Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Aku dan malam

Seperti yang sudah-sudah...
Siapakah yang menunggu malam? Saya.
Saya dan kejadian siang, semakin disempurnakan dengan datangnya malam.
Malam itu refleksi
Malam itu berleha
Malam itu menyudahi
Malam itu gelap
Malam itu menenangkan
Dan terlebih, saya suka udara malam yang membelai...

Selamat malam Kekasih jiwaku...
Aku berdua bersamamu sepanjang hari,
Tapi terlebih kunantikan Engkau saat malam.

Aku menyukai malam. Aku senang bermanja dengan malam.

Malam ini,
Seperti yang sudah-sudah...
Terkadang kumerindukan dia datang...

Sandra
Malang di malam hari.
23 mei 2009

Malamku berdiam dengan tenang
Kekasihku sedang menungguku

Rasa ini

Rasa ini

Akankah itu abadi?
Hari ini mungkin akan ada banyak cinta dari manusia untukmu, tapi belum tentu esok kau akan tersenyum sumringah seperti sekarang.

Hari ini, kau mungkin marah terhadap dia yang menyakitimu, tapi di lain waktu kau akan melihat dia sebagai seorang yang kau kagumi.

Rasa
Akankah itu untuk selamanya?
Diwaktu dulu semua perasaan kau berikan untuknya, kau memikirkannya setiap hari, berpikir dunia akan berakhir jika hidup tanpanya, dan sekarang kau hanya tersenyum ketika menengok ke belakang, karena rasa untuk dia sudah menjadi tawar.

Perasaan

Huuhh
Dan sekarang aku bicara perasaan. Seolah akulah yang paling tahu.
Si manusia kecil ini dengan percaya dirinya yang berlebihan ingin mengemukakan perasaan. Tahu apa dia? Oh . . . Bukan dia, tapi aku.
Tahu apa aku?

Dulu aku percaya perasaan kita saling menggenggam. Sehingga aku dapat merasakan apa yang mungkin kau rasakan.
Hahaha, itu sudah sangat lama terjadi.
Sekarang biarkan perasaan berkelana dengan pasti.
Mencari suatu pelabuhan ya…

Tersenyum dengan hati teriris

Untuk sekali ini, aku kembali dengan perasaan yang sama, dengan hati yang sama, dengan senyum yang sama.

Untuk sekali ini, luka yang belum mengering itu kembali terbuka. Bebat yang pernah melapisi hati seolah tak sanggup menaham nanah yaeg meleleh akibat sayatan itu.

Namun aku selalu diam.

Diam dan menahan perih.
Dan tidak hanya itu, di tengah kesakitan itu, aku tersenyum.
Sekali lagi aku harus tersenyum untuk mengatakan, 'haha. . . Aku baik-baik saja'.
Seolah wajahku dan hatiku berasal dari nyawa yang berbeda.
Wajahku tersenyum tapi hatiku tersedu.

:-)
Sebentuk senyum diwajah, seolah ingin menjelaskan semuanya.
Senyum ini adalah bantahan terhadap semua kenyataan
Senyum ini terkadang menjadi penyangkalan akan semua risau.
Senyum ini memang penghiburku

Sekali lagi untuk sekali ini, salah satu dari dia kembali dan kemudian melemparku. Aku tersenyum dan tersedu.
Tersenyum untuk ketegaranku, untuk kesabaranku.
Dan tersedu untuk luka yang belum mengering.

Malang, 09 mei 2009.
00.15