Eureka Skydeck

Akhirnya berkesempatan juga naik ke atas gedung yang diclaim tertinggi di Australia. Sebenarnya kalau menurut wikipedia Eureka Tower itu berada pada nomer umur kedua setelah Q1 (Queensland number One). Tapi jumlah lantai di Eureka jauh lebih banyak yaitu 91 (atau ada yng bilang 88) lantai. Sedangkan di Q1 78 lantai. Eureka terletak di southbank, di kota Melbourne. Bisa dicapai dnegan menggunakan free tram zone.

Untuk masuk, kita harus membeli tiket seharga AUD 20. Tapi saat itu saya belinya satu tiket AUD 9, karena pas lagi harga promo. Supaya sampai ke atas, kita ngga harus naik tangga ( ya iyalah yaaa), tapi naik lift dnegan kecepatan super, yang untuk mencapai lantai 88 hanya butuh 38 detik! Pokoknya sensasi nya mirip kayak pesawat baru mau terbang atau pas landing.

Di atas, yang dilakukan ya.... foto-foto aja sih :D. Sambil romantisan menikmati sunset juga bisa. Saya langsung kasih foto-fotonya aja ya. Website resmi Eureka silahkan klik di sini







really love this pic!






All pictures are taken by: @josuanatanael (instagram). Not allowed to copy without permission. :)

[ selengkapnya... ]

Jalan-Jalan ke Mount Buller

Ada yang bilang, kalau winter di Australia terutama di tempat-tempat dingin kayak di Tasmania, Canberra, Melbourne, Adelaide itu agak rugi, karena di sini cukup dingin tapi tidak turun salju :D. Mentok-mentok yang turun itu hails atau hujan es. Tapi di beberapa gunung untungnya turun salju dengan volume yang cukup banyak sehingga bisa dipakai main-main salju semacam skiing, snowboarding, atau yang paling sederhana tobagoning.

Di Victoria sendiri, ada beberapa gunung salju. Yang saya tahu itu ada Mount Buller, Mount Lake dan Mount Baw-Baw. Taun lalu saya bersama teman-teman gereja kami ke Mount Lake.

Tahun ini, yosua dan saya pergi ke mount Buller bersama teman-teman kampus lainnya. Kami memakai jasa travel funaddicts. Banyak sekali agen tour yang menawarkan paket untuk ke mount buller. Dan umumnya untuk high season selama winter bisa diakses setiap hari. Di mount buller sendiri banyak sekali penginapan, resort dan apartemen. Memang sepertinya menyenankan jika bisa tinggal beberapa hari di sana, yang berarti main salju sepuasnya.

Perjalanan dari victoria ke mount buller sekitar 3.5 jam. Cukup jauh, tapi tidak membuat pusing seperti kalau jalan dari Kupang ke Kefa :D.

Di mount buller kami berdua tidak sempat mencoba main ski. Padahal, Yosua sangat ingin. Alasannya karena peralatan sewanya yang cukup mahal -___-. Ya sudahlah, saya meminjam perkataan dari Coelho yang berkata, kalau pergi ke suatu daerah, sisakanlah satu atau dua aktifitas atau tempat yang tidak dilakukan atau dikunjungi. Dengan begitu, ada keinginan (atau motivasi) dalam hati untuk kembali mengunjungi tempat tersebut. Walau demikian, untuk seseorang yang baru saja memegang salju, Yosua cukup menikmati waktu di mount buller. Berikut foto-fotonya :D
Ini tempat bis-bisa dan mobil-mobil parkier. Dari sini, kita berangkat pakai shuttle bis gratis yang disediakan dari mount buller untuk ke area utamanya.


Tempat belajar ski yang level mudah. Mereka juga menyediakan pelatih untuk yang baru mau belajar.

Bisa juga tuh naik sky line untuk menikmati gunung dari atas :)


Sadar kamera banget, dek :D

Ini tempat ski atau snow board yang level menengah. Di sini agak sepi



Tempat main tobogan. Buat yang ngga bisa ski, ngga bisa snow board, meluncurlah dengan tobogan

Kayaknya kalau disiram sirup ABC rasanya lebih nendang deh, mas

Resort cantik

Ada beberapa stopan bus. Karena daerahnya cukup luas



Dingin banget yang pasti kalau pas kabut dan hujan kayak gini.
[ selengkapnya... ]

The 500th post

For someone who easily gets bored with something, this is hilarious. I never imagine i can be this consistent if it comes to writing a personal journal. Then i remember, since i was 10 years old, i used to record my life in a diary and then moved to blog.

Well, i should admit that. in this two months, i don't write here as much as i used to. The reasons are firstly, i am trying to write in a note book now and somehow i feel like i am more free to express my thought in that book. I mean, i don't have to worry about how people will interpret what i write. I don't have to bother with the feeling like, 'hmmm i think this is to personal for strangers to read' or else.

Secondly, in this digital area, no, let me edit, in this social media area, things that used to be so valuable, thoughtful, mindful, and so on and so forth are regarded less. I hope you get what i mean. In one day, if you open Facebook, instagram and twitter, you will see and read tons of wise words and pictures etc. It's just too much. And many times its not related et all. For instance, a picture showing someone is laughing while running in the beach with the background crystal clear blue sky and the caption is like wisdom words to encourage people to be happy and enjoy life and be thankful. Well, this was good. This was so motivating before. But imagine everyday you see the similar posts from different people, with quite similar words. How will you feel? You will start to speak in your mind while you scrolling the phone, 'come one Mario Teguh wanna be, just make your caption as simple like, '(insert the name of the place) and how do you feel about the place. The end' :D Well, at least i feel like that. I used to be like that (maybe) until i found how irritating it is when i become the audience. So that's why i decided to not to post to much in this blog if i think it will not bring any advantages for me or for other people.

Hmmm, let me make it clear. despite not so related pictures and captions, I still enjoy other's (enjoyable, entertaining, informative) posts on social media. This is one of my pleasure activities here. I just want to say that people (like me) who read the inspirational words each day each second, will easily get bored and even don't read it until the last word. Because we see it too much. I would be way much much much better if people write what they feel about something. What this picture of theirs make them reflect. It's totally different with the wise words that people can easily get from google. And somehow, as the audience, we can distinguish it. And for sure it is more enjoyable to read about someone personal reflection. Or like, if you want to post a scenery picture from your holiday, just put the information about the place, how you get there, with whom, how you experience the nature etc.

Well, lets comeback to what is the purpose of this post. I will keep writing in this blog for sure. Maybe, do you have any suggestions what i should write? ;).

G'day mate!

[ selengkapnya... ]

Mencari Akomodasi di Melbourne

Walaupun deadline di depan mata, tapi one blogpost will not hurt you. Hehe. Ini kenapa tiap kali mau menulis blog selalu saja saat mendekati deadline ya? Padahal mau dibilang waktu luangnya banyak. Terus dipakai apa dong waktu-waktu yang berhamburan itu? Browsing kayaknya ya.. :D

Dua bulan terakhir ini, yosua dan saya cukup dipusingkan dengan permasalahan akomodasi. Bukan mencari akomodasi sih, tapi lebih ke mencari tenants untuk menempati dua kamar di atas. Tapi bersyukur, semua sudah beres. Jadi saya ingin membagikan tips mencari akomodasi di Melbourne.

Ada banyak sekali situs, web, Facebook group, yang menawarkan akomodasi di Melbourne. Ini berdasarkan pengalaman saya ya.

1. Lewat Kampus
Saya dapat akomodasi di cardigan street kemaren itu lewat papan pengumuman di kampus unimelb. Di situ banyak ditempel iklan-iklan akomodasi. Biasanya, karena memang yang penawar lebih menginginkan untuk student yang menempati kamar atau rumah mereka. Selain itu, di websitenya unimelb juga ada halaman khusus untuk housing. Banyak juga informasi yang bisa kita dapat di situ.

2. Komunitas Indonesia di Melbourne
Orang Indonesia dimana-mana pastinya erat ya persatuannya. Sama juga kayak di sini. Saya dapat informasi akomodasi di peel street juga dari teman Indonesia. Bisa dari mulut ke mulut, atau grup whatsapp, atau yang paling banyak iklannya adalah milis indomelb di yahoo.

3. Portal-portal akomodasi
Banyak sekali situs yang menawarkan akomodasi. Saya bagi yang saya tahu ya. Jadi kita bisa cari di

Gumtree
Flatmates
Domain
Realestate

Dan masih banyak lagi pastinya. Setahu saya, semua orang baik itu individu maupun agen bisa mengiklankan properti mereka di situ. Kita tinggal menghubungi kontak yang ada untuk merencanakan inspeksi. Biasanya kalau lewat agen, mereka sudah ada jadwal khusus. Dan biasanya banyak sekali yang sekali datang inspek, apalagi akomodasi yang murah dan dekat kota.

4. Facebook group
Nah ini saya baru tahu nih. Dan langsung saya coba untuk iklanin kamar yang di peel street itu, langsung berhasil!
ini nama group-nya. Bisa di cari di Fb

Melbourne rent a room/house/flat/accommodation
Rentals in Melbourne: Houses Apartments Rooms
Melbourne Rooms For Rent
Fairy Floss Real Estate

Saya sangat terbantu sekali dengan web ini. Karena response rate-nya tinggi, yang berarti sangat baik buat kami biar segera menemukan tenant baru. Karena sekali lagi, untuk kota yang begitu hidup seperti Melbourne, dengan banyaknya students, migrants, backpackers, pengunjung, akomodasi (yang affordable) itu sangat diminati.

Semoga membantu!



[ selengkapnya... ]

87

Aku ingin menanyakan apa kabar. Tapi kemudian aku ingat kamu tidak mungkin juga menjawab. Atau mungkin kamu menjawab, tapi telingaku tak mungkin menangkap suaramu.

Aku ingin berkata aku rindu. Tapi sudahlah. Mengucapkan kata rindu hanya akan membuat rindu semakin menjadi.

Aku ingin berteriak aku sekarang sedang baik-baik saja. Lalu aku sadar, kamu sudah tidak tuli lagi. Tidak perlu seperti dulu, kita berteriak sambil mengeja kata perlahan-lahan di sudut telingamu.

Bagaimana, kalau cukup aku bisikkan, 'Selamat hari jadi.'

Sebelas Juli sekarang sudah tidak pernah sama lagi.

Di sana, apakah kamu masih suka membaca buku?


Tertanda,
Cucumu yang dulu sering kamu ajak menemanimu main badminton, naik vespa kesayanganmu.
[ selengkapnya... ]

Hello July

Well, actually i should begin the first post of this month by telling my experience attending Asia Pacific Week 2016 in Canberra. It was a thoughtful, knowledgeable and unforgettable memory which i definitely will keep it on this blog. However, two or things are happening now, and i couldn't get my brain to concentrate to write about the conference.

So this is (as usual) only another random post as i want to organise things in my head.

House in Melbourne.

I ever told you that started this year, i moved to Peel Street, where used to be my first accommodation in Australia before Cardigan Street. This is an old house, and not a perfect house actually, as there are several disadvantages as an old building. But the thing i like about this house is the privacy. My husband and i live at the first floor, and we have our own living room, our own kitchen, bathroom, without sharing with anyone else. For someone (who are unsocialised) like me, this is a big good thing! I mean, i can treat this house like my own home. I can postpone to do the dishes as long as i want, without bothering other's opinion. I can throw my coat at the living room, without thinking about someone else will be mad. I can be who i am once i arrive this house. My husband and i unconsciously have built an attachment with this house. We really enjoy living here. It's still a short period of time but we fell so comfy here. So, when this issue came to us, we are frankly upset. The issue is about the lease extension. We are still working on it. And we really hope, we can still live in there until my graduation *finger crossed*.

Goals

Another thing that ruins my head now (in a good way) are about life goals. The first thing we discussed when we were reunited (after being apart for a week) was about his dream. Basically, i am so happy to hear about his dreams. And the fact that he urges himself to achieve this thing is just awesome! So, then i came up with one suggestion (as i ever read it somewhere) that he and i should make 30 before 30 lists. Then we have like 17-18 months to achieve.

I will update about the list soon.

Well, now let me finish the literature review for my research proposal. *sigh*

I hope you all have a good day.
[ selengkapnya... ]

Kenangan di Awal 90an

Dua malam yang lalu, gara-gara melihat sebuah twit bahwa sedang ada proses casting untuk membuat film biografi Nike Ardilla, maka tanpa bisa saya cegah semua kenangan masa kecil saya tentang artis legend Indonesia ini pun seperti kembali berlari masuk ke otak saya.

Siapa anak 90an yang tidak kenal Nike Ardilla? Artis muda, cantik dan berbakat itu benar-benar mencuri perhatian satu Indonesia lewat lagu, film, sinetron, maupun poster-poster-nya di mana-mana. Lalu tiba-tiba terdengar kabar bak kilat di siang bolong (bahasanya jadul banget yak) kalau beliau meninggal dunia karena kecelakaan mobil. Saya ingat saat itu saya yang baru berusia 7 tahun cukup terpukul dengan kabar tersebut. 

Sebelum menjelaskan tentang Nike Ardilla, saya beri gambaran tentang keluarga saya dulu ya. Orang tua saya bukan yang suka musik. Tahun 90an itu, koleksi kaset ayah ibu saya hanya berisikan lagu-lagu rohani atau mungkin ada juga 1 2 kaset lagu pop tahun 80an. Tapi entah kenapa, ayah saya ini termasuk salah satu fans Nike Ardilla. Level fans-nya ayah saya terhadap artis dari Bandung ini adalah level menamai anaknya Nike. Nike Frans lahir 3 Juni 1991, di saat Nike Ardilla berusia 15 tahun dan sedang menanjak karirnya. Walau kemudian, papa bilang kalau Nike itu diambil dari nama seorang dokter yang saat itu pernah bertugas, tapi saya yakin, papa setuju dengan nama Nike karena ada artis remaja, putih, bersuara emas yang sedang tenar saat itu. 

Entah ini kebetulan atau memang sudah talenta, Nike nya kami ini juga pintar menyanyi. Di umur dua tiga tahun, Nike ini sudah hafal banyak lagu dan suka sekali menyanyi dengan nada yang pas. Sehingga mama juga para asisten rumah tangga sering bergurau, 'wah Nike besar bakal sama kayak Nike Ardilla nih'. Apalagi saat Nike umur 4 tahun dia bahkan benar-benar hafal lagunya Nike Ardilla. Kedepannya, Nike memang tidak jadi penyanyi. tapi suara emasnya tetap menjadi favorit saya. Nike selain dulu aktif menjadi penyanyi gereja, yang paling membahagiakan adalah suaranya Nike yang mengiringi saya berjalan menuju altar :'). Makasi, Nike.

(Well, i think this is also related. But let's see. There was a time that i guess, Nike's style (and posture) was similar with Nike Ardilla. Short hair cut, Indonesian white skin, nice body).

Kembali ke Nike Ardilla (NA). Seperti yang sudah saya bilang, walau keluarga saya bukan pecinta musik, tapi ayah saya toh membeli (kalau tidak salah) dua kaset NA. Yang saya ingat terutama yang album terakhirnya beliau yang Sandiwara Cinta. Dan untuk beberapa bulan (atau samapai tahun) kemudian, rumah kami pun dimeriahi oleh suara emas almarhumah.

Ini cover albumnya

Setelah itu, walau tidak selalu ingat, saya tidak benar-benar melupakan NA. Apalagi NA masih beberapa kali dibahas di infotainment. Mengingat NA meninggalkan banyak kenangan dan kesan positif. Sebut saja Nike Ardilla Fans Club yang betul-betul solid yang masih sering mengadakan banyak kegiatan. Kemudian museum Nike Ardilla, kemudian sekolah luar biasa yang dirintis oleh Nike Ardilla yang masih diteruskan sampai sekarang, belum lagi makam NA yang tak pernah sepi dari pelayat.

Wow, bayangkan seorang remaja perempuan berusia 19 tahun begitu memberi pengaruh bahkan sampai 21 tahun setelah kematiannya. 

Dua hari yang lalu kemudian saya kembali mendengar lagu-lagunya NA, saya kembali google info tentang beliau dan google gambar-gambar NA. Dan saya menemukan diri saya menikmati perjalanan memori itu sambil mengangumi artis yang berkarya sangat luar biasa tersebut. 

Tapi saya bisa katakan NA itu inspirasi. Bukan hanya karya, kebaikan hatinya, juga style-nya. Gaya-gaya beliau itu timeless loh. Keren ya?

gambar dari sini

Postingan ini anggaplah sebagai bentuk penghargaan saya kepada NA yang pernah hadir menginspirasi masa kecil saya. 

Berikut selamat menikmati lagu Sandiwara Cinta dari NA ;).




NB: Nike Ardilla itu Carpricorn :). (saya juga:p)

[ selengkapnya... ]

Listening

My sister once told me that i am not a good listener. I forgot what we were talking about, until she came up with the conclusion. I guess, it's just one of our never ending discussions, when we lived together (ohh those good old days). Since that, i put attention on how i listened to others. And then i realised, yes! she was right. Many times, i found myself thinking about anything else while others were talking to me. My mind was just easily wandering to somewhere else even when i had to be here. Well, of course it didn't happen every time (i should make it clear, before you guys think that i am a bad person -or maybe i am-). I think it really depends on what topic the person was talking about.

Anyway, since that time, i tried to change. I tried to open my ears and my mind to people's story. It's not easy though. Sometimes, i would cut when my friend was speaking. Because i thought that they liked it when someone also supported their arguments, even they hadn't finished talking. I know, i was wrong. Because when i was treated like that, i didn't enjoy it. It was like, 'hey, dude, can you wait for a second? this is still my time to give a speech'. Furthermore, in many cases people do not need other's voices, they just need your ears, your attention.

Many times (again) Yosua claimed that i never ever listened to him. And yeah same cases here. Because when he hadn't finished a sentence, i have cut with my unlimited words. Oh what a partner, i am.

But i tried (again).

And now i realise, probably, i have changed just for people who are not close to me. You know, we are always a devil for our inner circle, aren't we? We can act like a saint for strangers or outsiders, but once we come back home, we put off our masks, and the monster in us wakes up.

When i am with people who are not my family or best friends (and this means every body in the world, except less than 10 people), i may mindfully listening. I try hard not looking at my handphone. I try hard to focus on the topic. and name it. Even sometimes, it's hard to maintain my mind to be here and not going there. Even sometimes, i also try hard not to yawning if i get bored. Even sometimes, i failed (it takes times to make a good habit works).

Hopefully, i can apply exactly the same, when i am with my beloved one (especially my dearest partner). Well, even if you really love and care and blah blah to your partner, but continuously listening may also be a hard job. You will understand this sentence fully if you think you are an introvert person. You know, we need our own time to reenergise, and at the same time there is someone close to us who
really wants to share stories about his childhood experiences because he just found out something that related to this (which actually he have ever told you the same story before but with a different trigger).

Ha!

Speaking of trigger, the reason why i write this post is because today i have a not so good experience about listening. I was with someone who constantly looking at her phone while she was with me. She kept chatting with her friend. And sometimes, when she remembered that i was there, she would ask me a (not so important) question, and then while i was answering, she looked down again to her phone and repeat.

So today i am reminded again with this lesson. To be a good listener. i will try.



pic from google image
[ selengkapnya... ]

Tentang Memberi Sambutan di Acara Pernikahan

Ini random post aja ya.

Sejak saya pulang kampung selesai kuliah, dan banyak kali mengikuti acara resepsi pernikahan baik itu di SoE maupun Kupang, ada bagian acara yang paling membosankan menurut saya, yaitu kata-kata sambutan.

Urutan kata sambutan biasanya kayak gini:
1. Perwakilan keluarga (kadang bisa 2 orang nih perwakilan keluarga).
2. Sambutan dari pemerintahan (tergantung siapa yang paling tinggi jabatannya. Bisa gubernur, bupati, ketua dprd, bla bla).
3. Sambutan dari bos kantor mempelai pria.
4. Sambutan dari bos kantor mempelai wanita.

Lama sambutannya itu juga tidak tentu ya. Ada yang maklum, makanya cepat. Tapi banyaaakkkk pula yang lama banget. Pengalaman saya ikut pesta, ada yang sambutan itu 1 jam sendiri -____-. Pernah salah satu bos mempelai sembari memberi sambutan juga sambil memperkenalkan perusahaan mereka kepada publik (Duh pak, ambil kesempatan banget nih). Ada pula bos yang sambil promosi kalau di tempat kerja mereka lagi buka lowongan pekerjaan. Ya lucu-lucu lah.

Padahal menurut saya, banyak pihak yang jauuuhhhhhh dan jauhhhhh lebih penting didengar pendapatnya dibanding orang-orang no.2 sampai 4 itu. Siapa pihak tersebut? Ya tentu saja kedua mempelai dan kedua orang tua mempelai. Bukankah ini adalah hari berbahagia dan bersejarah buat mereka. Pastinya banyak perasaan yang ingin mereka bagikan kepada para tamu, bukan? Dan kayaknya tamu mungkin lebih senang mendengar langsung dari Bapak mempelai wanita misalnya yang cerita bagaimana dia melihat anak gadisnya tumbuh, mendewasa, lalu bertemu pria idamannya. Atau gimana mempelai pria bercerita tentang alasan utama dia menikahi kekasihnya. Hal-hal sentimentil ini tentunya akan sangat berkesan bukan hanya bagi para tamu, tapi lebih kepada yang punya acara.

Tapi ya, agak susah juga sih kita untuk 'break the tradition'.

Waktu saya nikah, sambutannya untungnya hanya dari no.1 dan no.2. Secara saya dan Yosua waktu itu sedang tidak punya bos :p. Dan saya sendiri  pun menikmati sambutan kedua orang yang kami hormati tersebut. Isinya bukan semacam pidato atau nasehat yang semua orang sudah tahu, tapi lebih ke 'kesan' terhadap acara pernikahan ini. Di tambah lagi, beliau yang no.2 itu adalah sahabat kecil ayah saya. Saya bisa melihat senyum lebar ayah saya saat sahabatnya memberi sambutan di acara pernikahan anaknya.

Walaupun, sama sekali MC tidak menanyakan bagaimana perasaan kami (hiks) atau perasaan orang tua kami. Tapi biarlah. Padahal kalau misalnya di tanya saya sudah siap 10 menit sendiri tuh untuk ngomong ;D.

Saat itu juga sama sekali saya tidak kepikiran tentang itu. Rasanya saking bahagianya lupa semua konsep dan detil.

Semoga ya, suatu saat acara pernikahan terutama di NTT ada yang berani untuk tidak kaku seperti sekarang.


Misalnya, ada Bapak yang kasih wedding speech seperti ini :')


[ selengkapnya... ]

Makan siang di Abbotsford: Dari dan untuk komunitas

Mumpung masih rajin nge-blog ya, saya mau lanjut berbagi pengalaman waktu ke Abbotsford beberapa minggu lalu bersama suami dan sahabat, si Angel.

Kita perginya pas 3 Juni. Ingat banget, karena waktu itu Nike ulang tahun. Saya sebelumnya sudah pernah ke Abbotsford bersama Jia, tahun lalu. Karena saya terkesan sekali dengan tempat ini maka saya mengajak Yosua dan Angel datang ke sini.
Memasuki Abbotsford, mau jalan ke mana dulu?


Abbotsford convent ini adalah semacam kegiatan yang digalakkan oleh komunitas setempat yang ingin melestarikan tempat yang sudah ada sejak lama ini. Di dalamnya ada peternakan, ada perkebunan, ada restorannya, ada galeri seni, ada pula sekolah (tapi kayaknya sekolahnya berdiri sendiri. Tempat ini punya makna sejarah yang khusus. Itu daerah gereja gitu. Untuk lebih lengkapnya bisa langsung ke wesite nya ya : abbotsfordconvent.com.au

Tempatnya luaaaassss sekali. Dan banyak spot foto yang bagus-bagus. Pokoknya keren banget untuk yang ingin melepas penat di Melbourne tapi ngga mau jauh-jauh. Karena lokasinya cukup dekat. Paling 20an menit naik bis dari kota.

Farming area. Bank yang bersepeda juga
Hello sheep!










Gereja tua



Ini dulu tempat laundry waktu jaman susteran gitu. Kan ceritanya Abbotsford ini tempat gereja membantu kaum papah gitu lah. Keren ya, masih dipertahankan 









Setelah puas jalan-jalan di situ kami pun mampir makan di sana.Uniknya di Abbotsford ini ada restoran yang tidak ada kasirnya. Loh! Jadi mereka menyediakan menu breakfast juga lunch. Kalau lunch sistemnya kayak prasmanan gitu, jadi ambil sendiri. Nah untuk bayarnya mereka sudah menulis di meja, berapa yang layak kita bayar untuk membantu mereka meneruskan usaha ini. Tapi tidak dicek loh. Bisa saja kita abis makan langsung kabur, toh ngga bakalan ketahuan. Cuma ya orang-orang di sini memang sudah dilatih untuk 'Jujur terhadap diri sendiri ya', yang saya perhatikan, semuanya setelah makan, meletakkan piring kotor di tempat tersedia, lalu beralih ke kotak amal itu untuk bayar. Kalau ngga bisa bayar gimana? Nah mereka juga menawarkan untuk jadi relawan di sana. Buat cuci piring, cleaning, atau di farm. Seru kan? Motonya adalah : "Our food is not free, but you are".



Lentil's philosophy yang terdapat di buku menunya.

Selepas jalan-jalan seputar Abbotsford, kami menyusuri sungai di dekat situ.

Semua makhluk berbahagia lah ya kalau di sini :)
Sepanjang trek sungai ini ada mural paintings yang ada cerita rakyat Aborigin


sisa-sisa Autumn

Kalau diperhatikan baik-baik itu ada sepasang muda-mudi lagi turun tebing ;)

I got your back, ;)





Saatnya pulang ke rumah ;)

Yeiy, thank you for the lovely pictures, suami  :)












[ selengkapnya... ]

To Top