Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Ngoceh Sabtu Tentang Interaksi Manusia

Masih sempat ada waktu dikit sebelum ke gereja buat ikut perayaan ulang tahun gereja yang ke-30.

Menulis ini di perpus di tengah sedang bergulat menyelesaikan essay 3000 kata. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali bikin essay sepanjang ini, tapi ya tetap saja 3000 kata bagi saya banyaaakkk sekali :'). Mana benar-benar merasa kurang maksimal lagi dalam kerja tugas yang ini. Tapi bagaimanapun saya berusaha untuk tidak membatasi kegiatan sosial saya. Ya ke gereja, ya kerja, ya ikut public lecture, semua harus bisa jalan.

Hari ini cuaca cerah.

Cuaca Melbourne itu memang banyakan mendungnya dibanding cerah. Dan walaupun sudah musim semi mau sebulan tapi dinginnya itu masih loh. Kayaknya jaket tebal tidak pernah lupa saya bawa tiap hari. Apalagi kalau berencana di luar rumah sampai malam, maka segala perlengkapan seperti scarf, jaket, topi kupluk harus dibawa, kalau ngga bakal kedinginan setengah mati :D.

Oh iya, di tutorial qualitative research in public health, kita belajar untuk men…

Reflection on my work

"We had the experience but missed the meaning". -T.S Elliot

When i was working on my major essay, Public Health Leadership and Management, i ended up with a beautiful (if i can say that :p) journal by Mintzberg and Gosling, who are widely known as experts on management skills. The title of the article is 'Reflect Yourself', and the quote above i took from the reading. Basically they suggest that personal reflection plays an important role in dealing with everyday work. Well, i do not want to write the management things, i just want to save this time to make a brief reflection about my own experience.

Maybe i have written in the previous post (sorry i forgot), that one of my favourite lectures, Arthur said that, living abroad is a reflection to our own cultures, our own habits, our own selves. Because we learn to know more about us. (Oh yeah, i have made a post using his quote, sorry for the repetition).

Now, i want to share about my current new activity, which is wo…

Musim Semi di Melbourne (2)

Gambar
Aku mengunggah sebuah foto pohon berbunga di tempat aku tinggal. Adikku berkata, indah sekali pohon itu. Aku setuju. Seorang penyair berkata bahwa itu adalah pohon puitik. Aku tergugu.
Setiap hari aku dikelilingi keindahan musim semi dan aku hanya menganggap itu sebagai kejadian biasa. Kalau kata orang sini, I only take it for granted. Iya benar aku suka mengabadikan beberapa bunga di ponselku. Tapi hanya berhenti sampai disitu. Tanpa pernah berpikir, mungkin pohon berbunga pink ini mau bercerita sesuatu. Atau mungkin tanaman rambat berbunga ungu ini merindukan dia didengar. Atau bunga putih kecil di rerumputan ini juga ingin terlhat mencolok.
Nyatanya aku hanya sibuk memotret lalu memamerkannya di dunia maya.
Pengalaman musim semi pertama dalam hidup harusnya aku manfaatkan dengan baik. Harusnya aku lebih banyak mendengar bunga-bunga ini bernafas, dan kalau kalau bisa menyimak satu dua cerita mereka.
Kita mungkin selalu seperti ini bukan? Mengabaikan hal indah yang nyata di depan m…

Musim Semi di Melbourne

Gambar
Bunga-bunga sudah bermekaran Merah, putih, ungu, merah muda, kuning Semarak menghias jalan
Bahkan tumbuhan rambat yang bulan lalu kering kerontang Sekarang sudah menguncup, berbunga
Angin tetap dingin, Mendung masih sering Nampak, Matahari masih langka, Hujan juga terus turun
Tapi bunga-bunga di musim semi adalah harapan Bukan hanya ada hujan setelah kemarau, Bukan hanya ada pelangi sehabis hujan, Tapi juga mekar kusuma setelah dingin mengutuk.

100 and something days to go

Penuh Penuh Penuh.
Mungkin itu satu kata yang benar-benar mendiskripsikan kondisi pikiran saat ini. Dan seperti biasa, blog merupakan teman pelarian terbaik. Menulis sedikit beban pikiran selalu sukses membuat saya merasa lebih ringan.
Sebenarnya saya tidak ingin menulis tentang ini dulu. Maunya nanti aja kalau udah selesai semua. Tapi I couldn’t help it :). This blog has become the witness for my life, my thought, my work, my heart and so forth. So the reason I share here is not because I want others to know, but I want this blog can keep me for later. The best time to write something is when you still feel that thing. If I postpone writing about it, it will be not the same.
So yeah, we are planning for something good at the beginning of this year. As I have told you in the previous post, I am not the big fan of this idea. But still it drags most of my attention for now.
And yeah, even I am here, and he is there, we try to communicate one another to make all of this can be going smo…

Enam tahun berdua

Gambar
Aku menulis ini di selang aku sedang membaca jurnal akademik yang bertumpuk itu. Aku menulis ini di mana seharusnya aku sedang berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas-tugas yang menggunung itu Aku menulis ini untuk memberi kesempatan kepada pikiran juga hatiku yang sedari tadi memunculkan kamu terus di tengah kesibukan aku.
Mungkin karena itu, Mungkin karena dua hari lagi hubungan kita akan berulang tahun yang keenam. Makanya seperti sudah terprogram, aku memikirkanmu jadi lebih sering. Hati ini berdebar tak menentu setiap membaca namamu di pesan yang baru masuk. Tubuh ini sudah demikian terbiasa akan kamu, sehingga tanpa perlu usaha lebih, aku mudah sekali merindukanmu, Sayang.
Bacaan untuk kuliah hari ini, topiknya adalah, ‘society is a human product’. Ada satu quote yang menarik, “Homo sapiens is always, and always be measured as homo socius” (Berger and Luckman). Oh baiklah aku tidak berniat menulis paper di tulisan ini. Bukankah postingan ini seharusnya menjadi sesuatu yang mani…