Cerita Sederhana di Bulan Desember

Saya ingin mengumpulkan beberapa kejadian sederhana yang saya temui sehari-hari. Hal-hal yang mungkin sebenarnya biasa saja namun jika ditelaah punya kesan manis yang penting dipelajari. Berikut adalah hal-hal tersebut:

1. Di kantor saya, ada seorang staf ahli yaitu bapak-bapak berusia 62 tahun. Kami berdua cukup akrab, karena kebetulan mengurusi hal yang sama yaitu penyakit Tuberkulosis Resisten Obat. Tadi pagi dia berkata seperti ini: "saya kasih istri hadiah apa ya? besok mama (sebutan untuk istrinya) berulang tahun yang ke-59. tahun depan dia pensiun." Saya langsung senyum membayangkan betapa istrinya keesokan hari akan tersenyum bahagia mendapat kejutan kecil dari suaminya. Fyi, orang tua saya yang juga berumur hampir mirip saja tidak pernah sekalipun saling memberi hadiah saat ulang tahun :). Kayaknya, perbuatan baik dari senior saya ini patut saya tiru.

2. Kemarin hari minggu jam 9, mama menelepon kalau mama dan papa sedang dalam perjalanan dari Soe ke Kupang. Mereka membawa serta seorang tukang kebun untuk membersihkan halaman kontrakan kami yang rumputnya sudah tinggi. Tentu saja, ini ide dari Papa. Karena Papa punya sedikit obsesi terhadap rumput atau daun gugur di halaman. Padahal saya sih senang-senang saja melihat rumah yang hijau (karena rumput liar :p). Jadilah, seharian minggu itu, bapak tukang kebun melakukan 'tofa rumput' (bahasa orang Soe yang merujuk ke mencabut rumput dan membersihkan halaman). Sore hari, clingg halaman kami sudah bersih dan rapi.

3. Hari Rabu sore saya dan Nike menengok Oma. Sepertinya sudah lama sekali tidak datang melihat keadaan Oma. Oma lalu membanjiri kami dengan cerita keseharian beliau. Oma saya, adalah tipe orang tua yang santai. Maksudnya, Oma tidak pernah memakai status beliau sebagai 'Oma' untuk anak dan cucu. Oma bukan tipe Oma yang cerewet memberi nasehat. kalau bertemu Oma, yang Oma ceritakan adalah hal-hal yang beliau alamai atau mungkin cerita jaman dulu. Senang sekali bisa ketemu dan bercerita dengan Oma.

4. Menonton COCO. film terbaru animasi dari PIXAR ini menurut saya bagus sekali, baik dari segi cerita maupun dari segi visualnya. Animasinya sangat detail, berwarna-warni dan berkerlap kerlip. Film Coco mengingatkan kembali tentang kebersamaan dalam keluarga. Walau mungkin di akhir dari film Coco, kurnag jelas apakah si tokoh utama Miguel ini pada akhirnya bisa mewujudkan cita-citanya atau tidak, namun pesan mengenai cinta kasih ayah dan anak, maupun oma dan cucu, tersampaikan dengan jelas. Di tambah lagi, lagu-lagunya semua ear-catching!

5. Kegiatan kantor di Maumere berjalan dengan lancar. Saya pribadi selalu kagum dengan kebesaran hati orang Sikka. Hal ini bersifat general, tidak hanya oleh masyarakat di pedesaan, tapi juga mereka yang kantoran. Padahal biasanya sudah tipikal, kalau sudah punya jabatan, maka akan menganggap remeh orang luar. Tetapi berbeda dengan orang Maumere yang tulus, setidaknya itu yang saya tangkap. Maka kalau di bagian Kesehatan, tidak mengherankan jika pelaksanaan program kesehatan di Sikka hampir selalu terdepan, seperti misalnya pengendalian Malaria. Mungkin sebagian besar disebabkan oleh pemerintahan dan jajarannya yang mendukung. Semoga bisa seperti ini selalu.



Mungkin 5 ini saja dulu. 
Cerita bulan Desember seharusnya tidak melulu tentang Natal dan keriaannya, tapi juga ada cerita-cerita kecil yang mungkin sering terabaikan.

[ selengkapnya... ]

Update Detox Socmed 2

(Tulisan ini ditulis tanggal 22 Nov 2017, 20:00)

Sesuai dengan perjanjian kepada diri sendiri di sini, bisa saya katakan bahwa saya berhasil dengan komitmen saya untuk mengambil jarak dengan sosial media (you made it, dear self) Saya baru membuka instagram dan twitter hari Rabu pukul 17:00, itu pun tidak lebih dari 3 menit.

Saat ini saya sedang tugas luar di Kabupaten, dan saya seorang diri (serta banyak waktu luang setelah selesai tugas). Ini merupakan godaan yang sangat besar untuk mengutak-atik sosial media. Saya tidak membawa buku bacaan. Untunglah ada serial FRIENDS yang menemani (where were you for these decades, Sandra? Oh i really really love the show).

Jadi bagaimana perkembangan detox socmed selama 3 hari ini?

Sekali lagi, saya merasa pikiran saya lebih longgar. Jujur saya agak menyesal dengan membuka instagram tadi (walau hanya sesaat). Karena setelah menutup instagram, saya mendapati diri saya memikirkan kembali postingan seorang teman. Social media cepat sekali membuat saya teralihkan pikiran dan fokus. Mungkin ini sudah suatu tanda kecanduan :p. Tentu saja, saya menginginkan proses 'pembersihan diri' dari sosial media ini berlangsung lebih lama.

Yang berikut dengan mengambil jarak dengan sosial media, saya merasa tidak wajib untuk pamer bahwa saya sedang berada di suatu tempat terutama seperti sekarang ini ketika saya sedang ada tugas luar. Biasanya, saya akan mengunggah foto perjalanan saya di insta story, atau mungkin curhat dikit di twitter. Tapi kali ini tidak saya lakukan. Dan untuk beberapa alasan, saya merasa senang. Dengan adanya sosial media, untuk pengguna aktif seperti saya, sepertinya tidak ada lagi kehidupan yang disimpan untuk diri sendiri. Semua orang tahu kita sedang melakukan apa, makan apa, nonton apa, pergi kemana, semuanya real time.

Berikutnya lagi, saya tidak perlu tahu semua hal yang terjadi di luar sana. Kemarin malam, saat makan malam di luar dengan suami, saya menceritakan tentang komitmen saya ini. Dan dia mendukung sekali. Suami saya bukan seseorang yang social media freak seperti saya. Tapi dia masih mengakses facebook dan instagram beberapa kali dalam sehari. Malam itu, dia bercerita tentang suatu kejadian yang sedang heboh di facebook. Saya menyimak dengan penuh ingin tahu. Setelah dia selesai bercerita, saya menyadari bahwa sudah jarang saya menjadi pihak 'pendengar' untuk berita-berita yang datang dari dunia maya. Biasanya saya yang selalu update dan saya yang cerita ke dia. Ahh, ternyata menyenangkan juga seperti ini. Saya membayangkan kalau saya yang menemukan berita itu di facebook, tentu informasi yang diserap otak saya akan lebih banyak dan bervariasi.

Sejauh ini, saya menikmati waktu-waktu saya tanpa social media.


Ok, sekarang waktunya kembali menonton FRIENDS.

Update tanggal 25 Nov 2017:

Weekend dan tidak ada kegiatan, dengan tidak ada stok buku dan film adalah godaan paling besar untuk buka socmed. Kemarin dan hari ini saya gagal untuk tidak membuka socmed sebelum jam 6 sore. Tapi bisa dipastikan saya tidak (terlalu) tenggelam dalam utak atik socmed. Dan salah satu kejutan adalah: di tanggal 22 Malam itu, saya deaktivasi akun instagram saya (dan kemudian saya tidak tahu cara untuk aktivasi kembali :p). Sehingga ini semakin mendukung saya untuk tidak ber-instagram ria :). 
[ selengkapnya... ]

Update: Detox Socmed


(Intro: Postingan ini berkaitan erat dengan postingan sebelumnya di sini)

Tuesday, 08:51 am, I made it!

Sama sekali tidak membuka, sama sekali tidak penasaran untuk membuka. Manfaat yang paling besar saya rasakan dari tidak mengutak-atik media sosial lebih dari 24 jam adalah saya merasa pikiran saya tidak sepenuh biasanya. Ini tidak berlebihan sih. Bayangkan berapa ribu informasi sia-sia yang biasanya terserap ketika saya berkelana di instagram dan twitter. Saya katakan sia-sia, karena memang banyak info tidak penting bukan? Untuk apa pula saya tahu hari ini si A pake baju apa, atau si B abis weekend kemana, belum lagi buka ig story dan kaget liat muka si C lagi goyang-goyang pake filter binatang, atau siang-siang disuguhi foto si D dan caption super bijaknya, atau si E lagi berbagi tentang keharmonisan rumah tangganya dia. Sebenarnya favorit saya tetap twitter. Menurut saya di twitter, info yang saya dapat lebih nyata. Tapi di twitter pun saya sering tidak fokus :p. Maksud saya, maunya hanya ngecek doang, tapi nanti terkecoh karena RT dari seorang following. Jadinya informasi semakin banyak pula yang diserap. Padahal, kalau mau dipikir, bukan sebuah kebutuhan pokok untuk selalu mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia :).

Dan ternyata dengan pikiran saya tidak terdisktraksi oleh kehidupan orang lain (yang dipamerkan lewat media sosial), pikiran saya jauh lebih tenang :).
"People are less happier when they leave Facebook than when they logged in to it" (a quote i found somewhere).
Saya rasa bukan hanya Facebook, tapi juga social media lain yang sering dipakai orang untuk memamerkan keseharian mereka.
(pic from the independent)

Ada artikel bagus dari The independent, yang berjudul: Is Quitting Social Media The Key To Millenial Happiness? Inti dari artikel itu berkata bahwa menurut penelitian, social media berhubungan erat dengan tingkat kecemasan seseorang. Katanya, banyak anak muda saat ini yang semakin cemas untuk berkomunikasi face to face disebabkan karena meningkatnya komunikasi melalui social media (maka menjawab mengapa akhir-akhir ini semua orang mengklaim dirinya introvert). Di artikel tersebut juga menjawab semakin banyak orang dewasa yang keluar dari social media dan lalu merasa 'they have a clearer head'. Jadi, tidak ada salahnya bukan jika sesekali dalam satu periode kita mengambil waktu sejenak berjauhan dari social media? 

(will update my detox journey later) 
[ selengkapnya... ]

Masih Tentang Sosial Media

Credit: John Holcroft


Saya merasa saya ketagihan sosial media (bukan berita baru memang). Memang sih, saat ini saya sudah mulai mengurangi postingan di sosial media. Contohnya: sudah tidak lagi mengunggah foto pribadi tanpa tujuan di facebook, berbagi di instagram hanya sekali atau dua kali seminggu, maupun jarang menggunakan ig stories. Tetapi saya masih sering menjadi pengguna pasif. Tidak pernah sehari luput tanpa saya membuka akun media sosial saya. Oh ok, i got to admit that, never in my spare-one-hour, i don't check my social media, which i think this is insane. I mean, how many blog posts i could create if used that wasting online time?

Are you a nomophobia?

Jadi, saya rasa sekali lagi saya harus berkomitmen untuk mengurangi mengakses sosial media. Saya sudah sering berjanji seperti ini, tetapi kali ini, saya ingin lebih ketat dan ingin membagikannya di blog.

So here is the rule:
Tiga hari, mulai dari Minggu malam ini (19112017) sampai Selasa malam (21112017) saya TIDAK AKAN SAMA SEKALI membuka instagram, twitter dan facebook. Saya rasa saya bisa melakukan ini. Tetapi, biasanya, setelah tiga hari off bermedia sosial, setelah itu saya semacam kerasukan instagram dan twitter. Jadi saya bakal memakan semua informasi (tidak penting) di sana selama berjam-jam, sebagai excuse bahwa saya telah puasa selama tiga hari. Jadi... untuk kali ini, setelah Selasa Malam (21112017), saya berjanji untuk membuka media sosial HANYA SETELAH DI ATAS Jam 18:00, itupun tidak boleh lebih dari 10 menit dan juga beri rentang waktu 2 jam setelah 10 menit.

Saya tahu, ada konsekuensi dalam perjanjian saya di atas. Saya sadar dengan kalimat ini: semakin kita melarang diri kita untuk mengerjakan sesuatu, semakin alam bawah sadar kita merekam informasi ini sehingga ini akan jadi bumerang buat kita. Jadi ketika kita mendapat kesempatan untuk mengerjakan hal yang tadi kita larang itu, malah akan jadi lebih buruk dibanding sebelum kita melarang hal itu (Ok,bahasanya jadi ribet). Contohnya: seseorang berniat berhenti merokok (dengan keinginan yang kurang kuat), saat dia ada kesempatan untuk merokok lagi, dia bakal merokok lebih parah. Terhadap puasa sosial media, saya pun pernah mengalami efek rebound ini

Jadi untuk mengantisipasi hal ini adalah: saya akan 'mengganti' kebiasaan saya browsing ria di instagram, twitter dan kadang facebook) dengan menulis di blog. Sepertinya ini sangat adil, mengingat saya sudah sangat lama tidak menulis di sini. So, hi my old friend, SEPULUH, we will become good friends again. It will be like back to 2008-2011, where i constantly wrote in here.

Tujuan saya melakukan puasa sosial media adalah: saya tidak ingin sosial media ini merasuki saya terlalu dalam. Contoh: sudah berapa kali ya, ketika saya ke suatu tempat bagus, terus minta difoto suami, saya sudah membayangkan akan segera posting ke instagram atau caption apa yang akan saya tulis. Contoh lain: ketika saya kerja dan mengambil gambar dengan orang-orang kerja, saya sudah berpikir untuk share ini ke facebook. Menurut saya ini sudah tidak sehat lagi. Saya bukan hidup untuk pamer di sosial media. Cara saya menikmati hidup itu bukan dari jumlah likes dan loves yang saya dapat secara virtual. Tapi, adalah bagaimana saya menikmati momen dan tempat itu sendiri.

Tujuan saya yang berikut adalah: kedepan, saya mungkin tidak akan betul-betul menghilangkan media sosial dari kehidupan saya. Masih banyak hal baik yang bisa dikerjakan di sini. Jadi tujuan saya berikut adalah: saya ingin menggunakan sosial media secara sadar. Kalau kata orang-orang zen living: use it mindfully. Jadi bukan seperti sekarang ini, kalau saya bengong liat hp, abis balas chat di whatsapp, saya secara tidak sadar langsung buka twitter atau instagram.

Ok mungkin sekian saja dulu.

Saya akan melapor perkembangan harian dari komitmen saya ini, sambil berusaha jujur ke diri sendiri. Kalau saya gagal, akan saya cerita, kalau saya bermain curang juga akan saya kasih tahu dan kalau saya berhasil, maka ini akan jadi kemenangan tersendiri bagi saya.


-->
Well, good luck, Sandra!
[ selengkapnya... ]