Mengajarkan Remaja Tentang Gender

            Sampai hari ini kami SEBAYA FSP sudah melaksanakan 5 pelatihan. Pelatihan pertama untuk dewasa muda (rentang usia 19-35 tahun) dan 4 pelatihan berkikutnya di sekolah menengah, SMA dan SMP. Sebagai penyusun materi, awalnya saya agak ragu untuk menyampaikan materi yang berat seperti gender. Pikir saya waktu itu, apakah ini relevan? Bagaimana kalau mereka tidak mengerti sama sekali. Namun ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti sepenuhnya. Saya cukup puas dengan diskusi tentang gender yang hidup dari tiga sekolah yang kami datangi. Hanya satu sekolah, yaitu salah satu SMP yang semua peserta belum pernah mendengar apa itu gender ataupun kesetaraan gender. Tapi itu pun sebenarnya tak jadi soa. Kata 'gender' memang terkesan baru, tapi kita sudah bersinggungan dengan kata tersebut sejak hari pertama kita lahir (atau bahkan sebelum kita lahir pun, status sosial kita sudah ditentukan).
            Saya maklum sekali kalau mereka awalnya belum pernah mendengar atau masih bingung tentang Gender. Saya saja baru benar-benar belajar dan akhirnya (sedikit) tahu tentang ini saat 3 tahun terakhir, terutama saat study di Australia. Minggu lalu saya bertemu dengan seorang pekerja lepas di LSM (mungkin baru lulus kuliah S1 2 tahun lalu) dan dia masih juga belum mengerti tentang gender. Dia bertanya seperti ini, 'kesetaraan gender itu maksudnya perempuan mau gitu ya kak, kalau disuruh ngangkat-ngangkat batu?' Tidak apa-apa, itu salah satu proses belajar juga. Lalu saya jelaskan, bahwa kesetaraan gender itu tidak sedangkal perempuan berpindah fungsi untuk angkat-angkat beban kayak laki-laki. Saya beritahu bahwa untuk konteks saat ini, gender bukan hanya sesederhana tentang perempuan dan laki-laki tapi lebih ke perempuan dan laki-laki yang mana dan tinggal di mana. Makna gender adalah struktur sosial yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Memang untuk konteks kita di Timur Indonesia, di mana sistem patriarki masih kuat mengakar, dan laki-laki mungkin sudah sangat nyaman berada di struktur teratas sehingga sulit untuk berubah, ketidakadilan gender sering berakibat negatif pada perempuan. Contoh paling konkrit adalah angka kekerasan dan kekerasan seksual yang banyak kena pada perempuan.
            Membicarakan gender untuk anak SMP dan SMA menurut saya penting. Pertama, mereka diajak untuk berpikir kritis tentang hal-hal yang terjadi di keluarga, di sekolah dan di masyarakat. Hal-hal yang selama ini mereka alami, namun tidak sadari. Terbukti, saat kami berdiskusi, banyak yang memberi contoh dari hal-hal yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Ada anak SMK Kristen Soe yang memberi contoh peran gender (gender roles) yaitu, saat pesta, perempuan banyak yang kerja di dapur, jadi tidak ikut pesta, sedangkan para laki-laki duduk-duduk di tenda. Ini sih, telak sekali :D. Walau sebenarnya bukan hanya kaum perempuan saja yang di dapur. Ada pula kaum laki-laki yang di dapur untuk belah kayu api, potong hewan, membuat sate. Dan kaum lelaki itu umumnya adalah sodara-sodara yang dari kampung. Dan di sinilah struktur gender berbicara. Contoh berikut yang sangat luar biasa datang dari seorang peserta perempuan dari SMPN 1 Soe, yang memberi contoh ketidaksetaraan gender adalah, anak laki-laki biasanya dipukul oleh guru atau orang tua lebih keras dari anak perempuan. Kemudian kami membahas seru tentang kekerasan berbasis gender.
            Kedua, manfaat memberi pengetahuan gender dari kecil adalah supaya mereka mulai berpikiran adil dan berperilaku adil sejak dini. Jangan karena dia anak laki-laki dalam keluarga sehingga dia bebas menindas anak perempuan. Atau jangan karena dia anak sulung di keluarga, dia bebas mengatur-ngatur adiknya. Atau bukan karena dia anak laki-laki jadi dia tidak harus belajar memasak. Dan bukan karena dia anak perempuan, dia tidak bisa mengganti bola lampu. Berpikiran adil pun tentang bagaimana mereka memperlakukan orang lain yang mungkin 'berbeda' dengan kelompok masyarakat lain pada umumnya.
            Ketiga, memberi mereka pengertian tentang gender itu penting agar para remaja perempuan dan laki-laki berpikir tidak terkotak-kotak. Mereka menyadari bahwa semua manusia mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin. Bahwa laki-laki pun bisa bekerja di dapur dan mengurus anak.
            Metode pelatihan yang kami gunakan adalah lewat proses diskusi. Di sesi gender yang 1.5 jam saya tidak menggunakan power point, walau saya juga menyiapkan. Tapi kalau menurut saya peserta sudah mengerti dan semua penjelasan serta diskusi sudah cukup, maka presentasi ppt tidak dibutuhkan. Kami menyediakan juga kotak pertanyaan di belakang ruangan kalau peserta malu bertanya. Dan ini cukup efektif, karena ada orang-orang yang tidak pede mengangkat tangan. Kami juga mendorong para peserta untuk berbicara. Dan setiap ucapan dari mereka mutlak kita hargai. Sangat tidak boleh kita tertawakan. ini untuk memberikan mereka rasa percaya diri. Kami juga memakai beberapa cara untuk mendorong peserta yang diam, karena pasti dalam satu grup ada yang dominan, ada yang sikap kepemimpinannya sudah menonjol sejak detik pertama pelatihan, dan biasaya mereka-mereka ini cukup aktif. Cara agar peserta yang diam ini juga berbicara adalah, kami sering membuat diskusi kelompok kecil di mana semua peserta bisa mengeluarkan pendapat. Selain itu, misalnya saat diskusi kelompok dan kemudian mereka mempresentasikan hasil diskusi, kami meminta agar peserta yang jarang bicara di kelompok yang menyampaikan hasil diskusi mereka.


            Pesan kepada saya sendiri (dan orang lain) supaya saya memperlakukan remaja sebagai manusia utuh. Kita yang lebih tua (jauh) dari mereka ini sering menganggap mereka sebagai anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Kita sering menganggap pendapat mereka itu kekanakan. Justru sebaliknya, remaja memiliki banyak potensi yang akan membuat kita terkejut. Pemikiran mereka bisa saja jauh lebih liar (dalam hal positif) dari muka imut mereka :p. Saya menikmati bekerja untuk para remaja ini.

[ selengkapnya... ]

Juni Berangin

Salah satu karakteristik tinggal di kota dekat pantai adalah cuaca mudah berangin. Seperti di Kupang sini. Dan sejak beberapa tahun belakangan cuaca tak bisa diprediksi. Seperti tahun ini angin kencang justru mulai ada di awal Juni sampai pertengahan. Saya sedang menulis di dalam rumah menghadap ke jendela dan pohon-pohon di depan rumah sedang menari-nari karena angin (ini bukan prosa apalagi puisi, maafkan untuk kata-kata yang sok puitis).
     Cuaca berangin tentu tidak nyaman. Teras rumah kontrakan kami jadi cepat sekali berdebu. Kalau selesai mencuci baju dan menjemur di luar juga debu akan melekat di pakaian basah. Belum lagi, pohon-pohon tua gampang tumbang, ranting patas, kabel-kabel listrik gampang jatuh ke jalan, seng di tetangga sebelah saya sampai terangkat dan beberapa transportasi mungkin terganggu. Tapi bagaimanapun, para warga toh akan menemukan cara ternyaman untuk beradaptasi. Saya juga tidak pernah mengeluh untuk menyapu debu dari rumah setiap hari. Atau pernah harus menunda perjalanan ke Soe karena angin terlalu kencang. Bagaimanapun cuaca berangin walau sedikit mengganggu tidak sampai harus membuat saya terhempas dari rumah karena rumah kontrakan ini cukup kuat.

Cuaca berangin juga sedang saya rasakan pribadi. Tapi seperti juga 'tapi bagaimanapun' di atas, saya yakin saya akan tetap menjalaninya dengan baik. Toh, 'rumah' saya cukup nyaman dan cukup kokoh melindungi saya dari hempasan angin. Memang mengganggu pikiran kadang-kadang, memang kadang membuat saya mengeluh ke suami, tapi tidak akan sampai meruntuhkan.
      Walau sudah ada aplikasi pekiraan cuaca sekalipun, walau sebenarnya saya sudah memperkirakan kemungkinan ini, tetap saja menjalani cuaca berangin tidak terlalu menyenangkan. Tapi, yang namanya hidup (dan cuaca) tidak akan pernah bisa tepat diprediksi.  Mungkin yang harus disiapkan itu mental kita saat menghadapi cuaca apapun.

    Saya tidak tahu, kondisi berangin ini sampai kapan, tapi semoga tidak lama. Karena saya ingin melangkah dan menari bebas, tanpa takut terhempas angin.


Oebobo, 2017

"this too shall pass"
[ selengkapnya... ]

Friday Blogging #2


Yesterday, we visited a senior extended family whose condition is not so good. In one point of conversation he looked at me and Yosua and said, 'it's time for you two to have a baby to make your parents happy.'

I only smiled and did not say any words (as always).

Unexpectedly, My father replied to him, 'she still has another plan to do. let her'

:)

It aint easy for a woman to reach her dreams. This woman really needs strong support systems. And i thank God that i got mine.

I never talked to my parents why i haven't been expecting yet. I only told them that i wanted to pursue higher education. But, they concluded these two situations and backed me up in the front of (annoying) extended family.

I couldn't be more grateful to have supportive parents like them. Especially to my father.

I love you, Papa.

Kupang, May 2017
[ selengkapnya... ]

Saturday Blog #1


Last month, I randomly submitted my cv regarding a job vacancy in a (big) non-profit organisation, based in Jakarta. What I like about the job was the description and the field they were looking for. It was about maternal and child health and nutrition. The interesting part of the position was I could travel to all over the nation to supervise the team. The deadline of the application was on Friday, 21st April. On the next Monday, I got a call from the organisation to make time for interview. The interview was good. It was only 15 minutes and they asked me more about my personal life (something that I actually never liked to discuss with people). One week after, they sent me list of questions I should answer. I was expected to submit my answers by 5th May. I was in Maumere at that time. I read the questions, and tried to answer. I was familiar with most of the questions. But, a piece of my heart was not to comfortable to continue the process. One big question stuck in my mind (and my heart), ‘Am I ready to move to the big city again?’.

I looked back at these past 4 months in 2017 when I was back to Timor. Many things happened since then. I worked, I started BERBASIS class, I got AGS and starting my own project with the awesome team. I got invited to Flores for writing workshop. These are things that I may not be able to get if I live in other city. Furthermore, my project is just started, and do I need to move again?

The job in Jakarta is like a dream comes true for me. It offers awesome job descriptions which I like the most. It may offer a good salary as well. But again, do I need to move now?
My husband as always supports me. He was the one who told me to apply about this job. My parents also want me to try.
But some part of my self is not ready yet to leave things that I just started. And I will not ignore this uncomfortable I feel inside my heart.
Let me do things that my whole heart allows me to do.

Have a nice weekend, friends. One simple message in this post: ‘Listen to your heart. It’s cliché, but it always works.’ 
[ selengkapnya... ]