memberi persembahan

persembahan

Hari ini saya setelah ibadah kebaktian siang, diminta tolong oleh pengurus komisi pemuda untuk menghitung persembahan. Ini sesuatu yang baru karena biasanya saya hanya diminta menjadi kolektan di kebaktian siang. Menghitung persembahan sih aktivitas setiap minggu tapi hanya dalam skala sekolah minggu. Itupun karena jumlah anaknya 30 jadi menghitung cukup satu orang dalam 5 menit selesai. Kalo untuk kebaktian umum baru kali ini.

Setelah selesai doa penutup bersama pdt, uang dari kantong persembahan digelar, yang menghitung berkisar 8 orang, 4 orang pemuda dan 4 lainnya bapak-ibu majelis. Sebagai info gereja saya termasuk gereja yang besar. Di hari minggu ada 5 kali kebaktian dengan 2 tempat gereja. Jadi bisa dibayangkan jumlah uang yang terkumpul pastilah banyak lembarannya. Yang dilakukan pertama adalah menghitung uang yang nominalnya besar, yang nolnya 5, uang warna biru, hijau dan merah. Dominasi dari lembaran-lembaran uang itu adalah uang dengan gambar patimura membawa parang. Itu luar biasa banyaknya dan sebagian besar luar biasa kotor dan kucelnya. Kami berdelapan menghabiskan waktu 20 menit menhitung uang-uang itu. Lama, secara uang yang dimasukkan dalam kantong persembahan sudah mengalami proses pengoyakan ditangan pemberi, yah jadi setiap lembaran harus kami buka dari bentuknya yang sudah tidak karuan. Seorang majelis menyeletuk, ‘wah banyak ribuan ya hari ini’. trus ditimpali sama majelis yang lainnya, ‘maklum pak mahasiswa’ ( karena kebaktian siang adalah kebaktian umum yang kebanyakan dihadiri mahasiswa ).

Saya berpikir, sebegitu sulitkah hidup seorang mahasiswa sehingga untuk memberi persembahan jumlahnya harus lebih kecil dari uang angkot. Maaf sekali lagi maaf, yang saya bicarakan disini adalah mahasiswa yang berkehidupan normal, yang uang kirimannya selalu teratur tiap bulan, yang makan mie hanya sesekali kalo kepepet atau malas keluar nyari makan. Lanjut lagi. Didaerah kontrakan saya untuk membeli makanan yang tersedia minimal 5000 tanpa minum. Itu udah minimal. Tapi kenapa memberikan persembahan harus banyak mikir? Itu pertanyaan juga buat saya. Kadang kalo di akhir bulan, uang kiriman mulai menipis, maka yang saya korbankan adalah memperkecil jumlah uang persembahan.

Padahal kalo mau dipikir, apa sih yang gak Tuhan kasih buat kita? Orang uang jajan kita pun adalah berkat dari Tuhan, tapi untuk mengembalikan sedikit dari berkat itu rasanya sulit banget ni tangan merogoh kocek. Dibandingkan dengan membeli baju, kita dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk selembar baju daripada memberi persembahan buat Rumah Tuhan. Mungkin kita berpikir, ahh kita kan masih mahasiswa, belum menghasilkan uang sendiri, belum punya perkerjaan, jadi maklumlah, lagian gerejaku kayak kok, jadi tenang aja pasti mereka yang akan lebih bertanggung jawab untuk masalah rumah tangga gereja.

Menurut saya bukan pada masalah gereja kita besar atau kecil, kaya atau tidak, tapi pada sikap hati kita. Memberi persembahan itu juga suatu rangkaian ibadah, sehingga dimasukkan dalam liturgy ibadah. Salah satu (ingat salah satu) bentuk penyerahan diri kita kepada Tuhan, adalah dengan memberikan persembahan. Dan itu mencakup seluruh hidup kita, termasuk perekonomian kita. Bukan jumlah yang Tuhan lihat tapi hati. Tapi selalu ingat bahwa Tuhan mengetahui semua maksud kita. Tuhan juga tahu semua kemampuan kita termasuk kalo misalnya kita mampu memberi sekian tapi kemudian kita memotongnya.

Saya pun masih belajar dan terus belajar dalam hal memberi. Karena kedagingan saya masih sering lemah, rasanya berat untuk memberi persembahan ataupun perpuluhan. Tapi kemudian saya diingatkan oleh seorang pemazmur yang berkata ‘Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti’. Sedangkan burung diudara yang tidak menabur dan menuai Tuhan selalu pelihara apalagi kita anak-anak yang berharap pada Nya.

Selamat memberikan seluruh hidup kita sebagai persembahan yang utuh kepadaNYA.
Sekali lagi Tulisan saya diatas, tidak bermaksud menyinggung siapapun. Saya hanya mengeluarkan isi pikiran saya yang belum tentu benar ini.

Sandra
17 mei 2009

Komentar:

To Top