Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2012

Suka

Suka

Aku suka memperhatikan cara jalanmu dengan kemeja lengan panjang dan celana kain. Kau tampak lebih gagah dan jalanmu selalu terlihat mantap dengan punggungmu yang selalu tegak.

Aku suka senyummu yang lebar dan tulus, yang selalu tersungging pada hal apapun yang aku bicarakan, yang paling sepele sekalipun.

Aku suka perbincangan kita saat malam di telepon, walau sejam yang lalu kita baru sjaa bertemu, namun detik kepulanganmu dari pintu rumahku sudah membuatku merindukanmu lagi.

Aku suka setiap pujianmu terhadap apa yang kupakai setiap kita bertemu, kamu selalu menemukan kata yang tepat untuk membuatku kembang kempis. Kata-katamu masih sama persis seperti tiga tahun lalu saat kita pertama kali dekat.

Aku suka ketergantunganmu terhadap aku dalam membeli baju :p. Aku suka kamu yang manut saat kupilihkan sesuatu J.

Aku suka caramu selalu membenarkan spion motor sebelah kiri mengarah kearahku setiap kita berboncengan, agar kau dapat memandangku sambil sesekali tersenyum menggoda.

Aku …

kader posyandu

Really A Human

Rindu

Tolong, beri aku definisi tepat mengenai rindu.

Kalau rindu dikatakan perasaan ingin bertemu pada seseorang, maka bukan itu yang ku cari, karena bahkan ketika memegang tangannya pun aku merindukannya. Kalau rindu dikatakan manifestasi cinta berupa perasaan menyesakan yang membara, maka bukan itu juga yang ku maksud, karena aku tidak ‘sesak’ ketika merasakannya. Aku terbang.

Maaf, ijinkan aku sedikit berlebihan menceritakan rasa ini Kamu tahu, ketika aku menatap matanya, au tak puas hanya dengan melihat. Aku ingin masuk, terjun dan berenang dalam danau tenang gelombang matanya, dan tinggal disana selamanya. Tak hanya itu, saat aku menggenggam tangannya, tak cukup tangan ini merasa hangat bersentuhan kulit dengannya, namun jika dapat menyatulah genggaman ini, agar tak lagi ada jeda. Aku, dia, satu.

Maka, kau namakan apa rasa itu?

Hati yang mengeras

Andaikan kita dapat...

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku, hingga membuat kau percaya…

Andai… Ternyata, lebih gampang untuk kita berkata dusta, fitnah, keburukan, ketimbang berkata mengenai perasaan hati yang sebenarnya. Ternyata, jauh lebih mudah untuk marah, untuk mengutuk, untuk menyuruh daripada harus jujur terhadap hati. Ternyata, mulut dan hati terkadang sulit diajak kerja sama.

Kita duduk hampir berhadapan, namun pandangan kita tidak pernah bertemu. Kamu sibuk dengan baju yang entah memang butuh kau lihat-lihat atau hanya sekedar pengalih perhatianmu ketimbang kita haruslah saling mencari pandangan. Dan aku menerawang ke luar melalui jendela, seolah semua di luar sana adalah pemandangan baru dan aku sedang terpana melihat semuanya. Waktu ternyata merambat begitu ganas. Dulu kamu yang selalu memegang tanganku dan kita menyusuri jalan setapak menuju taman kanak-kanak. Dulu aku rapuh di tanganmu, sehingga butuh tuntunan ekstra ketat darimu. Dan kembali saat ini kita selayaknya dua orang yang ti…

Menangis

Untuk jiwa yang kini melayang

Untuk jiwa yang sudah melayang, bebas tanpa kendaraan jasad.

Aku ingin mengucapkan maaf dan selamat. Maaf untuk keterbatasanku menyelamatkanmu Melihatmu tergolek tanpa daya, berusaha bernapas namun tak kuasa, aku sadar, aku bisa apa. Menyaksikan sisa pejuanganmu menikmati bumi, kasih dan tubuh itu, aku tahu, kamu pun berjuang tanpa batas. Melihat kedua matamu yang membuka namun hampa, melihat namun kosong, aku tahu, hanya mujizat yang mampu bekerja disini.

Maaf, andai nyawa dapat dibisikan Andai kehidupan dapat dibagi lewat sentuhan, bahkan waktu dapat diinfus, maka apapun akan kulakukan agar bumi ini dapat kau nikmati lebih lama.

Maaf, atas kuasa akan kehidupan yang sudah pasti tidak kumiliki Maaf, jika kamu harus berakhir bersama aku yang menyaksikanmu pergi Maaf.

Namun Selamat! Pertandingan ini telah kau menagkan dengan sempurna Dengan luar biasa Dengan hembusan terakhir bernada kemenangan.

Selamat mengarung hai jiwa yang terbebas, Berkelanalah ketempat dimana sudah seharusnya Ter…

Mengiri

Kadang mengiri kepada Matahari dan Awan Mereka berkasih tanpa menutupi Seluas semesta menyaksikan kemesraan mereka Telanjang tanpa takut tertuduh Bukankah seharusnya cinta seperti itu?

Lihatlah mereka berdua Bagai pasangan sejoli yang saling beriring, Jika asmara sampai puncaknya, Serasa awan ingin menelan bulat- bulat sang maha Mega Sampai berusaha merengkuh erat semua cahayanya.

Aku bertanya pada awan, “Apa resepnya mencintai tanpa peduli?”


Awan berbalik kepadaku, “apa yang kau lihat?”

“Dari sini aku hanya melihat kemesraanmu, itu saja”

Awan tertawa, terbahak hingga terkitil-kitil

Kebersamaan ini hanyalah ilusi, hai manusia Seperti kamu yang juga berusaha mendekatinya Aku pun tak pernah lelah mengejarnya Berharap dapat sedikit mencuri keagungannya Maka aku melayang menuju arahnya Walau tak pernah berhasil menyentuh sang Mega Tapi yang kau lihat justru sebaliknya.

flu