudah semi…

Ke Pasar

Biasanya orang-orang yang jarang melakukan sesuatu hal yang biasa saja, justru dia yang akan paling heboh koar-koar. Contohnya, ada video youtube dari brightside tentang seseorang yang bereksperimen bangun pagi satu-dua jam lebih awal dari biasanya selama satu minggu dan efeknya ternyata luar biasa membuat dia lebih produktif. Bagi banyak orang lain di luar sana, bangun pagi sebelum matahari terbit adalah sebuah aktivitas biasa dan sehari-hari. Tidak perlu dibikin satu konten youtube dengan animasi yang spektakuler untuk menunjukan manfaat bangun pagi.

Ya sama kayak saya kali ini.

Baru sekitar satu bulan ini saya rajin ke pasar tradisional. Dan akhirnya satu postingan blog saya buatkan. Padahal, jutaan orang secara rutin ke pasar sepanjang hidupnya dan biasa saja.  Inipun karena ibu saya sedang ada di Jogja sehingga setiap dua hari sekali, kemi berdua akan pergi ke pasar. Jam setengah tujuh sampai jam 7 pagi, kami sudah jalan kaki menuju ke pasar yang berjarak sekitar 800 meter dari r…

You Are What You Wear (?)

Gambar
Sewaktu merantau SMA di Malang, setiap hari saya naik angkot melewati sebuah toko baju Darmo di Jalan Letjen Sutoyo. Toko baju itu pada masanya (saya SMA tahun 2002) cukup terkenal, karena tokonya besar namun nyaman, harga pun terjangkau. Di tembok bagian depan toko itu, ada tagline besar yang tertulis: 'You Are What You Wear'. Saya yang dari atas angkot sekalipun selalu bisa membaca tulisan tersebut.

Entah kenapa, enam belas tahun berselang, saya teringat quote di atas dan ingin menulis tentang itu.
Di sini, saya tidak bermaksud untuk melakukan simplifikasi terhadap sesuatu. Manusia dan segala kompleksitasnya pun tak mungkin juga HANYA dapat disederhanakan karakternya melalui apa yang dia kenakan.
Namun, anggap saja apa yang kita kenakan itu sedikit bisa menggambarkan kita atau katakanlah menyumbang sebagian dari perwujudan karakter kita.
Darmo itu memang toko baju, tapi kata 'wear' di sini ingin saya perluas juga dengan benda lain yang kita kenakan di tubuh. Contohny…

Belajar Bermain Gitar

Saya mengetik ini dengan kondisi jari-jari tangan kiri terasa sedikit sakit. Seminggu ini, saya sedang berlatih memainkan gitar. Yosua membelikan sebuah gitar kecil, atau yang disebut guitalele (dengan 6 senar). Kebetulan ini juga untuk mengisi hari libur lebaran yang panjang. Libur lebaran ini kami tidak kemana-mana hanya pergi ke tempat-tempat seputaran Jogja saja. Dengan adanya guitalele ini, sepanjang pagi dan sore, kami selalu menghabiskan dengan bernyanyi diiringi gitar. Menyenangkan sekali.

Sejak masih SD, saya sudah ingin sekali belajar gitar. Dulu, asisten rumah tangga kami mempunyai sebuah gitar. Dia mengajari saya dan Nike. Namun, gitar itu tidak bertahan lama ada di rumah. Saya lupa sebabnya kenapa. Tentu tidak mungkin saya meminta orang tua untuk membeli gitar pada saat itu. Alasannya: segala bentuk hiburan selain buku bacaan tidak mungkin ada di rumah kami. Ibu saya terlalu hemat untuk membeli kebutuhan tersier. Saya pernah bercerita tentang bagaimana ibu mengikat perut …

Tidur Nyenyak

Gambar
Saya bukan seseorang yang suka olah raga. Aktivitas fisik yang dengan senang hati saya tekuni adalah berjalan kaki. Saya pun bukan seseorang yang selalu makan sehat. Namun, boleh dikatakan, dengan tubuh super kurus ini, saya jarang sekali sakit. Dalam satu tahun terakhir, saya tidak pernah batuk pilek. Kadang Yosua kena flu, atau teman kantor kena flu namun saya tidak. Beberapa kali, tenggorokan saya berasa gatal seperti gejala flu, namun saya cukup minum air putih yang banyak dan tidur semalaman, besoknya sudah kembali seperti biasa.

Mungkin, rahasia kecil saya adalah tidur cukup. Bagi saya, tidur malam minimal 7-8 jam adalah kunci memulai hari yang produktif. Waktu tidurnya pun selalu tetap. Jam 10 malam, saya sudah baring-baring di kasur. Jika beruntung akan langsung tidur, jika tidak paling lambat jam 11 sudah tertidur. Dan akan bangun keesokan harinya jam 6 sampai jam 7 pagi (jika tidur di jam 11). Saya yang pemalas ini, kadang suka melewatkan makan malam dan akhirnya lebih memil…

Memulai Residensi (Independen) di Kota Orang

Usia pernikahan saya dan Yosua baru 2 tahun lebih, tapi dalam rentang waktu singkat ini, kami telah menikmati (kalau boleh dikatakan demikian) residensi di 3 kota yang berbeda dengan tinggal mandiri di rumah kontrakan. Pertama di Melbourne tahun 2016, di Kupang tahun 2017 dan mulai Mei 2018 ini di Jogja.

Jadi hampir setiap tahun belakangan ini, kami harus melewati masa-masa berpusing ria mencari-cari info kontrakan, menghubungi mereka yang memasang iklan, bertanya-tanya, melakukan inspeksi rumah, mengambil keputusan (yang biasanya dengan cepat) dan lalu pindah. Belum lagi membeli barang untuk mengisi rumah. Karena pindahannya antar benua, antar pulau yang sangat berjauhan, tidak mungkin barang-barang kami kirimkan. Alhasil, barang di Melbourne kami hibahkan sedangkan barang di Kupang sebagian dijual kembali, sebagian lagi nitip di rumah orang tua saya. Untuk di Jogja, kami baru saja mulai hunting beberapa barang. Per hari kemarin kami sudah meninggali rumah tersebut.

Apakah melelahkan…