Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

bunga

Gambar
Setangkai bunga diletakkan diatas meja. Tiga orang mengamati.


Orang pertama mengambil bunga itu menaruh di dalam vas yang diisi sedikit air, meletakan kembali kemudian pergi. Orang kedua memandang vas dan  bunga itu mengambil kamera dan menjepretnya, kemudian dia juga pergi.

Tinggallah orang ketiga yang sedari tadi hanya memperhatikan dan mengamati bunga itu tanpa berbuat apa apa. Jam berdetak melaju, jarum pendek juga sudah bergerak banyak, tapi dia masih saja mengamati. Semakin lama dilihat dan dinikmati bunga ini tampak semakin hidup. Sekarang dia melihat kehidupan dalam setangkai bunga itu. Kelopaknya berwarna cerah dengan lekuk lekuk yang molek. Menyatu dibagian tengah bunga dan menyebar indah diatasnya.


Dia mendekati bunga indah itu, membauinya perlahan sambil menutup mata, seolah bunga akan bangkit dari tidur panjangnya jika terlalu kasar. Semerbak bunga mengisi rongga hidungnya. Memberi stimulus pada saraf penciuman dan membawa pesan ke otak, otak mentranslasikan pesan itu dan men…

Belajar mengenai Gideon.

Malaikat Tuhan memanggil Gideon sebagai ‘Pahlawan yang gagah perkasa’. Padahal Gideon sendiri memandang dirinya sebagai yang terkecil di kaumnya, dan dari kaun yang paling kecil dalam suku manasye yang adalah paling kecil di antara suku Israel. Tuhan melihat kita bukan seperti yang kita pikirkan, bukan yang seperti bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Sebaliknya tuhan melihat kita sebagai ‘mitra’, teman sekerja. Tuhan memanggil Gideon saat itu sebagai Pahlawan yang Gagah Perkasa, karena kondisi Israel saat itu membutuhkan seorang pahlawan yang untuk membantu mengangkat Israel dari kemelaratan akibat penindasan Midian.


Saya yakin, Tuhan pun punya sebutan atau citra yang DIA ingin ada dalam kita. Contohnya, Anak yang Berani, Istri yang Mengayomi, Suami yang Bertanggung jawab, atau mungkin dia melihat kita sebagai Tenaga Medis yang Profesional dan Misionaris, Pengajar yang Berhikmat, Penulis yang Menginspirasi dan sebagainya.


Tuhan itu luar biasa. Saat menulis kisah ini saya teringa…

Genggaman

Gambar
Suatu hari di suatu waktu, manusia ditakdirkan untuk berjalan kaki. Tidak ada kendaraan beroda dan bermesin. Para binatang pun hidupnya di hutan dan jarang sekali dipakai sebagai alat transportasi. Sehingga tidak ada alasan bagi para manusia ini untuk tidak berjalan kaki. Pergi bekerja, pergi sekolah, pergi ke pasar semuanya ditempuh dengan berjalan kaki. Mau ke kota juga harus berjalan kaki.


Melelahkan? Iya. Apalagi di sore hari ketika tenaga sudah banyak terkuras seiring peluh yang bercucuran saat matahari mengganas. Sehingga pada sore hari umumnya manusia berjalan dalam lesu dan gontai. Bila di pagi hari jalan mereka ringan dan riang, serta di siang hari langkah masih tegap, maka tenaga yang berkurang saat sore hari membuat langkah tidak semantap pagi hari. Rasanya suatu perjuangan untuk melayangkan kaki dan menapak menghasilkan satu langkah penuh.


Suatu sore di waktu yang sama, seorang pemuda melihat anak kecil sedang berjalan. Namun aneh, dia tidak lesu seperti yang lain, dia berja…