Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Memprakarsai hidup.

Gambar
Tinggal di tempat yang kering, berbatu dengan iklim yang tidak mendukung untuk pertanian, menjadikan mata ini sudah terbiasa dengan pemandangan mengenaskan bertajuk kehidupan. Sepanjang jalan dipenuhi dengan batang batang pohon yang meranggas ditinggal dedaunan, sawah sawah kering, anak anak kecil kurus berambut merah menmba air, wanita wanita dengan empat jerigen, para pria tua bertelanjang kaki membawa kembali pisang dua sisir yang tdak laku djual di kota. Sudah biasa.


Iba? Sudah pasti. Hanya robot yang tak punya hati yang tak sampai menaruh belas kasihan. Apalagi melewati rumah rumah pendek, dibangun dengan atap alang alang, rumah bulat namanya. Konon mereka jauh memilih tinggal disana, daripada rumah semipermanen yang ditawarkan pemerintah. Istiadat.


Tetapi tanpa saya mengasihani keadaan tersebut, hal itu sudah berjalan berpuluh puluh tahun. mereka menjalaninya dengan sebagaimana mestinya. Bangun pagi mereka menyiapkan sarapan, yang mungkin itu jagung yang di hancurkan di tambah say…

Mengendarai emosi.

Gambar
Coba ingat pertama kali kita dapat mengendarai sepeda. Pasti bukan hal yang mudah. Ketika duduk di sadel, dan kaki kanan kita sudah menapak di pedal, sedangkan kaki kiri masih menapak di tanah, kita memandang lurus ke depan, dan sedikit ragu untuk memulai kayuhan yang pertama. Kedua tangan sudah siap di setir sepeda. Ketika kaki kanan mulai mendorong sedikit dan kaki kiri kita angkat untuk menaiki pedal, tiba tiba sepeda langsung oleng, tangan sibuk membelok belokkan setir, kedua kaki reflex menapak tanah. Kita gagal mengayuh. Tapi kita tidak menyerah bukan? Kita mencoba lagi, lagi dan lagi. Kita berlath mengayuh, berlatih untuk seimbang, berlatih mengendalkan setir sampai satu kayuhan penuh 360 derajat tercipta.


Barangkali emosi juga seperti itu. Bukan berarti ketika kita ingin marah, lantas kita dengan bebas marah. Dalam arti kita mengikuti raksasa dalam diri kita yang ingin marah membara. Kemudian kita menggebrak gebrak meja, menghancurkan segala sesuatu di sekeliling kita, memaki ma…

Indonesia, what can i do for you?

Gambar
Tujuh belas Agustus dua tahun yang lalu, saya meng-update status di facebook demikian, ‘Indonesia, what can i do for you?’, lalu ada komen masuk dari kakak tingkat saya yang saat itu adalah dokter PTT di daerah sangat terpencil di NTT, komennya berbunyi :’sebenarnya banyak lo san, yang bisa dilakukan J’ . kira-kira demikian. Pernyataan tersebut sempat membuat saya berpikir dan sedikit menggerakan saya untuk berbuat sesuatu bagi bangsa ini.

Tapi kemudian rutinitas, tugas dan ujian selama masa pendidikan alih profesi saya menyita banyak waktu saya sehingga keinginan saya agustus 2009 tersebut benar benar terkubur bersama kesibukan ataupun saya yang sok sibuk.

Sehingga kembali setelah dua tahun berganti, saya kembali duduk dan merenung sejenak, apa yang sudah saya buat unuk Indonesia? Tak bisa dipungkiri bahwa saya termasuk dalam deretan orang yang kecewa dengan pemerintahan. Kalo urusan memojokan pemerintah, saya rasa semua orang dapat tancap kaki dan berkoar disana, saya juga. Lalu, kal…