Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Fiksi Mini 2

LEMBUT - Rasanya seperti kapas. Halus, rapuh tapi ada. Tanpa pretensi. Ada saja cukup.

CEMAR - Jika ingin terbang, jadilah seperti elang, melayang tanpa residu. Tak seperti roket, membumbung meninggalkan polusi.

RUMAH - Itu Rumahmu? Bukan, itu bangunan persegi berisi manusia berupa sama, berwatak heterogen, hampir tak saling mengenal.


SEHAT- Jangan samakn paru-par dengan septic tank, segala udara kotor kau tampung disitu.

TANYA- Buat apa kau bawa papan tulis ke kondangan? Supaya setiap jawaban untuk pertanyaan 'kapan nyusul' dapat dengan mudah mereka temukan tanpa terlontar.

PATAH - Jika hati patah, bunyinya akan krek, nyess, prang, atau apa? Tergantung sekeras apa hati itu sebelumnya.

SOMBONG - Dipikirnya dengan seragam itu aku akan membungkuk. Justru semakin kamu mendongak, semakin kamu tak berharga.

LIRIH - Aku tahu hatinya perih. Luka itu begitu pedih. menangislah tanpa harus lari.

Arena Hidup Mati

Beberapa hari terakhir, keluarga saya dirundung duka. Malaikat maut menjemput berturut dua saudara terkasih hampir bersamaan. Satunya opa berusia 86 tahun. satunya ibu berusia 52 tahun. satunya meninggal karena usia, satunya meninggal karena penyakit. Namun dua-duanya sama sama meninggalkan tangis. Tangis pilu bagi yang ditinggalkan.

Cerita pilu datang dari adik si Ibu yang meninggal. Katanya sebelum meninggal dia sudah merapihkan baju-bajunya, menaruh dalam tas plastic. Katanya sebelum meninggal dia sudah berfoto sendiri dan mencetak 10 R yang kelak digunakan sebagai foto yang ditaruh di samping jenazah. Mungkin sudah merasa, mungkin Si Malaikat sudah mengintai lama.

Hidup dan mati kemudian seperti masuk arena bermain. Semua kita adalah pemain baru. Dan permainannya pun tak ada yang tahu. Yang kita lakukan hanyalah bermain dan bermain. Entah salah, entah benar, wasit yang akan meniup peluitnya. Sampai kapan bermain? Hanya pelatih yang tahu. Dia akan memintamu keluar dari arena, jika …

3K nya Indira Fedel

Gambar
Indira Fedel (karangan Tuteh Pharmantara) kalau digambarkan dalam 3 kata adalah Konyol, Kacau, Kocak :).

Bercerita mengenai perempuan 33 tahun yang masih single dan berbagai usaha dari pihak keluarga maupun dari dia sendiri untuk mendapatkan cinta sejati. Ide cerita yang sebenarnya ringkas ini dapat dengan apik di kelola oleh kak Tuteh sehingga membuahkan sebuah novel yang sangat menghibur.

Pemilihan tempat yang tidak biasa juga merupakan keunggulan novel Indira fedel, yaitu kota Ende. Dan pembaca diajak oleh penulis untuk menelusup sudut kota Ende, suasananya, tempat wisatanya, tempat nongkrong dan lainnya. Peristiwa sehari-hari berlatar pekerjaan Indi sebagai manajer operasional suatu Radio Swasta di Ende juga menarik, karena ini jarang. kebanyakan novel bercerita tentang perusahaan, dokter, tapi penyiar radio?

Indira Fedel merupakan pilihan tepat bacaan disaat suntuk karena mampu mengocok perut bersama dengan petualangan cinta Indi si Dongo :p.

Kesimpulan dari Indira Fedel adal…

Selamat Hari Kasih,,, Sayang!

Gambar

(Masih) Tentang Hawa

Dari Yuda, Enrico dan Ayu Utami

Saya mengenal Ayu Utami sudah lama. setahu saya dia penulis, tapi karyanya belum pernah saya baca satu pun. Perkenalan pertama saya dengan tulisan mbak Ayu, justru bukan dari bukunya, melainkan dari buku ‘Ketika Tuhan Berbisik’, yang mana disitu mbak Ayu memberikan kata pengantar. Ulasan sederhana yang singkat itu tiba-tiba menarik saya untuk ingin mengenal karyanya lebih lanjut. Sehingga saya pun menghubungi teman saya Dicky Senda untuk meminjam buku Ayu Utami. Karena saya tahu dia penggemar beratnya Ayu Utami. Dan dimulailah petualangan saya bersama Bilangan Fu.

Awalnya buku itu membosankan bagi saya, sehingga baru baca 30an halaman saya sudah menaruhnya. Saya tergolong seperti pembaca kebanyakan yang akan cepat suntuk jika disodori karya sastra yang ‘kaku’, berbau tradisional dan banyak fakta sejarah.  Saya kemudian malah melupakannya bersamaan dengan kiriman novel-novel metropop dari adik saya. Karena bahan bacaan sudah habis, sementara waktu senggang saya sangat banyak, saya pun …

Tersenyum Tanpa Harus Menghilang

Ingatan jangka panjang saya tergolong lemah. Contohnya, jika ada yang bertanya, ‘apa pengalaman sma mu yang paling tak bisa kamu lupakan?’, maka saya akan memutar mata, berpikir keras, kira-kira apa ya yang paling menarik saat SMA, dan ketika tidak ada satu kejadian yang benar-benar saya ingat betul rentetan peristiwanya, akhirnya dengan diplomatis saya menjawab, ‘semuanya indah kok’, padahal sejujurnya karena saya sudah tidak ingat lagi detil kejadiannya.

Maka pada saat ini, saya ingin mengabadikan suatu momen yang baru saja terjadi, yang mungkin akan saya lupakan beberapa minggu mendatang disaat tumpukan kejadian lain sudah menyembunyikannya.

Hal ini tentang senin yang berbahagia di awal bulan februari. Bagi yang lain, itu peristiwa biasa yang sudah sering dialami. Tapi bagi saya momen ini sungguh jarang untuk dinikmati. Maaf terlalu berbelit, lagian saya juga tidak berniat menceritakan detil peristiwanya disini (hehe).

Jika ada yang berkata, senyum dapat mengusir penat dan tawa dap…

Merekat Luka Hati

Hati ini sedang berlatih Agar tak terus merintih Sudah lama dia tertatih Terlalu berat menampung getih

Tak pelak akal bertanya ‘Kenapa tak pakai logika saja?’ Hati pun menjawab lirih Rasa ini begitu perih

Orang bijak banyak berkisah Tentang hidup tanpa resah Biarkan saja rasamu melarung Karena hati tak harus bertarung

Hatiku, jadilah kamu liat Biarlah buahmu dapat lebat Lukamu itu segeralah tutup rapat Agar hidup kembali bergiat

'Maen mata sama dokter'

Suatu sore, tempat praktek dokter dimana saya gantikan lumayan ramai. Padahal bukanya hanya dari jam 5 sore sampai jam 7.30 malam. Dan pasien saat itu mencapai 20 lebih, masuk dan keluar. Saya sendiri tidak lelah, toh yang saya kerjakan hanyalah bertanya, pemeriksaan fisik, KIE, meracik obat. Tapi bagaimanapun menginjak pasien yang ke 20, otot mulut sudah terasa kemeng akibat cuap-cuap dari tadi, sehingga percakapan menjadi lebih singkat (Tips untuk periksa dokter : usahakan sebagai pasien paling pertama, pelayanan sudah pasti maksimal).

Lalu munculah ibu dan anaknya. Anak ini berusia 15 bulan, laki-laki. Lumayan berisi, matanya besar, kulitnya putih dan sangat ceria. Saat datang, dia terus melihat kearah saya dan seakan mengajak bercanda. Hati saya lumer seketika. Beberapa saat saya pakai untuk bercanda dengan di anak. Si ibu pun menunjukan kebolehan anaknya, “ayo salam sama dokter” sontak si anak menjulurkan tangannya, dan menyambut tangan saya serta menciumnya. Tak hanya itu, si i…

Berkreasi Dengan Ngeblog