Pages

Rabu, 30 Maret 2011

Aku buta dan mencintaimu

Setahu dia, daun warnanya hijau. Tapi dia tak tahu hijau itu seperti apa. Sudah lama, sejak ibunya menceritakan kalau bunga itu warna warni. Ada merah, kuning, ungu, putih. Tapi sungguh dia tak dapat membayangkan merah itu secantik apa. Lima belas  tahun hidup tanpa fungsi kedua bola mata sudah cukup mengajarkan dia banyak hal.

Yang pertama tentu saja pengampunan. Bagaimana tidak, infeksi kedua mata saat dia lahir, penanganan yang tidak tepat oleh tenaga medis saat itu, menyebabkan infeksi berkepanjangan, dan tidak butuh waktu lama untuk penyakit tersebut merenggut penglihatannya. Tragis. Siapa yang salah? Sehingga untuk yang satu ini dia belajar mengampuni. Mengampuni kedua orang tuanya yang menyebabkan dia tertular infeksi ketika lahir, mengampuni si tenaga medis yang salah mendiagnosa penyakitnya, sehingga dia cacat seumur hidup. Apa lagi yang dapat dia lakukan selain menerima. Neneknya, adalah pengganti matanya, juga penyulut semangatnya untuk terus menikmati hidup. Sehingga, daripada menghabiskan waktu untuk menyesali nasibnya dia memilih untuk menerima bahwa menjadi buta itu bukanlah hal yang terburuk.

Pelajaran kedua adalah imajinatif. Neneknya tak pernah bosan untuk menerangkan bahwa bulat itu seperti bola, lalu kemudian neneknya akan membawakan bola padanya menyuruhnya untuk merasakan setiap inci, dan menerangkan fungsinya. Lalu mengatakan. Ada banyak benda yang bentuknya bulat. Bulan, dia bulat dan bercahaya. Roda kendaraan, dia bulat dan berputar. Kepala yang bulat dan memiliki rambut. 

Lain kali neneknya akan mengajak dia jalan ke pasar. Disana ramai. Suara suara datang dari depan, samping, belakangnya. Dia mempererat pegangan tangannya pada nenek. Nenek akan menuntun dia duduk, entah di mana, tapi sepertinya masih di sekitar pasar, karena bau bau pesing, ikan, debu, masih bisa diciumnya. Kemudian nenek mulai bercerita. Lengkap mengenai pasar dan suasananya. Bahkan nenek menyebutkan juga kalau si penjual ikan hanya memakai celana pendek hitam selutut dan bertelanjang kaki.  Setelah itu nenek membawa dia berkeliling pasar, dan kemudian membelikan dia es tung tung dan arum manis.

Malam hari adalah waktu yang paling dia suka. Kata nenek, malam itu gelap. Bahkan jika tak ada lampu atau sinar, orang seperti nenek pun  akan kesulitan melihat. Sehingga jika malam tiba dia bahagia. Karena merasa mempunyai banyak teman. Malam hari dia akan keluar dan duduk di teras. Ditemani angin malam, suara binatang malam, dan pekatnya malam, dia bersenandung. Dia suka menyanyi. Menirukan suara para penyanyi yang didengarnya lewat radio. Dengan cepat dia akan menghafal setiap lirik dan nada. 

Ketika bersenandung itulah, saat dimana dia dalam pikirannya sendiri membentuk benda benda yang sekiranya ingin dia ketahui bentuknya. Contohnya, dua tahun lalu, Randy ponakannya yang datang dan memamerkan robot power ranger hitam. Randy berbaik hati meminjamkan robotnya itu, dan dia mencoba merasakan bentuknya. Sepertinya bagus. Dia dapat merasakan lekukan lekukan detil dari robot itu. Sepertinya terbuat dari plastic yang tebal, mempunyai helm, di tangannya ada senjata. Kata Randy, warna hitam itu yang paling bagus, senjatanya paling kuat. Entahlah, buat dia sama saja. Toh dia tak pernah menyaksikan langsung kehebatan senjata si ranger hitam.

Dan malam ini, kembali dia duduk, di teras yang sama, dengan angin, suara dan pekat malam yang sama. Tetapi senandungnya kali ini berbeda. Lagu lirih. Seperti juga hatinya yang lirih. Dua bulan ini, entah kenapa, hasrat dia memiliki mata terlalu kuat. Untuk yang satu ini, dia sangat ingin melihat. Karena membayangkan saja sepertinya tidak cukup. Dia butuh bukan hanya deskripsi nenek, atau indra perasanya. Tapi lebih dari itu. Dia ingin betul betul melihat dengan kedua matanya sendiri.

Namanya Sinta. Empat bulan ini menjadi tetangganya. Mereka saat keluarga sinta datang bersilahturahmi ke rumah nenek nya . Dia dapat merasakan sentuhan tangan Sinta. Lembut dan rapuh. Tapi lebih lagi, ketika mendengar suaranya, dia dapat membuktikan kalau tak hanya ada cinta pada pandangan pertama, tapi juga cinta pada pendengaran pertama. Suaranya renyah. Garing seperti ketika dia mengunyah taro kesukaannya.
Kata ibunya, Sinta juga pindah ke sekolah di dekat situ, tentunya bukan sekolahnya yang khusus itu. Sinta lebih muda setahun dari dia, tapi dia sudah kelas 9.

Sejak perkenalan itu, dia selalu memasang telinga ke arah rumah sinta. Dan akan sumringah jika telinganya menangkap suara Sinta sedang bermain dengan adiknya. Atau saat pulang dengan teman temannya. Yang paling dia suka adalah ketika menemani neneknya mengantar sesuatu entah itu gorengan atau kue pesanan ibunya sinta. Dia dapat memastikan Sinta yang akan menyambut kedatangan mereka. Kemudian dia akan menyerahkan bungkusan kue ke sinta. Kadang tangan mereka bersentuhan. Dan dia tahu, ada aliran listrik 100 watt diantara mereka, karena kemudian dia akan tersentak, walau tak pernah melihat, dia tahu, pipinya merah, karena dia merasakan panas disitu. Kemudian Sinta tergelak. Mungkin menertawakan kegugupan dia. Dan  mereka berteman.

Dia juga suka baunya Sinta. Segar seperti sabun mandi.

Dia tahu Sinta itu anaknya baik. Sejak mereka resmi berteman, sudah dua kali Sinta datang ke rumahnya dan membawa koleksi komik punyanya. Serial cantik. Karena dia tak punya komik dalam huruf braile, sinta kemudian membacakan dia komik itu dan mendeskripsikan gambar gambarnya tepat seperti neneknya. 

Sinta tak pernah tahu, tapi dia tahu ada yang berubah pada dirinya sejak kenal Sinta. Dia sekarang lebih mencintai yang namanya sekolah. Sebelumnya, sekolah baginya hanyalah untu pengisi waktu, diasudah mendengar banyak cerita tentang bayak orang buta di panti tuna netra yang kemudian menjadi tukang pijat, atau menjahit keset, atau kerajinan tangan lain. Walaupun membencinya, dia berusaha siap untuk itu. 

Tapi saat ini, setitik sinar menggapai dia. Dia tau itu Sinta. Dia lebih semangat lagi belajar. Bahasa inggris yang dihindarinya, saat ini dia mencoba mengerti. Radio kesayangannya selalu dibawa kemana manaa, didengarnya banyak berita, bahkan saluran radio yang menyiarkan berita berbahasa inggris juga suka didengarnya. Dia berusaha mencari bahan obrolan bersama Sinta.

Pelajaran seni semakin menarik hatinya. Di pelajaran tersebut, mereka diasah kemampuan otak kanan mereka. Ada yang merangkai, kerajinan tangan, menyanyi, bermain music. Dia tertarik dengan gitar. Dia suka mendengar permainan akustik Jason mraz, Sabrina lewat radio. Dan dia mulai mrmprlajari gitar.

Ulang tahun dia dua bulan lalu, dia merengek minta dibelikan gitar. Oleh neneknya dia dicarikan gitar bekas, tapi masih layak pakai. Dia melonjak kegirangan, dibawanya gitar keliling rumah, dan segera menelpon Kak Hari, guru seni musiknya, minta diajarkan khusus main gitar.

Tuhan itu adil dan penuh kasih. Dia mengijinkan anak lelaki itu tidak melihat, dan dia memberikan kelebihan bermusik padanya. Dengan cepat dia belajar memainkan gitar. Tangannya kini fasih memetik dawai gitar, dan juga lincah berpindah dari kunci satu ke kunci lain. Dia peka terhadap suatu lagu. Kemudian tak sulit untuk menemukan kuncinya.

Semuanya hanya untuk satu alasan, memainkan lagu itu didepan sinta.

Kembali malam ini, di teras, udara dan pekat yang sama, dia mengambil gitarnya. Memetik pelan, dan bergumam bernyanyi setengah berbisik. Dia membayangkan Sinta. Dia tahu, tubuhnya tak pernah sempurna untuk sinta, tapi cintanya tak bercacat. Besok, sinta akan tahu.

Malam itu dia tidur, tanpa banyak berharap. Tanpa banyak bermimpi. Tanpa banyak melamun. Biarkan segalanya terjadi apa adanya. Diam diam dia berdoa.

Sore ini mendung. Awan hitam menggantung seak tadi siang. Tapi seolah hujan masih enggan turun. Jantungnya bekerja keras, bukan karena langit gelap, tapi karena ini adalah hari yang di tunggu selama waktu terakhir, sejak sinta tidak pernah absen mengisi hatinya.

Dia berpakaian serapih mungkin, dengan celana panjang jins, yang kata nenek berwarna biru muda, kaos berkerah, dan sepatu sandal yang biasa dipakainya jalan jalan. Dia tak suka memakai kaca mata, karena dia akan terlihat buta. Dengan hati hati diambilnya gitar di elusnya seolah itu adalah benda antic tak terkira nilainya. Dia melangkah hati hati ke rumah Sinta.

Kali ini dia tak membawa tongkat. Dia berjalan dengan panduan perasaan dan telinga. Toh jaraknya dekat. Dan sungguh hari ini dia tak ingin terlihat cacat. 

Sinta menyambutnya. Hari ini Sinta terlihat cantik. Entahlah, mata hatinya dapat melihat jika Sinta lebih cantik dari biasanya. Kata Sinta dirumah tak ada siapa siapa. Mereka duduk di teras rumah. Kemudian terdiam. Dia mengambil gitarnya, dan mulai memetik nada. Bibirnya mengalunkan pelan lagunya Ronan Keating-Superman,
I've been heading in the wrong direction
Hiding from my own protection
Running but my heart was standing still
I guess you saw the light inside me
Your love has been a torch to guide me
I hope I can be all that you deserve.

Well I'm no superman,
But I'll love you the best I can
And you know I'm just flesh and bones,
But with you
I feel I'm flying
Don't you know I'm no superman
But I'll always be your man.

I was searching for a heart that's beating
As fast as the way I'm feeling
Trying to find some peace there in my soul
You know it was your love that saved me
The answer to my prayers you gave me
And I hope I'll be all your deserve.

I'd fight for you,

I'd die for you
You know I would
Hold back the night, light up the sky,
Oh if I could I'll always be your man
Dia mengakhiri lagu itu. Sinta masih terdiam. Andai dia bisa melihat ekspresi wajah Sinta. Dia masih melanjutkan permainan gitarnya. Kali ini tanpa menyanyi. “aku…” sinta berkata terbata. Dia cepat memotong. “Tidak usah kau pikir Sin, aku hanya ingin membagikan perasaan ini ke kamu, ini terlalu meluap untuk ku tampung sendiri. Dan sekarang aku lega. Makasih Sin,aku pulang”

Kemudian dia beranjak pulang. Dengan kepala tegak, hati lapang dan senyum mengembang. Dia memang tak pernah berharap banyak. Perasaan ini datang begitu saja dan menginspirasi dia begitu luar biasa. Buat dia itu sudah cukup. Tanpa dia harus memilikinya. Selamanya, Sinta akan menjadi fokus hatinya. 

Dan tinggallah Sinta, menatap punggung tetangganya yang bergerak menjauhinya. Anak lelaki yang darinya dia belajar banyak hal terutama bersyukur dan menghargai. Betapa jarang dia berdoa meminta terima kasih buat penglihatan normal, sehingga segalanya menjadi lebih mudah dengan kedua mata yang berfungsi baik. 

Hatinya gamang. Lagu tadi benar benar telah membuat dia melayang. Andai…. Ahh dia menepis segera harapan konyol dan egoisnya dia. Tatapannya masih belum beranjak dari anak lelaki yang menenteng gitar itu, matanya basah. Perasaan setulus itu baru dirasakan sekarang, dan membekas.

Mungkin… mungkin… cinta itu bisa menular.

Sandra
Akhir maret 2011

0 comments:

Poskan Komentar