Kenapa Saya Menulis


Ini tentang hobi saya yang didapat karena suka membaca

Sejak kapan suka membaca? Sejak saya lancar membaca. Kelas 2 SD, pertama kali dibelikan majalah Bobo saya langsung tertarik. Dan selalu menunggu hari Jumat untuk membaca Bobo, hanya butuh 2 jam untuk menghabiskannya. Selain itu apa yang dibaca? Semuanya. Mama saat itu bekerja di Dinas Kesehatan dan banyak buku-buku cerita bertemakan kesehatan yang sebenarnya membosankan, tapi saya baca. Waktu saya kelas 3 SD, mama dikirimi sebuah kopian kesaksian seseorang yang dibawa Tuhan masuk keluar surga dan neraka, bukan buku, karena hanya diketik di mesin ketik dengan tebal 200 halaman lebih. Mama tidak membaca sampai selesai, tapi saya yang saat itu masih belum genap 8 tahun sudah selesai  membacanya. Di gudang Opa saya berisi banyak buku Dikbud, dan apapun yang ada ceritanya saya baca.

Saya tinggal di kampung, tidak ada toko buku. Gramedia belum ada di Kupang waktu itu, oleh ibu saya, saya sering dibelikan novel novel bekas karangan pengarang luar. Saya lupa judul dan pengarangnya. Sebagian cerita detektif, dan saya sangat menyukainya. Tante saya yang di Manado, tidak perlu repot memikirkan hadiah ulang tahun, cukup buku cerita. Komik maupun novel anak-anak remaja.

Kelas 6 SD, saya ketagihan dengan Agatha Christie. Saat SMP semakin menggila dengan John Grisham, Sidney Sheldon, Mary Hinggis Clark, Sandra Brown, Danielle Steel, Mira W dan lainnya. SMA barulah saya membaca semua seri Enyd Blyton, Harry Potter. Berlanjut ke kuliah dan sampai detik ini saya masih suka membaca, genre buku apapun.

Dari situlah saya kemudian suka menulis.

Awalnya saya tidak pernah berpikir untuk mengembangkan hobi menulis. Dari SD saya suka menulis buku harian. Walaupun isinya sebagian besar adalah cerita remeh kehidupan anak SD. Dulu saya juga suka menulis puisi. Anehnya saat ini cenderung kaku memainkan kata dalam puisi :)

Tahun 2006, saya dikenalkan media blog oleh teman. Kemudian saya membuat akun multiply. Berkembang dengan note friendster. Namun itupun belum dijadikan kebiasaan. Saya benar benar eksis untuk terus menulis setelah membuat blog di blogspot maret 2009.

Dengan adanya blog, saya lebih bertanggungjawab untuk terus menulis. Kali ini, menulis bukan hanya sekedar hobi, tapi juga berbagi. Dan ada kepuasan tersendiri ketika satu teman mengomentari blog saya.

Bagi saya, hidup menjadi semakin bermakna dengan menulis.

Setiap hari kita disodori banyak kejadian. Banyak pelajaran. Banyak peringatan. Kalau semuanya kita tumpuk begitu saja di memori tanpa dipilah saya yakin memori itu akan memudar seiring tumpukan pengalaman lain di waktu yang lain.

Saya tak ingin hal itu terjadi pada beberapa kejadian yang bagi saya penting dalam hidup. Oleh karena itu saya menulis. Juga sebagai bentuk penghargaan kepada Tuhan yang sudah mengijinkan saya mengalaminya dan kepada orang orang yang kepada mereka saya bersinggungan didalamnya.

Menulis adalah terapi.

Saya suka kalimat itu. Kadang ketika perasaan saya tidak menentu, cukup mebuka laptop, membuka Microsoft word dan mulai menulis. Apa saja. Ketika kalimat demi kalimat terangkai, segalanya tampak lebih jelas.

Manusia adalah sosok unik yang menarik untuk dijelajah. Jangan jauh jauh berpikir tentang manusia lain. Mulai dari mengamati diri sendiri. Bagaimana caranya? Bercermin. Lewat apa? Kalau saya lewat membaca kembali tulisan-tulisan saya. kadang saya tertegun kembali, kadang saya diingatkan kembali, kadang saya tersenyum dan sebagainya ketika membaca tulisan saya satu dua tahun yang lalu. Dan kemudian menyadari sudah ada yang berubah. Ada perasaan yang dulu subur sekarang mati. Ada sifat yang dulu masih menonjol sekarang telah dijinakkan.

Tidak akan rugi ketika anda menulis.

Jadi, mulailah menulis.

Menulis apa saja. Dan tidak usah berpikir, ini bagus atau tidak. Yang penting kita sudah menulis.
Penulis yang menginspirasi saya banyak sekali. Saya suka Paulo Coelho, Mitch albom, Ayub Yahya, Xavier Quentin, Max Lucado, Grace Suryani, Dewi Lestari dan lainnya. Tapi ada penulis yang selalu saya kagumi diam diam, hanya 2 buku yang pernah dipublikasikan namun diproduksi terus sejak dahulu kala. Tabib Lukas. Yang menulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasuljuga Rasul paulus yang menulis surat kepada jemaat jemaat.

Pada akhirnya saya hanya berharap, untuk tidak berhenti menulis. Dan jika suatu saat saya sudah malas-malasan mengupdate blog, semoga teman teman pembaca blog ini dapat mengingatkan saya tentang komitmen menulis ini.

Mimpi saya, ingin menerbitkan buku karangan sendiri.

Pertengahan Oktober 2011

gambar dari magforwomen.com

Satu komentar:

  1. satu hal yg terpikir...
    sandra dulu knp ndak masuk LPM?
    hehehe :D

Komentar:

To Top