Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Tentang Mengambil Gambar saat Perjalanan

Sejak bersama dengan yosua, saya selalu diajak dia berkeliling TTS, menyusuri jalan-jalan di desa-desa. Sesuatu yang tidak sering saya lakukan, mengingat saat kerja, saya kerja di kota kabupaten, orang tua pun jarang (hampir tidak pernah) mengajak saya pergi ke kampung-kampung.
Banyak sekali hal menarik yang saya jumpai selama perjalanan. Mulai dari pemandangan alam Timor yang hijau saat musim hujan dan kering saat musim kemarau; Jalan yang rusak, berbatu, berdebu yang kalau hujan dan banjir tidak bisa dilewati; anak-anak kecil menggendong bayi; anak mulai dari umur 5 tahun mengusung air; mama-mama yang mengusung bokor besar berisi cucian di kepala dan sebagainya. Sebagian momen-momen itu suka saya rekam di handphone, lalu nanti saya post di social media disertai penjelasan yang mendramatisir agar menuai puluhan atau syukur-syukur ratusan likes.
Seperti juga kemarin saat saya dan Yosua jalan-jalan sore dengan motor dari SoE-Kefa kembali ke soe lewat Eban. Saya menjumpai banyaaakkk …

Scooby

Gambar
Untuk scooby yang tidak pernah merepotkan.
Saya bukan seorang pecinta binatang. Dulu, saya malah masih makan daging anjing. Keluarga kami walau selalu memelihara anjing di rumah, tidak membuat saya memperlakukan makhluk itu sebagai teman. Bagi saya, anjing tak lebih dari hewan penjaga rumah, yang suka menggong-gong, makan apa saja yang kita berikan.
Semua itu kemudian tertepis dengan sendirinya, tanpa harus saya mimpi seekor anjing berpidato mengomeli saya. Semua karena scooby, seekor anjing yang sangat saya sayangi dan saya banggakan, yang kemudian membuat saya tidak lagi makan daging anjing. Karena sesederhana, dogs aren’t food.
Ubi. Kami memanggil dia demikian. Adik laki-laki saya yang memberi nama dia scooby, terinspirasi dari kartun scooby do. Dia sudah ada sejak tahun 2008 atau 2009, saya lupa. 2 tahun kemudian dia tergilas mobil, namun tidak mati. Ubi pincang.
Ubi, anjing yang begitu penyayang. Ubi sangat menyayangi kami. Satu keinginan sederhana ubi, yaitu selalu masuk ke da…

'Enak ya Jadi Istri Orang'

Baik, saya punya banyak cerita yang ingin saya abadikan dalam blog ini tentang pernikahan. Tapi karena terlalu banyak dan (saya sudah mulai lupa yang lain), saya ingin menulis tentang ini. Tentang komen yang sudah banyak kali saya terima dari teman-teman. Semalam, teman saya chat, ‘cieh menyenangkan ya udah jadi istri orang’. Lalu saya balas, ‘ngga kok, masih sama menikmati jadi diri sendiri’. Yang lalu diresponnya dengan, ‘huahh kenapaaa?’. Mungkin yang dipikirannya, saya tidak bahagia kali ya abis menikah dan lebih memilih jadi diri sendiri.
Ok. Pertama, entah saya belum terbiasa atau saya yang belum rela mengganti nama, I am like almost sick about ‘halo ibu (my partner’s last name)’ And now, after 3 weeks I MISS TO BE CALLED MY NAME J. Haha, mungkin ini ego saya yang masih belum bisa ditawar, tapi sungguh tujuan saya menikah itu bukan untuk ganti nama L. Saya nikah karena saya mencintai pasangan saya dan saya ingin hidup bareng dia melakukan segala sesuatu bersama. As simple as th…