Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Missing Home (Part One)

Only hate the road when you are missing home. – The Passenger, Let Her Go
‘Are you homesick?’ Peter asked me this afternoon when he did personal interview in our workshop. I replied, ‘yes, absolutely.’ While I know and maybe he does as well, how deep the meaning behind these two words.
It is silly to miss home in this first three weeks. But I did. In fact, it was so different to live far away from home in other countries, instead of still in the same country. We shared different languages, different food, different weather, different people and others. It was quite hard not to remember home frequently.
I watched the fireworks in 26 January at the Australia Day, and it was wonderful and during the show, I just imagine how if Josua was there. I really miss his presence. I know it will be so special if he could be here.
But still I enjoy my time here. Knowing new friends from different region of the world, exploring new places, enjoying cooking for myself, and so on. I just want to enj…

Not so important to share

Gambar
Belum sibuk jadi mari menulis lagi.
Tentang berbagi hidup di dunia digital.
Since the use of the internet has been widely spread, many people tend to share their lives trough social media or blog or something else. I am one of them. I’m actively being a blogger for almost six years, and gladly, I never received negative feedback from my post, otherwise I used to make friends with some readers and they emailed me or add my facebook account then commenting my posts. Until today J.
Well, I’ll not talk about the anonymous account who has posted two bad comments on my previous post.
It’s about which part of my life, I usually share and which one I keep it just to my self and only share it with my inner circle.
If I (or most bloggers) used to post about our happiness, our adventure moments, our success life, our beautiful dreams, it didn’t mean that we never had a bad life. Still, we ever experienced broken heart, rejected by a company or scholar, disappointed by others and so on. But we…

Hidup Baru di Melbourne

Gambar
Hari keenam di Melbourne.
Begitu banyak yang sudah terjadi selama 6 hari disini, sehingga saya kehilangan kata ketika hendak menuliskan ini (dari laptop baru ini, iya ini sedikit pamer) J.
Jadi biarlah cerita berikut hanya akan loncat-loncat kemana jemari dan pikiran ini hendak membawa saya berkelana.
Berpisah. Banyak air mata yang tumpah saat tanggal 9 Januari itu saya berangkat dari Kupang ke Jakarta. Terutama saat melihat ayah saya beberapa kali menahan sedihnya tapi gagal. Pastinya tidak mudah bagi orang tua melepas anaknya seorang diri pergi ke tempat yang jauh sekali dari rumah, berbeda budaya, bahasa, makanan, kebiasaan dan lainnya. Atau mungkin air mata itu juga berarti kelegaan akhirnya doa beliau benar terjawab, bahwa saya akhirnya berangkat juga ke sini, tempat studi yang diimpikan. Dan di hari keenam ini, saya sudah merindukan rumah dan keluarga saya. Saya sudah merindukan kesibukkan di pagi hari, tenangnya makan siang sambil nonton tv, dan hangatnya selimut di malam hari.
Perp…

2015

Gambar
Menuliskan ini di hari terakhir berada di Soe membawa perasaan tersendiri bagi jemari yang menari di atas tuts maupun hati dan pikiran yang juga terkuras disini.Berat memang, meninggalkan segala sesuatu yang sudah diatur demikian nyaman. Hidup yang tercukupi bersama orang-orang terkasih, berlimpah kasih sayang dan segalanya. Walau semua ini seharusnya sudah dipersiapkan mulai juli 2013 saat mengirimkan aplikasi beasiswa AAS. Dan seharusnya hari ini sudah ada di benak pikiran saat Februari 2014 dinyatakan lulus. Atau setidaknya perasaan ini sudah tertalangi saat November 2014 menerima kontrak dari AAS. Tapi... tetap saja, memasuki hari-hari keberangkatan, saya tak kuasa menahan perasaan yang bergejolak begitu hebat. Saya sudah merindukan mereka, orang terkasih.Mungkin harus seperti ini hidup mendidik kita. Meninggalkan kenyamanan untuk sesuatu yang lebih besar, untuk pengalaman yang lebih baik, untuk ilmu yang siap dibajak, dan untuk (mungkin) suatu masa depan yang masih belum tau sepe…

Suku Boti dan Kekayaan Sumber Daya Timor

Gambar
Sebagai orang muda yang lahir besar di tanah Timor ini, saya sedikit merasa malu karena tidak terlalu mengenal tanah sendiri. Dua tahun bekerja di puskesmas kota SoE telah sedikit membuka mata saya tentang tanah lahir ini. Namun harus diakui bahwa cerita yang saya dapat tidak selamanya indah. Saya sering mendapat cerita tentang orang Timor yang sudah sangat tergantung akan bantuan entah dari pemerintah maupun swasta yang mengalir sangat deras sudah sejak puluhan tahun. Bantuan-bantuan yang memberi efek baik yang instan tapi malah membuat masyarakat menjadi malas dan membentuk mental menunggu pertolongan orang. Tidak jarang, saya mendapat cerita atau bahkan mengalami sendiri tentang masyarakat yang susah sekali digerakkan untuk melakukan ini dan itu, yang sejatinya sangat bermanfaat untuk mereka.Yang saya dengar dari tanah Timor adalah mangan yang dieksploitasi, menciptakan ledakan pekerjaan sesaat, namun setelah batu mangan habis, tinggalah tanah yang makin longgar, sumber air yang ma…