Friday Blogging #2


Yesterday, we visited a senior extended family whose condition is not so good. In one point of conversation he looked at me and Yosua and said, 'it's time for you two to have a baby to make your parents happy.'

I only smiled and did not say any words (as always).

Unexpectedly, My father replied to him, 'she still has another plan to do. let her'

:)

It aint easy for a woman to reach her dreams. This woman really needs strong support systems. And i thank God that i got mine.

I never talked to my parents why i haven't been expecting yet. I only told them that i wanted to pursue higher education. But, they concluded these two situations and backed me up in the front of (annoying) extended family.

I couldn't be more grateful to have supportive parents like them. Especially to my father.

I love you, Papa.

Kupang, May 2017
[ selengkapnya... ]

Saturday Blog #1


Last month, I randomly submitted my cv regarding a job vacancy in a (big) non-profit organisation, based in Jakarta. What I like about the job was the description and the field they were looking for. It was about maternal and child health and nutrition. The interesting part of the position was I could travel to all over the nation to supervise the team. The deadline of the application was on Friday, 21st April. On the next Monday, I got a call from the organisation to make time for interview. The interview was good. It was only 15 minutes and they asked me more about my personal life (something that I actually never liked to discuss with people). One week after, they sent me list of questions I should answer. I was expected to submit my answers by 5th May. I was in Maumere at that time. I read the questions, and tried to answer. I was familiar with most of the questions. But, a piece of my heart was not to comfortable to continue the process. One big question stuck in my mind (and my heart), ‘Am I ready to move to the big city again?’.

I looked back at these past 4 months in 2017 when I was back to Timor. Many things happened since then. I worked, I started BERBASIS class, I got AGS and starting my own project with the awesome team. I got invited to Flores for writing workshop. These are things that I may not be able to get if I live in other city. Furthermore, my project is just started, and do I need to move again?

The job in Jakarta is like a dream comes true for me. It offers awesome job descriptions which I like the most. It may offer a good salary as well. But again, do I need to move now?
My husband as always supports me. He was the one who told me to apply about this job. My parents also want me to try.
But some part of my self is not ready yet to leave things that I just started. And I will not ignore this uncomfortable I feel inside my heart.
Let me do things that my whole heart allows me to do.

Have a nice weekend, friends. One simple message in this post: ‘Listen to your heart. It’s cliché, but it always works.’ 
[ selengkapnya... ]

Berkunjung ke Museum Bikon Blewut

Maumere yang bersahaja



Saya berkunjung ke Maumere dalam rangkaian acara Temu Seni Flores yang diselenggarakan oleh Koalisi Seni Indonesia dan PWAG Indonesia bekerja sama dengan komunitas seni lokal seperti SARE dan KAHE. Di Maumere, Yosua dan saya menghabiskan waktu 4 hari. Tidak sulit untuk jatuh cinta dengan Maumere. Mungkin karena masih berada di daerah Nusa Tenggara Timur, sehingga tipikal orang kita sama. Mungkin karena alam-nya dan suasana kota-nya juga sama dengan di Timor, sehingga saya pribadi langsung merasa seperti kembali ke rumah.

Yosua dan saya tidak banyak mengunjungi tempat-tempat wisata selama kami di sini walau kami punya waktu yang cukup. Bahkan pantai Koka yang terkenal itu saja, tidak kami kunjungi. Tapi justru saya tidak menyesal sama sekali. Entahlah, mungkin karena tujuan awal saya datang ke Maumere bukan untuk pergi ke tempat wisata sebanyak-banyaknya, tapi lebih untuk mendengarkan cerita dan mengobservasi.

Saya percaya sesuatu dengan ekspektasi yang rendah malah akan menghasilkan hal yang tak terduga. Jadi di tulisan kali ini, saya tidak akan mengulang betapa indahnya pantai Tanjung dengan pemandangan laut, bukit, dan gunung menjadi satu. Pun saya tidak akan menceritakan tentang resort-resort sepanjang pantai Paris yang ekslusif. Tapi, saya akan berbagi tentang tempat yang tidak terdengar sama sekali oleh saya sebelum saya sampai ke Maumere.

Museum Bikon Blewut Ledalero
Add caption

Kami sama sekali tidak ada rencana untuk mengunjungi museum ini. Awalnya kami pergi melihat patung Maria Bunda Segala Bangsa di desa Nilo. Dari situ, kami google, tempat wisata lain, dan akhirnya memutuskan ke sini. Dan bagi saya, masuk ke museum ini adalah highlight dari seluruh perjalanan saya 7 hari di Flores. Jarak dari Maumere ke Museum Bikon Blewut Ledalero tidaklah jauh, mungkin kurang dari 10km. Karena kami dari Nilo, lebih dekat lagi sampai ke situ.

Museum yang hanya memiliki satu ruangan ini terletak di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Kami masuk ke seminari lalu ijin ke pak Satpam, mengisi buku tamu dan masuk menuju museum. Di situ kami bertemu dengan penjaga museum sekaligus budayawan bernama pak Endi Padji. Berikut, pak Endi inilah yang membuat satu setengah jam kami berdua berada dalam museum itu menjadi sangat berharga.

Museum ini sebenarnya tidak memuat banyak barang. Menurut pak Endi, barang-barang lainnya masih belum diletakkan di sana. Tapi semua benda peninggalan sejarah yang ada di sana memiliki banyak cerita unik yang menceritakan tentang peradaban pulau Flores yang tua, menarik dan membuat merinding.

Saya ceritakan satu persatu seingat saya ya:

·      Fosil Stegodon Flores atau Fosil Gading gajah.
Potongan gading maupun gigi gajah


 Fosil ini diperkirakan sudah ada sekitar 300,000 tahun lamanya. Hal ini mematahkan teori bahwa gajah purba itu hanya ada di Sumatera atau Kalimantan saja. Gajah purba di Flores sudah ada ratusan tibu tahun lamanya. Gading gajah purba itu ukurannya sekitar 4-5 meter. Bayangkan betapa besarnya gajah purba dahulu. Dan fosil gading gajah ini ditemukan banyaaakkkk sekali di titik-titik di Flores. Malah, beberapa puluh tahun lalu, gading gajah itu adalah barang yang tidak ada harganya. Di rumah-rumah panggung di desa-desa, mereka menaruh gading gajah yang besar-besar itu sebagai keset untuk membersihkan kaki sebelum naik ke rumah panggung (W.O.W). Ada 3 teori gajah kemudian punah di Flores, yaitu manusia purba memangsanya, punah karena banjir besar atau karena gunung meletus.

Fosil manusia purba Flores.


Manusia purba di Flores diperkirakan hidup 19000 SM. Lama ya. Mereka disebut Homo Florensiensis atau disebut The hobbit from Flores. Disebut the hobbit karena diperkirakan tinggi mereka semampai alias satu meter tak sampai (re: semampai itu joke lawas, kalau tidak mengerti berarti kita beda generasi :p). Nah di sini yang bikin saya makin excited. Pak Endi bilang gini, ‘Nah ini jadi peributan, ada yang bilang itu homo sapiens ada yang bilang itu homo errectus. Tapi kan mereka hanya ketemu tulangnya saja. Kalau saya sudah lihat aslinya.’ APAAAAAAA? Saya melotot mendengar itu. ‘Iya, waktu saya menemani peneliti dari Belanda, kami sudah temukan itu mereka tinggal di gua. Tapi tempatnya tidak mau saya beritahukan. Jadi mereka masih ada. Mereka tidak memanjat. Mereka mengerti Bahasa manusia tapi punya Bahasa sendiri.’ Duhh asli saya deg-degan parah waktu mendengar hal ini. Dalam hati saya bilang, iya pak jangan pernah kasih tahu orang lain tempatnya, mengetahui mereka masih hidup saja saya sudah cukup. Tidak usah diganggu lah habitat mereka :’).

Lukisan-lukisan


Kepada kami, pak Endi juga menjelaskan beberapa arti dari lukisan-lukisan. Salah satunya adalah lukisan pembunuhan ibu padi. Konon, orang Flores sebelum menanam padi akan melakukan ritual adat untuk korban. Korbannya tidak main-main, yaitu seorang perempuan yang masih gadis. Jadi perempuan itu akan dibunuh oleh anggota keluarganya atau oleh raja dan dagingnya dicincang, lalu dicampur dengan pupuk untuk menggemburi tanah (hiiiii). Diyakini dengan begini, hasil panen akan bagus. Dan jika saat menanam padi di sawah ditemukan ular phyton, maka dipercaya phyton tu adalah jelmaan perempuan tadi yang menjaga sawah. Dan praktek ini masih berlangsung sampai Jepang datang ke Maumere (dan itu belum 100 tahun yang lalu). Ada kisah pembunuhan untuk korban yang adalah saudara kandung si pembunuh. Duh saya mendengarnya saja sedih. Tiga orang bersaudara itu adalah Ine Mbu ( si Gadis), Ndale (kakak yang membunuh), dan Sipi (Kakak yang juga ada). Kemudian nama tiga bersaudara itu juga menjadi nama tempat.

Asal usul nama Flores.


Jadi Flores ini adalah pulau dengan banyak nama. Flores diberi nama oleh bangsa portugis yang menemukan banyaknya bunga (flower) di sini. Sebelumnya oleh masyarakat lokal menamai tempat ini sebagai Nusa Nipa atau ular. Pada kenyataanya, legenda orang Flores banyak berkaitan dengan ular. Seperti cerita tanam padi di atas, juga bentuk pulau Flores yang menyerupai ular ini. Orang Belanda berpikir bahwa pulau ini adalah pulau terakhir sehingga diberi nama Ende (end = akhir). Flores juga duluuu adalah bagian kekuasaan majapahit dan disebut sebagai pulau Solot (sehingga ada juga tempat namanya Solor). Unik ya?

Dan masih banyak sekali cerita dari Bapa Endi.
Bapak Endi Padji, Budayawan yang bersahaja

Selama beliau bercerita saya yang deg-degan. Maksudnya begini, saya membayangkan bahwa tanah yang sedang saya injak ini dulu dihuni oleh makhluk purba selama ratusan ribu tahun. Bukankah itu adalah sesuatu yang tak habis dipikir ya. Atau, sudah ada kehidupan manusia di tempat ini 20,000 tahun yang lalu. Saya seketika merasa sangat kecil dan tidak tahu apa-apa. Menarik sekali, melihat suatu tempat bertransformasi dari yang dulu dihuni hewan purba, manusia purba, didatangi banyak suku bangsa, dan bergeliat hanya dengan saya mengunjungi sebuah ruangan persegi empat kecil ini.
Sekeluarnya dari Bikon Blewut, saya melihat Maumere atau Flores sebagai sebuah tempat yang penuh berbudaya dan penuh rahasia. Pastinya, masih banyak cerita yang saya belum ketahui di sini. Dan untuk itu, semoga saya menemukan orang-orang baik seperti pak Endi yang bersedia berbagi ilmunya dengan kami.
Membayangkan dulu di sini ada hewan-hewan raksasa berkeliaran bikin mind blowing ya :'). It's not only in the movie, but it's real! And we are walking, breathing dan living in that place!


Perlu diketahui, museum ini berdiri sejak tahun 1983, dan pak Endi sudah bekerja di sana sejak tahun 1984 :’). I just met a legend. And he was so humble yet so inspiring.


Kalau sedang ke Maumere, mampirlah ke museum Bikon Blewut Ledalero supaya bisa belajar banyak tentang Flores yang unik dan kaya.
[ selengkapnya... ]

Mabok Darat

Seharusnya saya nge-blog hari Jumat, tetapi karena kesibukan mau ikut ‘Temu Seni Flores’, akhirnya terhambat sampai hari minggu baru bisa luang membuka laptop.

Sebenarnya ingin sekali segera menulis tentang kegiatan seni yang berlangsung di Ende ini. Di mana saya bisa belajar banyak dan bertemu dengan orang-orang inspiratif. Tetapi ada sesuatu hal kecil yang mau saya bagikan di sini.

Rombongan kami baru tiba di Maumere dari Ende. Ini pertama kalinya saya perjalanan darat di Flores. Yang pernah melakukan perjalanan ini pasti setuju kalau sepanjang jalan, indaahhhh sekali dengan pemandangan gunung, bukit, awan dan hijau. Sebelumnya, saya sudah mendengar bahwa perjalanan Ende ke Maumere itu berkelok-kelok. Waktu tempuhnya sekitar 4 jam. Saya berpikir, ‘ahh paling mirip lah seperti So Eke Atambua.’

Namun ternyata saya salah besar. Berkelok-kelok yang dimaksud adalah sepanjang jalan selama 4 jam itu memang meliuk-liuk dan membuat pusing. Kami semobil ada 6 orang bersama pak Supir. Ada mbak Olin dan mbak Sandie dari PWAG Indonesia, Linda Tagie, Yosua dan saya. Ketiga teman kami ini tampak sangat menikmati perjalanan. Mereka bernyanyi dan bersenandung, bercerita, makan-makan dan menikmati perjalanan 4 jam penuh tikungan tajam itu.

Awalnya Yosua duduk bersama saya di bangku belakang mobil, tapi di tengah perjalanan, dia mabuk, jadi pindah ke depan. Beruntung dia. Sementara saya, tetap duduk di belakang, dengan posisi kaki terlipat, tidak ada sandaran kepala dan pusing. Setengah perjalanan berikutnya saya lewati dengan menahan diri agar tidak keluar isi lambung. Mulai dari makan permen, sugesti pikiran, Tarik napas berulang-ulang, dsb. Yang akhirnya berhasil sampai tiba di hotel.

Baik, saya tidak akan meneruskan detail yang memang tidak penting.

Tapi saya hanya ingin mengingat dan mengenang sedikit cuplikan bagian hidup saya saat masih kecil.

Saat kecil, saya ini mabuk darat. Kalau orang so’e bilang, tukang muntah. Naas-nya keluarga kami sering melakukan perjalanan SoE-Kupang, Kupang-SoE. Bagi Sandra kecil, perjalanan dengan mobil atau bus adalah mimpi buruk. Saya sudah stress jauh sebelum naik mobil, dan begitu naik mobil baru 5 km berjalan, saya sudah muntah.

Semua orang sudah menasehati saya (dan ibu saya) tentu saja tentang kiat-kiat melawan supaya jangan muntah. Dari cara yang paling masuk akal seperti minum antimo sebelum berangkat, sampai yang paling tidak masuk akal yaitu mengikat daun gewang di perut dan mencium ban mobil sebelum berangkat. Semua saya coba, tapi tidak ada yang berhasil. Saya bisa oek-oek sampai belasan kali atau 20an kali selama perjalanan 110km. Sampai benar-benar saya lemas, tidak ada tenaga dan setengah pingsan. Dan tebak siapa yang paling pusing mengurusi saya? Benar. Mama.

Mama yang pastinya direpotin oleh Sandra kecil ketika mau perjalanan jauh. Mama akan siap dengan kantong plastik 1 pak, loyor-loyor kecil dan handuk. Dan selama 2.5 jam perjalanan SoE-Kupang, tidak ada istilah mama memejamkan mata, selonjor kaki dan menikmati perjalanan. Yang ada, mama akan selalu sigap menampung isi perut saya, melap mulut saya, memberi minum seteguk, memeluk saya yang ketiduran di dadanya dan melap keringat selama perjalanan itu. Tidak jarang, baju mama selalu jadi korban. Beberapa kali beliau juga akhirnya ikutan mabuk karena mengurusi saya. Belum lagi, dulu kami tidak ada mobil pribadi, jadi selalu naik bus antar kota atau numpang mobil orang. Jadi selain stress harus mengurus saya yang tukang muntah ini, mama harus juga memasang muka tebal karena penumpang lain melirik-lirik terganggu dengan saya yang oek oek terus.

Saya ingat betul, kapan saya berhenti mabuk darat dari Soe ke Kupang. Yaitu saat berusia 14 tahun, waktu akan berangkat sekolah ke Malang.

Perjalanan dari Ende ke Maumere tadi membuat saya mengenang Mama yang setengah mati dulu menjaga saya yang mabuk darat ini selama perjalanan. Hal yang selama ini tidak terlalu saya resapi.

Ahh, perempuan itu, selalu membuat saya terkagum.

Saat saya pusing berat tadi di tengah daratan Flores, saya mengingat Mama dan membayangkan pandangan matanya yang welas asih.


Mama, Sandra sayang.

Maumere, 30 April 2017
[ selengkapnya... ]