Pages

Jumat, 25 Maret 2011

Ruang Rindu

Ada suatu ruang tersembunyi dalam rumah hati. Namanya Ruang Rindu. Ruang itu bukanlah yang paling besar dan nyaman dari setiap kamar yang ada. Sebaliknya, ruangan ini sempit dan sudah tertumpuk banyak benda. Ruangan ini memiliki banyak kotak. Setiap kotak memiliki nama. Seperti loker siswa. Tepat seperti itu. Dalam setiap loker tersimpan semua kenangan bersama orang itu. Entah indah, entah menyakitkan, entah kecewa, entah cinta, entah lucu, entah memalukan.

Dan saat ini aku sedang ada dalam Ruang Rinduku. Menatap loker bertuliskan namamu. Mencoba dengan takut takut untuk menarik pembukanya. Takut tapi penasaran. Enggan tapi rindu. Sedikit memang isinya. Tapi masih baru, menandakan semua belum terlalu lama berselang. Satu persatu kukeluarkan. Setiap kejadian berloncatan. Bayangan kamu. Ekspresi kamu. Senyum kamu. Kata kata kamu. Kisah kamu. Sedikit. Tidak banyak.

Oh ya, dalam setiap loker dari Ruang Rindu itu. Terdapat toples air mata yang juga bertuliskan nama orang itu. Artinya, setiap jumlah tetes yang ada menandakan berapa banyak air mata yang kau ekskresikan untuk orang itu. Aku menatap toples bertuliskan namamu. Kering. Menandakan tak sekalipun aku menangis untuk kamu.

Ada juga buku hitam. Dengan malas aku membukanya. Disitu tertera semua kata kata 'hitam' yang pernah terucap. Kata kata menyakitkan. Dan aku tertegun, betapa semua sumber kata kata itu dari aku seorang. Aku kerap menyakitimu dengan lidah bercabang dua ini.

Dan saat ini, aku terduduk masih di ruangan yang sama.
Memeluk lutut sambil menundukan kepala. Menyesal. Maaf. Aku salah.

Untuk sekali ini, aku bahkan tidak menangis. Aku yang cengeng untuk seorang kamu yang pernah berharga, bahkan tak sekalipun meneteskan air mata. air mata penyesalan sekalipun.

Sehingga...
Maaf untuk aku yang sangat tidak sempurna
Maaf untuk ucapanku yang terlalu menyakitkan
Maaf untuk idealismeku yang menuntut selalu dan selalu
Maaf untuk anganku yang menyetarakan kamu dengan pangeran berkuda putih
Maaf untuk hati yang tak pernah menghargai kamu.

Sudahlah,
Mungkin, kamu akan lebih bebas melayang tanpa aku
Mungkin, aku bukan pengaruh baik buat aku.

Malam ini,aku betah ada di Ruang Rindu, menatap loker bertuliskan namamu.
Kamu, bagaimanapun pernah berarti.

Selamat malam, hati...
Kamu kesepian lagi sejak malam ini.
Mungkin baik untukmu.

25 maret 2011
perlahan aku menutup Ruang Rindu. Menguncinya.
ada yang hilang
aku tahu itu kamu

0 comments:

Poskan Komentar