Semangat Pemilu 2014

Selamat siang semuanya.

Tulisan berikut ini bukan hanya untuk meramaikan suasana pemilu yang menjelang hari H semakin membara saja. Tapi saya di sini ingin mengabadikan gugup yang tengah saya rasakan berkaitan pemilu ini. Anggap saja ini adalah curahan hati seorang saya yang sebenarnya tidak terlalu menyukai politik, yang juga baru pertama kali menggunakan hak suara saya memilih presiden.

Harus diakui bahwa pemilu kali ini berbeda sekali dengan suasana pemilu-pemilu sebelumnya. Bagi saya inilah sejarah dimana rakyat bersehati, mendukung seorang figur yang tak banyak berjanji yang muluk tapi telah membuktikan kinerjanya. Dan saya gugup menanti tanggal 9 Juli ini.

Bersama teman-teman EAP 4.5M A di depan KPU Bali dalam rangka mengurus form A5
Pemilu kali ini, saya berada di denpasar karena sedang mengikuti training intensif selama 4 bulan lebih berkaitan dengan beasiswa saya. Dan beruntung, teman-teman saya di sini semua juga semangat untuk mengikuti pemilu, jadilah kami sudah mendaftarkan diri mengisi form A5 di KPU Denpasar dan telah membawa fotokopian tersebut ke kelurahan. Semoga teman-teman yang lain yang juga sedang di rantau tidak kesulitan untuk melakukan ini.

Berikut adalah sepenggal cerita saya kenapa akhirnya saya memilih Jokowi :

Saya mendengar tentang pak Jokowi sejak tahun 2008 atau 2009 kalau tak salah. Seorang pendeta di gereja saya dulu di Malang memakai sosok Jokowi sebagai figur bagaimana beliau memimpin Solo kala itu. Diceritakan oleh pak pendeta bahwa Jokowi mengumpulkan para pedagang kali lima di jalan di Solo, mengajak mereka berembuk sembari makan bersama tentang lokalisasi pedagang kaki lima agar tidak menimbulkan kemacetan. Cerita singkat itu terus tersimpan dalam memori saya sampai bertahun setelahnya sosok Jokowi kemudian menjadi populer saat menjabat menjadi gubernur di Jakarta.

Maka ketika suatu siang di rumah, ayah saya berteriak saat menonton televisi, 'Wah akhirnya Jokowi maju jadi capres', saya langsung tahu, tanpa ragu, siapa yang akan saya pilih dalam pemilu mendatang, tidak peduli lagi siapakah calon yang lain.

Ada keyakinan di hati saya, bahwa Bapak Jokowi akan tetap menjadi pemimpin yang baik. Benar adanya slogan yang mengatakan bahwa 'Jokowi Adalah Kita'. Bapak Jokowi adalah cerminan kepribadian rakyat Indonesia kebanyakan yang harusnya juga menjadi ciri khas bangsa ini. Beliau berasal dari keluarga sederhana, bersih dari orde baru, pribadi yang sederhana, tidak banyak berbicara, giat bekerja, cinta keluarga dan sebagainya.

Saya aneh sendiri saat pihak lain mencemooh Jokowi sedangkan majalah asing banyak memuji kualitas seorang Jokowi sebagai pemimpin (baca ini) bahkan juga menobatkan Jokowi sebagai satu dari 50 pemimpin paling berpengaruh di dunia. Apa itu kurang untuk menceritakan prestasi capes kita?

Saya sebagai tenaga medis yang tinggal dari daerah terpencil di Indonesia, yang juga pernah mngalami betapa saat jaman orde baru pembangunan hanya terpusat di tempat-tempat tertentu sjaa, sangat menaruh harapan kepada Bapak ini. Kunjungannya ke NTT beberapa bulan lalu sudah cukup membuat saya optimis bahwa beliau akan memperhatikan kami di sana. Memperhatikan kami bukan sebagai daerah miskin dan tertinggal tapi sebagai daerah yang juga memiliki potensi serta orang-orang profesional yang siap bersaing dengan yang lainnya.



Dan untuk itu, saya menaruh semua kegundahan, kegugupan, kegairahan menjelang pemilu dalam sebaris doa, untuk Indonesia yang lebih baik. Untuk Indonesia yang dengan segala kurangnya, saya cintai dengan sepenuh.
How about you?


Komentar