Membicarakan Hidup Yang Tak Pernah Habis Dimengerti

Jumat pagi saat membuka timeline twitter, saya begitu kaget mendapati berita tentang pesawat Malaysia Airlines MH17 yang ditembak saat melintasi Ukraina. Saat itu pesawat melintas dari Belanda dan akan ke Malaysia. 270 orang lebih menjadi korban dari bencana tragis ini. Terlalu menyedihkan. Saya hanya membayangkan para penumpang yang dengan tujuan masing-masing saat check in di bandara, saat pemeriksaan pasport maupun visa, saat menghitung bagasi, saat menunggu pesawat take off, saat mencari seat di dalam pesawat, pastilah mereka tidak pernah berpikir bahwa itulah momen terakhir mereka di dunia. Karena beberapa jam setelahnya, hidup mereka menjadi korban dari perang kedua negara itu.

Hari ini saat di gereja GPIB Maranatha Denpasar ada berita duka bahwa keluarga seorang jemaat menjadi korban dari kecelakaan ini. Suami, istri dan anaknya yang masih bayi. Hati saya terpukul saat mendengarnya. Dan sedih sekali mendapati kenyataan bahwa nyawa mereka menghilang dengan begitu...... mengenaskan.

Saya membayangkan mereka bertiga duduk bersama, sembari si ibu menggendong bayinya dan terjadilah tembakan itu. Ahh... saya seharusnya tidak meneruskan khayalan ini. Terlalu sedih.

Tentang hidup dan kejadiannya yang tak pernah habis dibicarakan, saya termangu.

Semua ini hanya mengingatkan saya bahwa, siapakah kita manusia yang begitu kecil dibalik setiap peristiwa besar ini?

Kalau boleh memilih cara kematian, kita pastinya merencanakan akan mati di masa tua, dengan tenang, tanpa sakit dan tanpa merepotkan orang lain. Kita pastinya berkeinginan mengakhiri hidup setelah mencicipi semua kebahagiaan hidup.

Tapi siapa yang tahu?

Kita sudah berhati-hati sekali dengan hidup, berusaha mengurangi resiko di perjalanan, memilih pekerjaan yang aman-aman saja, berusaha hidup sehat.

Tapi siapa yang tahu?

Entahlah.

Kepada semua  yang kehilangan kerabatnya akibat kecelakaan ini, saya mengucapkan turut berbela sungkawa

Kepada jiwa-jiwa melayang, selamat memulai petualangan yang baru di tempat yang berbeda.

Dan kepada kita yang masih diberi kesempatan bernafas dan hidup, pergunakanlah waktu kita sebaik-baiknya. Karena sekali lagi, satu pun tak ada yang bisa meramal, kapan hidup akan berakhir.

Komentar