Bertemu Dengan Orang-Orang Baik Bagian Kesekian

Di postingan lama saya, saya pernah menulis tentang pengalaman saya bertemu dengan orang yang baik dan suka menolong. Dalam perjalanan selanjutnya saya juga selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Ketika saya di Melbourne, saat setahun pertama masih sendiri maupun setelah dengan yosua di sini, saya pun selalu merasakan hal yang sama. Banyak sekali orang-orang baik, berhati mulia yang membuat hidup semakin mudah dijalani.

Dua minggu terakhir ini saya pun kembali bertemu dengan mereka-mereka yang berhati malaikat di pekerjaan saya.

Peran saya di pekerjaan baru saya adalah kami mengadakan banyak diskusi kelompok terfokus di desa-desa daerah intervensi NGO kami. Tujuannya untuk mendapatkan pengertian mendalam mengenai apa yang masyarakat ketahui tentang gizi, hidup sehat, dan hal-hal yang berkaitan. Waktu pelaksanaannya cukup padat. Sedangkan tim kami hanya berdua saja. Waktu kami untuk berkoordinasi dengan desa maupun para bidan juga terbatas. Dan namanya juga mengadakan kegiatan di desa yang jauh dari kota (kantor kami) pasti ada banyak kendala.

Tetapi bersyukurnya, kami dibantu oleh banyak sekali orang-orang berhati mulia ini.
Contohnya di satu desa, ibu bidan desa begitu aktif menghubungi kader maupun orang tua dari anak penerima bantuan ini. Dan mereka pun antusias mengikuti diskusi. Padahal kalau mau dipikir, ini bukan pekerjaan mereka. Mereka pun tidak mendapat tambahan apa-apa dari sini.

Di desa lain, bapak kepala desa begitu aktif untuk menghubungi warganya. mereka mengeluarkan surat, mengajak para kader dan aparat desa. Bahkan ada kepala desa yang saat hari H kegiatan baru tahu kegiatan ini dan beliau dengan inisiatifnya sendiri malah menjemput para ibu-ibu ini, dan setengah jam kemudian kami pun memulai diskusi. Luar biasa mendukung.

para ibu kader maupun tim PKK dengan tidak bersungut rela menunggu sampai semua kumpul dulu baru diskusi. Hampir tidak ada sambutan negatif dari masyarakat.

Saya jujur terenyuh dengan sikap penerimaan dari bapak-mama di kabupaten Kupang ini. Dulu saat saya kerja di puskesmas, saya pun menerima banyak kemudahan, mungkin karena saat itu saya juga bagian dari pemerintahan. Dan kita ada asas saling membutuhkan di sini. Namun kali ini, saya berasal dari organisasi luar yang tidak terlalu banyak kaitan dengan desa. Kami datang juga tidak membawa 'uang duduk', tapi sikap yang kami terima begitu baik. Senang sekali bertemu dengan masyarakat yang berpikiran terbuka.

Seorang teman di kantor berkata seperti ini, 'Bagaimana proses diskusi di kecamatan xxx, kan di situ banyak orang suku xxx?' Dia berasumsi kami akan mendapat perlakuan tidak baik di situ. Padahal sebaliknya, justru di kecamatan itu kami sangat diterima dan dibantu.  Dan saya pribadi sama sekali tidak terbersit ada pikiran negatif saat masuk ke wilayah itu.

Hmm mungkin selama ini kita terlalu banyak membuat asumsi terhadap orang-orang. Sudah jarang kita melihat manusia hanya utuh sebagai manusia. Terlepas dari suku asal, terlepas dari status, tingkat pendidikan, gender dll.

Saya kembali diajarkan terhadap nilai hidup paling mendasar untuk saling menolong. Menolong tanpa pamrih.

Semoga saya kelak akan selalu ingat itu.

Dan saya pun diingatkan terus untuk tidak mengotak-ngotakkan manusia, dan tidak melabeli manusia.

Human is human.

Semoga sebagai manusia, kita belajar terus untuk peka terhadap manusia lain.

Hal-hal kecil seperti itu saja sudah cukup sangat menyejukan hati saya di tengah cuaca Kupang yang kembali panas.



(Menulis sesaat setelah men-transkrip rekaman diskusi dan mendengar kembali jawaban-jawaban dari masyarakat yang beragam dan mendalam. Suka :) )

Kupang, 21 Feb 2017
[ selengkapnya... ]

Bagaimana Bisa

“Bagaimana bisa aku tak ada di setiapmu melihat, Sementara ku ada…”

Begitulah sepenggal lirik lagu Kotak – Selalu Cinta yang dibawakan oleh teman dosen Emma saat penguburan Emma. Sebelum menyanyi, dia mengatakan bahwa lagu ini adalah lagu kesukaan Emma yang sering sekali dinyanyikannya. Saya yang duduk di barisan belakang di tenda kedukaan itu pun ikut larut. Lagu itu kemudian masih terngiang sampai hari ini saat menulis blog ini.

Emma sudah pergi.

Emma adalah sahabat saya saat masih SMP. Dia duduk di belakang saya saat kelas 3 SMP. Kita cukup akrab sampai membuat satu kelompok bersama 3 teman lainnya yang dinamakan ‘Buntut’. Entah kenapa memilih nama itu. Tapi kita cukup bangga memakainya, sampai menorah meja belajar sekolah dengan kata itu. Emma yang paling tomboi walau saat itu rambutnya panjang. Emma yang selalu semangat, dan selalu ceria tertawa. Hampir tak pernah melihat Emma bete. Ketika SMA, saya sekolah di Malang. Setiap liburan masih sempat bertemu Emma dan lainnya. Emma masih sama.

Ketika kuliah, saya masih di Malang, Emma kuliah keperawatan di Kediri. Suatu waktu saya ke Kediri dan kita masih bertemu. Kita menonton pertandingan Futsal bersama. Emma berkunjung ke tempat saya menginap. Beberapa waktu, saat Emma praktek di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang, dan saya Coass waktu itu, kita pun menghabiskan waktu bersama. Kita makan di warung belakang rumah sakit, dia ke kosan saya, kami ke kosan teman yang juga dari Soe.

Emma duluan pulang ke Timor dan langsung mendapat kerja sebagai dosen di sebuah sekolah tinggi kesehatan. Kami sudah mulai jarang berkomunikasi. Sesekali kami mengirim pesan lewat facebook atau SMS. Saya menikmati setiap postingan Emma di facebook. Emma yang aktif di kampus. Emma dan teman-teman dosennya. Emma saat MC. Emma dengan para mahasiswa. Emma pula yang lalu menawarkan ke Nike untuk menjadi tenaga lepas pengajar di kampusnya.

Kami masih bertemu satu dua kali di nikahan teman di SoE. Emma yang semangat. Masih sempat bercerita dan bertukar kabar.


Lalu saya mulai sibuk dengan urusan keberangkatan sekolah. Beberapa kali mendengar kabar sedih tentang Emma. Ibunya meninggal. Lalu ayahnya meninggal. Saya tak ada di SoE untuk menghibur Emma.


Desember akhir 2015 saya hanya menghubungi dia lewat pesan di facebook, dan mengundang dia di nikahan saya. Dia janji dia datang. Dan Emma datang. Tentu saat itu saya tak sempat mengobrol banyak dengan Emma. Yang saya ingat, Emma tampak cantik dan anggun dengan gaun merah yang pas di badan. Oh ya, Emma tak lagi tomboy saat dia mulai bekerja.

Saya kembali ke Melbourne, dan mulai mendengar kabar tak sedap tentang Emma. Emma sakit yang cukup parah. Emma di operasi. Emma di kemoterapi. Setelah selesai Operasi, kami masih sempat chatting dan Emma bilang dia sudah mulai kuat.

Januari saat saya pulang dan lalu dapat kerja di Kupang, saya sudah kehilangan berita tentang Emma yang tak pernah lagi muncul di fb. Seorang temannya meng-tag nama Emma saat dia menjenguk di RS di Kupang. Hati saya mencelos mengingat Emma. Besoknya sepulang kerja saya ke RS dan mendapati Emma sudah pulang tadi pagi.

Akhir pekan dua minggu kemudian saya ke SoE, saya tidak ketemu Emma. Padahal saya sudah berencana mau ketemu Emma.

Hari Rabunya, seorang teman mengabari bahwa Emma sudah pergi.

Dan untuk itu, sampai hari ini, saya masih sangat menyesal belum sempat bertemu Emma.

Penguburan Emma dilakukan hari Sabtu, sehingga saya dan Suami bisa berangkat ke SoE pagi-pagi. Tangis saya pecah saat melihat jenazah Emma. Emma sudah kaku dan pucat. Tak ada lagi Emma yang semangat dengan tawanya yang berderai. Tak ada lagi Emma yang selalu berbicara dengan intonasi yang tinggi. Tak ada lagi Emma yang baik hati, yang selalu peduli dengan semua temannya.

Ketika penguburan Emma, hujan turun beberapa kali. Mungkin alam juga ikut sedih mengantar kepergian Emma.

Di awal 2017 ini, saya sudah kehilangan dua sahabat.

Bulan Januari, sahabat soulgroup saat coass, Ferdi meninggal dunia juga karena sakit yang tiba-tiba. Dan sekarang Emma.

Kedua peristiwa ini lalu kembali mengingatkan saya tentang hidup yang sementara.

Sudahlah, saya tak harus menutup postingan ini dengan pelajaran-pelajaran hidup. Karena rasanya egois sekali bagi saya kalau untuk pelajaran ini, nyawa dua teman saya menghilang.

Postingan ini adalah tentang Emma.
Sepulang dari pemakaman Emma, saya melihat akun facebook Emma dan membaca semua postingan dari teman-teman Emma. Banyak sekali yang mempunyai kenangan indah bersama Emma. Banyak sekali yang kehilangan Emma. Terlihat juga dari begitu banyaknya teman Emma dari Kupang dan para mahasiswa yang datang ke penguburan Emma.
Emma sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan Emma meninggalkan kesan yang baik.

Saya hanya sangat menyesal, tidak sempat melihat Emma saat sakit.

Emma sudah tenang sekarang. Emma sudah tidak lagi kesakitan.

Saya mencari-cari file foto saya berdua bersama Emma. Namun tak ada, sepertinya ada di laptop lama saya yang sudah hilang.

Tak apa.

Semua kenangan tentang Emma, akan terus saya simpan.

Selamat beristirahat tanpa diganggu, temanku, Emma. Semoga Emma kasih maaf beta yang keterlaluan ini. Beta sayang Emma.




[ selengkapnya... ]

A Doctor Who Doesn't Work As A Clinician

 This is only my reflection of my feeling after I decided to left my clinical practice for three years (and still) because of pursuing my graduate degree.

When I was still in Melbourne, this question used to come into mind, ‘do I still want to use my medical skill in practice?’ But I always came up with a conclusion that ‘maybe yes, but I definitely do not want to work in a hospital or in an emergency room/situation.’ The next question came to my mind was, ‘do I really want to be a teacher?’ As I met a principal of medical school in Kupang and He gave me a picture of being a lecturer. My parents also ever told me that better if I teach in medical school. Well, I love the idea of teaching. But still, ‘do I have to do it now?’.

At that time, I was confused. But on the other hand, I knew that I was aware of what I really wanted. And it happened!

I got my first job in the first week after I came back to SoE in an international NGO based in Kupang (this is the only job I applied without so many considerations. I was only interested in that project and that’s all). This job doesn’t require my medical skills, but merely it needs my research skill (my new interest).

So here we go, this is my first time to not to be a doctor in a workplace, where I used to be a doctor.

How do I feel?
It is definitely a mixed feeling. I miss the old times with my stethoscope, speaking to patients, make diagnoses, and write prescriptions. But also, I am excited with my new roles and my new responsibility. It is only a short term job, so it may be fun to learn new things, and do what I love to do, in this cases make a research.

What do I learn?
I learn a lot! I just worked for like 2 weeks. But I have learnt so many things, regarding the idea of a doctor who works not as a doctor.
First, I try so hard to put my doctor ego far far away. Just admit these, most doctors are exclusive, most doctors are really proud of their profession, and me either. Most people whose jobs deal with life (and power) know exactly what I mean. When I worked in Puskesmas, people treated me as someone who was so important. And sometimes, somehow, admittedly I sort of enjoyed it. It’s normal, huh?

In my interview my boss asked me this question: ‘How will you work with your team? Most people think that doctors are smart (and arrogant, he didn’t mention this, but I knew this was what he meant), and people will find it difficult to work with them.’
So I answered, ‘As I am not working in an clinical intervention, I want people to know me as Sandra as a whole, not only my education background.’

One week I worked, my boss asked me, ‘What do you prefer to be called, ‘Dokter Sandra’ or ‘Sandra’? Without any doubt I answered, ‘just simply call me Sandra. I do not want to create any gaps.’

Actually it’s not a big deal. I have been getting used with it for a quite long time. Maybe because of 2 years studying abroad.

Doctor ego I mean hear is the privilege of a (single) decision maker you have when you are (the only) doctor. In my case, because I worked for 3 years in primary health care, so I rarely made a consultation about my patients. I was pretty confident with my diagnoses.

But for now, because I work with a team, I work under a manager, I work with other partners, I work for an organisation, so there are some rules I should consider (and there are some things that limit my actions as well).

Secondly, I try to not to think what others think about my new role. For example when my team and i did field visit to Posyandu (contoh dalam Bahasa Indonesia biar lebih kena),
Petugas Puskesmas: Pendidikannya apa?
Saya : Dokter umum, Bu
PP : Kenapa tidak PTT?
S : Sudah PTT bu, 3 tahun
PP : Kenapa tidak lanjut sekolah?
S : Sudah lanjut juga, ini baru lulus.
PP : Oh (dengan wajah heran).

In many cases, I was to lazy to explain. Because I knew they never listened. They are not interested in something that is uncommon for them. It might be different if like so many other doctors, i finished my PTT, then took specialisation and then work in a big hospital. So much pride in there. And that was what people want to hear.

My job now might be not my dream job. I only want to follow my passion, which is dealing with the community and researching. I always say to my self that this is not my workplace. This is my learning space. I learn here and I get (better) paid. Totally fair enough. I learn so much, more about human relationships and professionalism.

Do I miss to work as a doctor? A bit. But not really. I still can be a doctor to my inner cycle ;).

Will I be back to the clinical field? Who knows.

The most essential thing is I will never stop learning and doing things that I love. Whatever it is, including blogging.


Conclusion: do whatever you love to do. We are not limited only by our job. We are also not only defined by our professions. We can do something different and bigger than that.

Oebobo, 2017
[ selengkapnya... ]

Tentang Embel-Embelnya Kita

Sebagai seseorang yang paling lama kerja di satu tempat itu hanya 2 tahun, saya sudah akrab dengan perasaan ini. Yaitu, merasa bingung untuk menjelaskan tentang ‘siapa’ saya. Sudah jadi budaya ya, kalau kita ketemu orang, selain nanya, ‘apa kabar?’, pertanyaan basa-basi berikutnya adalah, ‘sekarang kerja di mana?’ Dan tentu saja hal itu adalah hal yang lumrah dan sudah mengakar. Karena kita dibentuk untuk mengukur seseorang dari pekerjaan dia sekarang. Kalau kita di Timor, kalau kita menjawab, ‘sudah PNS, kemarin baru saja dilantik 100%’. Sambutannya pasti, ‘wih bae su, luar biasa ya sudah ada kerja tetap.’ Pekerjaan sudah menjadi status sosial. Dari situ ketika kita menjawab kita kerja apa dan di mana, di kepala penanya mungkin mereka sudah mengira-ngira oh kira-kira orang ini sebulan dapat gaji berapa dan kekayaan dia apa.

Teman-teman sebaya saya yang kebanyakan sudah berusia 29 dan 30 tahun, banyak dari mereka yang sudah bekerja di satu tempat di atas 5 tahun. Dan banyak juga dari mereka yang juga punya pemikiran seperti di atas. Sekali lagi, itu karena kita dibentuk untuk percaya bahwa kita menilai seseorang dari pekerjaannya.

Saat saya masih sekolah S2 di Melbourne, banyak sekali teman-teman yang bertanya, ‘Abis lulus kerja apa?’, ‘Oh, mau jadi dosen ya?’. Please don’t get me wrong, I 100% prefer questions like that than a question like, ‘Are you expecting? When will you have a kid?’.

Maksud dari postingan ini, sering sekali kita mematok pekerjaan sebagai kunci keberhasilan seseorang atau sesuatu yang mendefinisikan seseorang.

Jarang sekali ketika saya sekolah, saya mendapat pertanyaan dari teman-teman saya di Timor, seperti, ‘fokus kuliah-nya di mana? Mengapa tertarik hal itu? Lagi mengerjakan penelitian tentang apa?’ Intinya saat saya masih di Melbourne, jarang saya mendapat pertanyaan tentang kejadian saat itu, apa yang sedang saya alami dan lakukan saat itu. Semua lebih suka menanyakan, kelak saya akan kerja apa. Seolah-olah, tidak penting saya kuliah apa, kuliah di mana, selama kuliah saya berprestasi atau tidak, selama kuliah saya mendapat pengalaman apa, tapi lebih penting nanti saya akan menghasilkan berapa rupiah lewat pekerjaan saya.

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti Festival Elaf Dame, yang diadakan di Kapan oleh Lakoat Kujawas. Festival yang ditujukan untuk anak-anak di sekitar Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara ini, sangat menarik sekali karena dipenuhi oleh banyak aktivitas. Seperti, pemutaran film, permainan tradisional, pohon cita-cita, mewarnai, dan ditutup dengan pementasan teater cerita rakyat berjudul Kap Nam Tofena. Saya amat sangat menikmati kegiatan tersebut. Lebih dari itu, di kesempatan ini saya bertemu dengan relawan-relawan yang luar biasa berbakat. Beberapa dari mereka baru saja lulus kuliah, beberapa sudah bekerja, dan beberapa memang mengidentifikasikan diri sebagai relawan dan bekerja pada badan sosial. Ada celetukkan dari mereka bahwa, ‘nanti kalau ditanya beta kerja di mana, beta bakal jawab, kerja di lakoat kujawas.’ Ada juga yang ketika dalam perbincangan santai, mereka bilang, mereka itu, ‘komunitas pengangguran.’ Padahal, yang mereka kerjakan itu jauh jauh jauh sangat bertolak belakang dari definisi kata ‘nganggur’.

Menjadi relawan seperti mereka, bagi saya adalah suatu kegiatan yang mulia. Bayangkan, ketika mereka dengan semangat datang dari SoE (ada yang bahkan dari Kupang) mencemplungkan diri di kegiatan-kegiatan Lakoat Kujawas di Kapan, melatih adik-adik, mengurus mereka, menginspirasi mereka, memastikan semua kegiatan berjalan baik, mengeluarkan ide, tenaga, uang bensin, waktu dll dan semua itu dilakukan tanpa dibayar. Bukankah, jiwa menjadi relawan seperti itu sudah amat jarang sekali kita temukan di sekeliling kita?

Kan lebih banyak kalau pegawai di organisasi (pemerintah atau non pemerintah) kalau mau ke masyarakat, bertanya dulu, ‘ada uang jalan tidak? Besar tidak?’ Padahal gaji bulanan sudah ada.

Kembali ke cerita hidup saya (tsaahh) yang mungkin mirip dengan keadaan beberapa relawan di atas, kalau saat ini ada yang tanya, ‘Jadi nanti ngajar ya?’ atau ‘Nanti kerja di mana?’ Kemungkinan saya hanya akan menjawab dengan singkat, ya atau tidak tahu. Toh, jawaban apapun dari saya tidak akan mempengaruhi hidup si penanya (dan hidup saya juga) . Toh si penanya juga tidak berkontribusi sepeser pun untuk biaya hidup saya, kenapa terlalu ambil pusing?

Tentu saja, saya tidak mungkin menceritakan tentang mimpi. Tentu saja, saya tidak mungkin menceritakan tentang ide. Karena bagi mereka yang suka menanyakan ini, hal-hal itu adalah absurd. Karena hal yang nyata adalah, setiap hari memakai seragam, masuk kantor, dan setiap bulan mendapat gaji, entah performa kerja baik atau tidak akan tetap mendapat gaji.

Saya belajar di sini, untuk tidak melabeli seseorang dari pekerjaan mereka. Saya belajar untuk menghargai mimpi, ide, kreatifitas, passion, kesukaan, seseorang bukan hanya pekerjaan dia saja. Saya belajar untuk mendefinisikan pekerjaan dalam arti yang lebih luas, bukan saja pekerjaan yang menghasilkan uang setiap bulan, tetapi juga pekerjaan apapun yang membuat bahagia. Mungkin itu adalah menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan mengurus rumah, mungkin itu adalah menjadi peneliti dan pengembang ide, mungkin itu adalah menjadi blogger, mungkin itu menjadi relawan, mungkin itu penanam sayur dan buah, dan lainnya.

Dan sekali lagi pesan untuk diri sendiri, untuk tidak melabeli seseorang berdasarkan seragam mereka.


A human is like other humans, they have a lot of stories to tell. Just listen, and stop asking! J


Kepada para relawan yang menginspirasi: teruslah melakukan hal yang kalian suka dan yang bermanfaat. Teruslah menginspirasi lewat karya kalian. Teruslah mengasah sisi kemanusiaan kalian. Tutup telinga untuk semua suara sumbang. Banyak sekali yang membutuhkan kalian :).
[ selengkapnya... ]