Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Bukit Nefokoko, Bukit Teletubbies yang Terletak di Kapan, Soe, TTS.

Gambar
Bukit Nefokoko, Jalur Oepoto, Kapan Mollo Utara.

Berikut adalah cerita saya dan teman-teman pada hari minggu, 16 Maret yang lalu.
Kami pergi ke bukit  'teletubbies' versi orang Kapan. Saya pertama ke sini tahun 2009 bersama Josua dan setelah itu dua kali kami mengajak teman-teman untuk mengunjungi tempat ini.
Orang soe atau mereka yang pernah berwisata ke Soe biasanya hanya mengenal kilo 12 sebagai Grand Canyonnya Soe. Memang kilo 12 di arah menuju Kapan juga bagus, karena menghadirkan pemandangan gunung dan hijauan yang juga indah. Tapi bagi saya, bukit Nefokoko lebih indah karena selain ada nilai historis romantisnya (halah) juga memang pemandangannya indah.

Bukit ini juga tidak jauh dari kilo 12 , tinggal menempuh 8 kilo lagi. Hanya berjarak 500m dari tengah kota Kapan. Memang jarak  500m jalannya kurang begitu baik, tapi tetap bisa ditempuh dengan kendaraan. Jadi di jalur Oepoto itu ada jalan putih yang membelah memisahkan dua bukut yang serupa bukit teletubbies.  Bukit i…

Cerita Pulang Posyandu

Hari ini sepulang dari posyandu, saya merasa terpanggil (tsah) untuk apdet blog. Berhubung tampilan blognya juga baru (ehem) jadi masih dalam semangat bergelora untuk rajin posting. Minimal 4 postingan setiap bulan. Bisa? Bisa!
Hari ini saya jadwal posyandu di maleset, dekat  rumah saya. Posyandu ini dilaksanakan di kantor lurah kampong baru. Saat saya kesana, baru ada seorang mama kader yang tengah bersiap, belum banyak ibu-ibu yang membawa bayi balitanya. Jadi saya duduk saja bercerita dengan ibu pegawai kelurahan.
Posyandu berjalan seperti biasa diawali dengan ibu Kader yang member penyuluhan kepada ibu hamil, ibu bayi dan balita, lalu dilakukan penimbangan, ibu bidan memeriksa ibu hamil, saya di bagian imunisasi dan pengobatan, ada juga ibu yang bertugas konsultasi KB.

Sepulang dari posyandu, saya bertemu dengan seorang ibu muda yang tadi membawa anaknya ke posyandu. Dia berkata begini, ‘Dokter, hari senin kemarin kami ke puskesmas tapi dokter tidak ada.’. lalu saya menjawab bahw…

Perihal Memesan Rujak

Gambar
Kalau kalian memesan satu porsi rujak biasanya apa yang akan kalian sampaikan kepada Mbak penjual rujak? 
Beberapa orang yang saya kenal, jika memesan rujak selalu dengan kalimat pengikut seperti berikut ini :
'Mentimunnya sedikit, apel yang dibanyakin ya, bu'
'Nanas dan jambu batu-nya tidak usah ya'  atau
'Saya sambelnya 5 biji ya'
'Sambel saya kacang sama gulanya dibanyakin ya, asamnya cukup sedikit saja' Dan sebagainya selera masing orang-orang terhadap rujak pesanan.
Kalau saya sama sekali tidak pernah memakai suatu syarat khusus seperti contoh di atas. Saya selalu memesan satu porsi rujak, tanpa embel-embel pengikut sambil duduk manis menikmati mbak penjual dengan cekatan mengiris buah dan mengulik sambal rujak. Jika nanti mbaknya bertanya, 'pedas tidak?' Saya selalu menjawab 'sedang-sedang' , suaru jawaban antara yang tidak memihak.
Kemudian saat menyantap rujak, saya akan menikmati kombinasi jumlah irisan buah yang tersaji serta …

Sudah Maret

Gambar
Aku membalik halaman buku kehidupan dan
mengeja semua cerita tentang aku dan kamu, sambil
sesekali kuteguk kenangan manis
dan kulepehkan yang pahit. Kita pernah memperdebatkan
tentang kecepatan waktu berlalu.
Kau bersikukuh, waktu begitu cepat berlari,
sedangkan aku yakin bahwa kura-kura lebih lincah bergerak dibanding waktu. Lalu waktu, entah diperhatikannya kita atau tidak,
dengan angkuh melanjutkan perjalanannya.
Tak peduli, ada kita berdua disini
yang tengah susah payah menghentikan dia sejenak,
agar kesempatan tersisa ini,
kita semakin dapat menciptakan banyak sekali memori. Suatu hari, ketika jarak menjadi teman baik,
kita tak perlu khawatir,
cadangan kenangan kita masih banyak. Dan rindu dapat dihemat-hemat.

Puskesmas Kota, 13 Maret 2014
Sepuluh minggu menuju.

gambar dari sini

Yosman Dan Sendal Jepit

Gambar
Namanya Yosman. Gigi depannya ompong, sehingga dengan kepala botak, saat dia tersenyum akan terlihat lucu. “Lu biasa dipanggil Yos atau Man?” dia tertawa nyengir saat mendengar pertanyaanku. Yosman saat itu memakai kaos bola berwarna merah dan dimasukkan ke dalam celananya yang juga berwarna merah. 
“Kenapa Lu sonde pakai sandal?” saya bertanya memandangi dia yang bertelanjang kaki. “Saya sonde punya sandal”. Yosman menjawab masih dengan senyum gigi ompongnya.
“Lu tinggal di mana?” saya melanjutkan
“Ume Manekan.”

Dan itu kemudian membungkam saya sejenak. Ume Manekan adalah salah satu panti asuhan di kota kami, di Soe. Mungkin bisa dikatakan, Ume Manekan sebagai panti asuhan yang paling lama. Dikelola oleh seorang Opa baik hati bernama Opa Chistian, Ume Manekan telah banyak menolong anak-anak yatim piatu yang dititipkan bahkan sejak dari bayi. Dengan banyaknya penghuni dan begitu banyak kebutuhan, tentulah pengelola panti harus bijak memilah apa yang harus diutamakan dan apa yang bisa…