Pengurusan Paspor di Kupang

Akhirnya, saya mempunyai paspor juga setelah berumur 26 tahun. Kalah sama TKW yang umur 16 atau 17 tahun sudah punya paspor. Mungkin paspor mereka setelah umur 26 tahun sudah memiliki 2 buku yang penuh. Hehe, tapi tak apa, lebih baik terlambat, bukan ?

Postingan ini saya buat untuk orang-orang seperti saya, yang tidak pernah menaruh pengurusan paspor sebagai hal yang penting untk segera dikerjakan.Padahal penting juga. Contohnya kita yang tinggal di daratan Timor sini. Kalau ingin main-main ke Timor Leste yang tinggal menempuh perjalanan darat itu, tapi hanya karena tak punya paspor akhirnya hanya bisa berfoto di gerbang perbatasan itu. (Ini murni curhat).

Sebenarnya memiliki paspor juga bisa dibilang motivasi untuk menabung melihat kehidupan negara lain. Setiap melihat paspor yang masih kosong, mungkin terbersit keinginan untuk segera memenuhinya.

Ya gitulah. Kalau saya, karena dapat beasiswa ke luar makanya segera mengurus Paspor.

Ternyata mengurus paspor itu mudah sekali dan juga cepat. Apalagi sekarang sudah dipermudah dengan pendaftaran secara online.

Berikut pengalaman saya mengurus Paspor di kantor imigrasi Kupang

1.    Saya mendaftar dulu secara online di imigrasi.go.id. Disitu kita akan mengisi formulir untuk identitas pribadi, nama ayah, ibu, alamat,email,  pekerjaan, juga tinggi badan. Kemudian masuk ke tahap berikut yaitu upload dokumen yang telah di scan. Dokumen yang dibutuhkan adalah KTP, Kartu Keluarga juga Akla lahir atau ijazah. Tahap selanjutnya kita memilih akan mendaftar di kantor wilayah mana, saya memilih di Kupang, dan juga memilih tanggal akan ke kantor imigrasi. Setelah semuanya beres, mereka akan mengirim attachment ke email kita.

2.    Download attachment di email, kemudian print. Ada 2 lembar disitu. Satu untuk diserahkan ke Bank, satunya lagi ke petugas imigrasi. Kita diminta membayar di Bank sesuai dengan yag tertera di attachment tersebut yaitu 255.000.

3.    Bank yang sudah dituju adalah bank BNI. Jadi langsung saja ke bank BNI, tidak usah lagi menulis di slip pembayaran bank, tapi langsung menuju Teller dan menunjukan print-printan tadi itu, di bank dikenai tambahan 5000, jadi total yang dibayar 260.000.

4.    Kemudian di hari yang ditentukan saya pergi ke Kantor Imigrasi Kupang di Jl. Perintis Kemerdekaan, daerah penfui. Kantornya nyaman dan ber AC. Disini saya menyerahkan bukti pembayaran dari bank. Tapi mungkin karena di Kanim Kupang belum terbiasa untuk pendaftaran online, jadinya saya disuruh mengisi ulang form aplikasi dan menyerahkan fotokopi tiga dokumen tadi, yaitu KTP, KK, Akta. Semuanya dimasukkan ke dalam map. Lalu petugas akan memanggil kita untuk menunjukkan dokumen asli. Jadi WAJIB membawa dokumen asli saat ke kantor imigrasi. Tapi waktu itu saya tidak membawa kartu kelyarga yang asli sih.

5.    Menunggu untuk foto paspor dan wawancara. Nah, ternyata latar belakang foto Imigrasi itu putih, jadi tidak diperbolehkan memakai baju putih. Sedangkan saya dengan Pdnya memakai baju putih, untungnya membawa cardigan sehingga bisa menutupi. Saat wawancara yang ditekankan adalah pekerjaan, dan alasan pembuatan paspor. Stelah itu, kita dibolehkan pulang dan diberi selembar bukti untuk pengambilan paspor.

6.    Dua hari kemudian saya ditelepon bahwa paspor saya sudah jadi. Besoknya saya ke kupang lagi untuk pengambilan paspor. Sepertinya pengambilan ini boleh diwakilkan, asalkan dengan membawa bukti tersebut dan jaga-jaga saja juga membawa KTP si pembuat paspor. Lalu kita diminta untuk fotokopi halaman pertama dan erakhir, kemudian SELESAI.

Ternyata mengurus paspor begitu mudah juga tidak mengeluarkan biaya besar, karena di kantor tidak ada pemungutan biaya apapun.
Dan tadaaa.. paspor hijau saya pun jadi. Tinggal mengisinya saja. Hehe

Komentar

  1. nama orang tua di ijazah,akte dan kartu keluarga berbeda apakah tidak bermasalah?karena orang tua saya bercerai sejak saya kecil,nama ortu diijazah nama ayah,di akte nama ibu (karena saya tinggal sama ibu semasa kecil)sedangkan di kartu keluarga nama kepala keluarga saya adalah nama oma karena saya dibesarkan oleh oma saya. terimakasih.Tarri Patola

    BalasHapus

Posting Komentar