Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

"Living in the Moment"

If this life is one act
Why do we lay all these traps?
"We put them right in our path
When we just wanna be free

I will not waste my days
Making up all kinds of ways
To worry about all the things
That will not happen to me

So I just let go of what I know I don't know
And I know I'll only do this by
Living in the moment
Living our life
Easy and breezy
With peace in my mind
With peace in my heart
Peace in my soul
Wherever I'm going, I'm already home
Living in the moment"

by: a guy who his voice can indeed make me calm effortless, Jason Mraz
Iya memang lebai banget kalimat terakhir :p.
Postingan ini akibat seharian ini dengarin lagunya Jason Mraz di youtube, sambil mengerjakan tugas, sambil whatsappan, sambil online, sambil nulis blog dan sambil memperbaiki hati yang patah karena Jason barusan nikah 2 hari yang lalu. *iya ini lebai juga*.
Saya selalu suka semua lagunya Jason. Entah itu liriknya ataupun musiknya. Sangat menikmati semua karyanya dia sejak lama. Apalagi kalau lihat eks…

Bulan Keluarga

Untuk jemaat GMIT, pastinya tahu kalau bulan Oktober adalah bulan keluarga. Biasanya di setiap minggu, semua khotbah akan berkisar mengenai keluarga, dan umumnya, tanggal 31 Oktober akan diadakan ibadah padang. Ibadah padang bukan hanya saja untuk penutupan bulan keluarga tapi juga dikenal sebagai hari Reformasi.

Bukan, saya bukan mau membedah tentang itu.

Bulan Oktober 2015 ini adalah bulan yang penuh mujizat bagi keluarga besar saya.

Yang pertama, adalah Opa dipanggil pulang dengan tenang dan damai, seperti yang selalu Opa inginkan selama ini. Bebas dari rasa sakit setelah bertahin-tahun menderita.

Yeng kedua, adalah suatu sukacita besar bagi sebuah keluarga dari keluarganya Papa. Saya sangat dekat dengan keluarga ini. Walau mungkin saya tidak bisa menceritakan detailnya disini, intinya kejadian ini adalah sesuatu yang sudah sangat lama didoakan oleh sang istri. Setelah puluhan tahun berdoa, bergumul dengan ketidakadilan, air mata yang tak terhitung, segala macam pergumulan yang tak…

Senin Mendung Kelabu

Kemarin itu hari Senin yang masih kelabu. Minggu lalu, saya melewatkan Senin seharian hanya di kamar dan suasana hati kalut karena kepergian Opa tersayang. Senin minggu ini pun harus dilewati dengan kalut karena alasan lain lagi.

Perhaps, it is one of life stories, which is not always exciting.
Perhaps, it is one of the downs of life.

Still, i cannot make wise flowery words to conclude this. This problem is still continuing and i still cannot predict what the end will be.
.
.
.
But, today is a sunny day.
I have been getting used to the swing changes weather here.
If you look up the skies today, you will find nothing, but blue. Even there is no little tiny cloud over there. It was totally different to yesterday weather. Yesterday was rainy, cloudy, cold day.

And maybe.... maybe... this is a sign for us, especially you.

It's not even only rainbow after the rain, but the sunshine bright day after the rain.

Just be waiting (and keep on your faith) for the sun.

It will be alright.

*fin…

Malam Minggu di Perpus

Ok. Ini bukan yang pertama kali saya malam mingguan di Perpus. Tapi juga tidak terlalu sering sih menghabiskan sabtu malam di sini :D. Tapi hari ini perpus padat sekali. Bahkan walau jam sudah menunjukkan 9.36 pm, masih saja penuh, dan masih pula orang-orang berdatangan cari kursi dan meja kosong.

Bisa dimaklumi ya. Secara ini pas berakhirnya minggu ke12. Dan biasanya deadline tugas sedang bertumpuk-tumpuknya di hari-hari ini.

Saya sendiri? Harusnya ngerjain tugas sih. Tapi godaan menunda dan online itu sangat nyata dan terlalu besar pengaruhnya, teman-teman!

Jadi daripada tidak menghasilkan apa-apa, saya memilih menulis blog ini supaya yaaa ada lah ya yang bisa dikenang dari hari ini.

Ngomongin apa ya?

Oh iya, tadi says menelepon mama dan smelt berbicara sebentar dengan Oma. Puji Tuhan, Oma sudah bisa berkelakar. Ada satu poin dari cerita tadi di telepon yang masih terus saya ingat.

Kata mama (yang juga sambil disambung oleh Oma, karena teleponnya loudspeaker), Oma memutuskan untuk m…

23 Oktober 2016

14 hari menuju pulang (bukan pulang sih tepatnya. Jalan-jalan berdua part one lah :p)

Angap saja bulan ini saya puas-puasin ngeblog ya.

Bersyukur, perasaan sudah tidak lagi sedih. Saya dikirim foto Oma dan keluarga di Kupang, dan senang kembali melihat senyum Oma. Walau memang semua tidak lagi sama, tapi hidup terus berjalan bukan. Walau pasti akan ada hari-hari ke depan kami merindu sosok Opa, tapi anggap saja itu variasi dari rasa yang tidak selalu manis dan indah.

Hari ini cukup random. Saya bangun telat, karena semalam begadang di perpus. Bangun masih sibuk sama hape sampai lalu beres-beres kamar dan mandi. Pergi ke woolworths (supermarket dekat dengan flat), dan belanja lauk. Pulang dan masak, makan sampai kenyang. Berharap setelah makan saya punya kekuatan baru dan semangat yang dipulihkan untuk kerja ugas. Nyatanya, apa yang saya rasakan? Yak, bisa ditebak, ngantuk banget. Mana cuacanya mendung-mendung dingin lagi, maka saya luluh selantah-lantahnya dengan tempat tidur serta s…

Constructing The Sense

Gambar
22 October 2015

Just now was the last class for Health Illness and Society (HIS). We already had 12 meetings every week for this whole assignments. Overall, i really enjoyed this subject. Some people may say, it is an abstract subject. It's not an exact one like when you're studying biostatistics or linear regression. But i reckon that this subject has enhanced my understanding about social theories, and in some points, it has opened my eyes about how to engage with health issues.

Basically, this subject taught us how to relate the classical and contemporary social theorists with public health issue. How to see examples of health phenomenas trough the glasses of theorists. As Richard said in our first lecture that theories keep us on the tract. Theories will help us to see things clearly. And i am totally agreed with him. Health problems, for example like managing mental health Illness in a particular country, is not as simple as it sounds. There are plenty of stuffs related t…

Ditinggalkan atau Meninggalkan?

Hari kedua mendengar berita kepulangan Opa

Awal tahun 2014, saat saya sudah dipastikan lulus beasiswa dan akan ikut training 4.5 bulan di Bali, banyak sekali teman kami yang kalau ketemu saya dan Yosua selalu bilang, 'Kasian Yosua ya, ditinggalkan..'. Dalam hati saya membatin, 'kenapa tidak kasian dengan saya juga ya? Kan saya pun bakal jauhan sama pacar. Bukan hanya Yosua saja yang merasakan LDR, ya saya juga.'

Saya mendiskusikan itu dengan sahabat saya, dan dia bilang, 'Iya, tapi kan kamu bakal excited dengan teman-teman baru, pengalaman baru, tempat baru. Mungkin bakal galau, tapi tidak segalau yang ditingggalkan. Yosua akan kembali ke aktifitas harian dia, ke tempat yang sama, menyusuri jalan yang biasa kalian berdua bareng, tapi kali ini sendiri. Makanya mungkin dia lebih berat'. Saya hanya mengangguk. Karena saya belum pernah ada di posisi ditinggalkan. Ya paling ditinggal pelatihan 3 minggu aja.

Dan hari ini, perkataan sahabat saya itu 100% benar terbukt…

Pada Suatu Hari Nanti

“The day will come When my body no longer exists But in the lines of this poem I will never let you be alone
The day will come When my voice is no longer heard But within the words of this poem I will continue to watch over you
The day will come When my dreams are no longer known But in the spaces found in the letters of this poem I will never tired of looking for you”  ― Sapardi Djoko Damono
(copied directly from here)






Fokus

16 hari menuju pulang dan saya kelimpungan.

Masih ada tiga tugas yang benar-benar masih mentah, belum diolah.

Masih banyak perintilan untuk hari itu yang terus saja bertambah dan bertambah.

Dan lalu Opa pergi.

Pikiran saya memaksa untuk terus berpikir, sedangkan hati saya seperti beku.

Mungkin akan beda kondisinya kalau saya sedang ada di sana.

Dan saat ini saya menulis dari perpustakaan umum di kota. Mencoba mencari suasana baru, kalau-kalau bisa menciptakan suatu yang baru.

Nyatanya tidak.

Isi pikiran saya masih sama dengan hati yang masih dingin.

Mungkin saya butuh es krim.

18 Oktober 2015

Gambar
Saya bangun jam 7 lebih, masih mengumpulkan nyawa dulu di tempat tidur dengan perasaan excited untuk pengalaman seru yang bakal dialami hari minggu itu. Aku sempat mengecek weather forecast dan semakin semangat mendapati hari itu bakal cerah walau suhu paling tinggi hanya 20 derajat celcius.
Pukul 8.15 pagi saya sudah duduk manis menunggu tram di stop 1 melbourne uni menuju ke kota. Saya mampir sarapan muffin dulu sambil menunggu Angel. Hari itu kami akan ke Philip island menonton MotoGP live.
Intinya hari itu saya bersenang-senang. Pertama kali ke Philip island, pertama kali menonton tayangan yang menarik minat jutaan manusia di seluruh penjuru bumi dan intinya saya bahagia.
Saya pulang dan tidak seperti biasa, saya masih mampir ke supermarket untuk beli beras dan ikan. Padahal hari itu sudah malam, sekitar pukul 8.30. dan lagi, saya sudah 7 minggu tidak pernah memasak. Anehnya, malam itu saya pengen makan masakan sendiri. Jadilah walau lelah, saya masih sempat sibuk sedikit di dapu…

Ayo Gerak

Disclaimer: ini sama sekali bukan tulisan akademis, jadi tidak pantas untuk dijadikan sebuah reference. Tulisan dibawah ini murni pengamatan pribadi penulis.

Di salah satu kuliah untuk "Foundation of Public Health" subject, seorang dosen yang cukup ternama di Melbourne sini, yaitu Prof. Rob Moodie menerangkan sekilas tentang non-communicable diseases (NCDs) yang semakin menanjak angkanya di developing countries. Contoh dari NCDs  seperti heart disease, diabetes mellitus, stroke, cancer dan lainnya. NCDs memang merupakan penyakit yang cukup populer di negara maju maupun berkembang. Tapi bedanya kalau di negara maju mereka punya health system yang bagus sehingga angka harapan hidupnya tinggi, di negara berkembang adalah sebaliknya. Jadi seperti masalah-masalah di negara berkembang tidak ada habisnya. Belum selesai dengan mengatasi penyakit infeksi yang menimbulkan banyak kematian, atau bagaimana menurunkan angka kematian ibu dan anak, sekarang ditambah lagi dengan penyakit tid…

Terperangkap di Hosier Lane Street Art, Melbourne

Gambar
Ini jalan-jalan saya sama Angel bulan Juni kemarin, waktu Angel baru sampai di Melbourne satu minggu. Dan mumpung saya lagi 'on fire' apdet blog jadilah postingan ini.

Melbourne itu kota yang cantik bagi saya. They said that Melbourne is a melting pot of art, class and style. And i religiously agree without any doubt. Kita bisa menemukan spot-spot cantik yang membuat kita menarik nafas penuh kekaguman di Melbourne ini. Mungkin muncul pertanyaan, apakah untuk menikmati itu semua butuh uang? Jawabannya ya dan tidak. Untuk beberapa pertunjukan berkelas nan bergengsi tentu kita harus menukarnya dengan tiket untuk menikmati. Tapi jangan sedih, karena ada BANYAK SEKALI spot-spot cantik di Melbourne yang dengan gratis bisa kita nikmati dan tetap akan memukau kita.

Salah satunya adalah Street Art di Melbourne. Jadi ini adalah jalanan yang dipenuhi dengan gravity. Dan jangan bayangkan gambar seadanya yang ngga jelas, ini betul-betul dibat oleh tangan-tangan bertalenta yang bahkan diset…

Ketika Pohon Merayakan Musim

Gambar
Saya punya teman yang sedang kuliah Master di benua lain (western). Dia cukup aktif di media sosial. Karena seringnya dia apdet foto diri sendiri di facebook akhirnya secara tak sadar saya jadi sering mengikuti 'kehidupan' dia yang ditonjolkan di facebook. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah outfit-nya dia yang selalu berganti dan sesuai dengan musim.

Saat musim semi atau musim gugur, dia akan memakai heel boots, jas pas badan atau rok berbunga ala vintage. Kalau musim dingin tentu saja pakaian berlapis dan boots tebal berbulu. Sedangkan saat summer, foto-fotonya dia hampir selalu dengan pakaian ala musim panas, yaitu shorts, dress terbuka dan warna-warni, yukensi, dan semacam itu. Suka saja saya mengamati orang yang modis seperti itu. Because i am not someone who is into fashion, but i do like how fashion can describe people. 

Baju saya di segala musim dan waktu dan negara tetap sama yaitu jins dan kaos. Tinggal ditambahin aja jaket berlapis saat winter. Dan bagi sa…

Enaknya Berjalan Kaki di Melbourne

Kembali ini adalah postingan pemalas yang harusnya lagi asyik kerja tugas. Jadi sepenuhnya hanya pemikiran iseng yang bahkan tidak diperindah dengan gambar satu pun (mungkin nanti kalau ingat).

Saya adalah pejalan kaki sejati. Terutama saat merantau hampir 10 tahun di Malang, saya sering jalan kaki dan naik angkot. Kalau sering baca blog saya tahun 2010 2009, ada beberapa postingan yang terinspirasi dari pengalaman saya naik angkot.

Kenapa naik angkot dan jalan kaki? Ya karena ngga bisa bawa kendaraan :'D. Walau akhirnya setelah umur 25 tahun saya bisa juga berani bawa motor matic. Tapi, saya lebih memilih dibonceng (oleh yang jauh lebih mahir bawa motor) dibanding bawa sendiri.

Tapi, jalan kaki di Soe, atau terutama di kota yang lebih besar seperti Malang, apalagi Jakarta itu sangat tidak enak bukan. Banyak faktor yang membuat kita jadi malas jalan kaki kalau ngga terpaksa. Bisa karena cuaca panas menyengat, trotoar yang lebih sering dipakai tempat jualan juga tempat sepeda motor…

Tentang Menunjukkan Afeksi

Salah satu yang harusnya tidak bikin kaget kalau hidup di negara dengan western culture adalah, 'how they treat their lovers'. Logikanya, tidak kaget dong ya secara sudah begitu sering kita nonton di film. Tapi ternyata (bagi saya) cukup surprised juga ketika melihat itu di real life. Sejak di Melbourne ini seriiinggg banget saya lat orang-orang menunjukan perasaan sayang kepada mereka yang terkasih.

Berikut saya berikan beberapa skenario:
1. Di trotoar jalan, di dalam tram, di taman, di dalam toko, di dalam perpus sekalipun, gampang sekali dijumpai pasangan saling pelukan dan ciuman mesra nan panjang. Awalnya saya agak risih, apalagi di tempat yang harusnya serius gitu ya seperti dalam perpus gitu dan mereka mengecup-ngecup. Tapi saya perhatikan sekeliling kok tidak ada pandangan aneh yang tertuju, kok mereka bahkan tidak menonton 'pertunjukan' itu. Orang sekeliling saya menganggap itu sebagai hal yang sangat biasa sekali dan sehari-hari.

2. ini bukan hanya pasangan m…

Melepas penat setelah mengumpulkan tugas

Gambar
Mumpung masih semangat ngeblog nih.

Saya mau cerita jalan-jalan saya hari Senin.

Nah ceritanya seminggu sebelum Senin itu saya stres banget sama major essay Public Health Leadership and Management. Seperti biasa, namanya juga major Essay, kita disuruh bikin paper 3000 kata tentang topik tertentu. Seperti cerita-cerita saya di postingan sebelumnya, semester ini saya memang agak keteteran bagi waktu dan bagi pikiran. Kadang biar banyak waktu sekalipun saya agak susah konsentrasi mikirin rencana akhir dan awal tahun mendatang :'). Tapi ya, bersyukurnya, ngga pernah telat submit tugas sih.

Minggu itu saya begadang di perpus sampe tengah malam. Akhirnya submit juga. Lega deh bisa tidur dengan tenang. Saya janjian sama teman saya untuk jalan-jalan besoknya.

Besok pagi saya sudah semangat bangun dan mandi ehh teman saya tidak bisa ikut. Jadi ya, seperti biasa jalan-jalan sendiri lagi. Saya muter-muter di daerah CBD. Duduk-duduk menikmati semilir angin (halah). Begitu tram 1 yang menuju s…