Rote, Pergi Untuk Kembali

Akhirnya ya setelah hidup selama puluhan tahun di pulau Timor bisa juga saya menginjakan kaki ke Rote, suku yang juga menyumbangkan sedikit ke darah saya. Saya pergi ke Rote dengan Yosua. Ternyata menyenangkan juga travelling bersama setelah menjadi suami istri, karena lebih irit ongkos penginapan :D. Kalau kemaren-kemaren kami jalan-jalan (contoh waktu ke bali) dia nginap di mana, saya di mana. Cuma ya walau udah nikah, tapi karena postur (dan mungkin juga tampang) kami yang ngga jauh beda sama anak kuliahan s1, sering yah dapat pandangan yang kalau diterjemahkan seperti, 'cieh nginap berdua ni ye'. Besok-besok kayaknya kalau mau ke hotel, akta nikah ditempel di punggung baju aja. Jadi kalau ada yang senyum-senyum ngeliatin, tinggal balik belakang bilang, 'Nih'.

Err... sini kok malah curhat.

Rote!

Perjalanan ini sungguhlah mendadak. Karena saat itu saya sudah cukup bosan di rumah saja, menunggu mau balik Melbourne, dan akhirnya ngga tahu siapa yang mengajak kami pun ke Rote.

Transportasi ke Rote dari Kupang itu cukup gampang. Sekarang sudah ada 3 pilihan moda transportasi. Kapal lambat, kapal cepat dan pesawat. Karena Yosua ingin sekali membawa istri kedua alias si Meggy Blue-nya jadi kami memilih pake kapal lambat. Dan memang ini keputusan tepat ya. Karena jalan-jalan di Rote lebih enak kalau bawa motor :). Kapal selalu ada setiap hari. Kalau kapal Ferry berangkat dari pelabuhan Bolok Kupang tepat jam 8 pagi. Beli tiketnya kalau bisa satu jam sebelum biar dapat tempat juga (jaga-jaga kalau kapalnya penuh). Waktu kami berangkat, kapal tidak terlalu ramai jadi walau pakai kelas ekonomi juga tetap nyaman. Harga tiket saat itu 50.000 motor: 118.000 (sudah dengan pengemudinya). Kalau kapal cepat berkisar 170rb. Pesawat pun fluktuatif harganya tapi sekitaran itu lah, 170-200an.

Perjalanan dengan kapal lambat memakan waktu sekitar4 jam sudah sampai. Pelabuhannya terletak di kecamatan Pantai Baru, sekitar 20 km dari Ba'a (ibukota kabupaten Rote). Dan namanya juga pulau kecil ya, jadi pemandangan di mana-mana itu lauuuttt :). Kami langsung menuju ke Pantai Nembrala yang tersohor masyur di kalangan pecinta surfing itu. Perjalanan dari Pantai Baru ke Nemberala memakan waktu hampir 2 jam karena kami berjalan santai juga banyak berhenti buat foto-foto. Tapi sama sekali saya tidak merasa capek karena disuguhi oleh pemandangan hijau, biru di mana-mana. Sungguh rote ini cantik sangat. Dan jalan dari Pantai Baru ke Nembrala yang nota bene adalah kecamatan juga sangat bagus (saya langsung sedih memabnyangkan jalan-jalan ke kampung di TTS).

Sama sekali tidak akan bosan di perjalanan. Pepohonan hijau, kelapa dan tuak di mana-mana, sawah yang luas sekali, langit biru, pantai, laut. Ahh Rote yang harmoni. Yosua bilang, kalau suatu daerah banyak sawahnya berarti selain airnya banyak, orang-orangnya juga rajin. Intinya kayaknya akan sulit menemukan kelaparan terjadi di rote jika dilihat dari kondisi alamnya yang begitu subur itu.

Dan akhirnya sampai juga kita Nembrala. Dengan bantuan google, kami akhirnya memutuskan untuk menginap di penginapan Tirosa. Asal tahu saja ya, di daerah Nembrala ini mayoritas tanah-tanah di pinggir pantai sudah dikuasai oleh orang asing. Banyak vila-vilanya Bule yang dibangun di sana. Untunglah ada penginapan yang dikelola oleh orang lokal. Yaitu Tirosa ini. Saat ke sana, sepi sekali. dan memang saja, kami orang pertama yang nginap saat itu (sorenga datang lagi 2 orang). Katanya memang bukan musim liburan. Karena itu bersyukur kami dapat suatu cottege sederhana yang lansung berhadapan dengan pantai (rejeki pengantin baru) :p. Harganya 200rb/orang. Sudah termasuk makan 3x sehari. Lumayan kan?

Karena kami sampai sudah agak sore, jadinya makan siang sudah lewat :p.

Menyusuri pantai Nemberala.

Ekspektasi saya akan pantai Nemberala ini sangat besar. Ternyata sampai di sana agak kecewa. Karena pantainya kotor sekali dengan dedaunan kelapa yang merupakan residu dari penanaman rumput laut. Budidaya rumput laut inimerupakan salah satu pencarian utama dari masyarakat di sekitar pantai. Dan residunya ya berupa daun-daun kelapa warna hitam yang menggunung di bibir pantai. Saya ngga tau, apa karena bukan musim liburan ya jadi tidak dibersihkan. Atau mungkin mereka nunggu kalau bule bule sudah datang baru dibersihkan. KArena sangat mengganggu (untuk difoto) untuk menikmati pantai. Padahal ya, pasirnya itu lembuttttt sekali dan putih. Persis seperti bedak bayi itu. Haha.

Sunset di Nembrala

Ya ampun cantik sekali ya sunset di pantai Nembrala (atau mungkin karena perginya sama suami?) *diblock massal*. Intinya Yosua dan saya sangat menikmati sunset di sana. Juga saat itu ada sekawanan anak-anak pantai yang bermain balap ban sepeda. Lalu saat mereka melihat kita foto-foto mereka menunjukan kebolah mereka atraksi senam lantai di pasir, namanya mungkin senam pantai. Lucu sekali!

MAlamnya kita makan ikan bakar segar yang enak sekali (terutama bumbunya) hmm jadi lapar saat bayangin ikan bakar itu.


Ke Pantai Bo'a

Besoknya bangun pagi menikmati pantai di pagi hari. Jalan-jalan main air. Seru lah pokoknya. Trus sarapan kue dan teh hangat. Lalu sekitar jam 9 kami check out, karena ingin pergi ke pantai-pantai yang ssepersaudaraan sama Nembrala, yaitu pantai Bo'a dan pantai Oeseli.

Dan selama perjalanan itu saya kembali terpekur dan terhanyut akan keindahannya. Orang orang bilang ini the second Hawai. Saya cuma tahu Hawai dari film, tapi iya benar sungguh terlalu indah untuk menjadi nyata (iya agak lebai). Jalanan dikelilingi pohon kelapa dan pohon tuak, ada pohon damar yang berbunga cantik sekali. Pantai di sisi kanan jalan, kerbau yang digembalakan. Ada juga bebatuan besar di bibir pantai. Ada pula vila-vila cantik sepnajang jalan. Pun ada vila yang dibangun di atas batu. Sempurna menurut saya. Beberapa kali kami turun memotret, atau hanya sekedar mengagumi. Menemukan pantai Bo'a ni agak tricky ya. Yosua juga baru mau ke Bo'a ini, saya apalagi. Jadi hanya berdasarkan insting dan juga google map (tenang ngga mungkin tersesat, jalannya juga cuma 1 lurus aja kok). Cumaaa, ngga ada plang nama pantai gitu. Yang menurut saya aneh banget ya untuk tempat yang sudah begitu terkenal itu. Saya mendapatkan jawaban setelah ketemu dengan sepupu Yosua, Kak Fitri yang adalah PNS di Rote. Katanya, pantai di Bo'a itu sudah dibeli oleh anak dari mantan penguasa negeri ini :(. Sedih ya. Jadi sudah menjadi pantai pribadi. Dan masyarakat umum sudah tidak bisa sembarangan lagi untuk melakukan kegiatan di sana. Surfing di daerah situ pun di larang. Sedih :(.

Padahal ya... pantai Bo'a ini cantiiiiikkkkkk dan bersihhhhh sekali. Birunya begitu jernih, pantainya putih, pasirnya halus, ahhhh indah (karena di sini ngga ada budidaya rumput laut).

Hmmm saya membayangkan sampai kapan si pemilik pantai akan membiarkan masyarakat luas mengakses pantai ini? duhh sebelum pantai ini ditutup dan hanya dinikmali oleh pemiliknya saja, meding teman-teman ke Rote deh :). Iya ini solusi sederhana untuk hal yang miris ini.

Semoga ya, undang-udang untuk pembelian pantai atau tanah atau appun segera diperketat lagi. Pun orang-orang yang di atas jangan rakus lah ya dengan menjual aset masyarakat, aset budaya warisan nenek moyang dengan sembarangan. PAda akhirnya kita hanya berbangga tentang Rote karena merasa memiliki Rote, padahal kenyataanya sebagian Rote sudah dimiliki oleh orang asing.

Hari itu kami menginap di Ba'a. DI hotel Ricky dekat lapangan. Siangnya bertemu dengan kak Fitri, makan di rumahnya yang begitu nyaman, bercerita lanjut sampai sore menjelang malam kita bertiga pergi ke pantai tiang bendera. Well, ngga ada tiang bendera di sana. Yang ada batu di pinggir laut yang memancak seperti tugu monas mini. Konon katanya, pernah dipasang bendera di batu itu.

Di sini juga bagus sekali menikmati pantai.

Malamnya kami mutar-mutar Ba'a terakhir kali.

Besok paginya sebelum ke pelabuhan kami singgah di dermaga Ba'a untuk memotret Mercusuar putih itu.

Pukul 12.00 kami bertolak meninggalkan rote sambil berjanji untuk kembali lagi suatu saat. Karena masih banyak tempat yang belum kami kunjungi :).

tidak butuh waktu lama untuk mencintai pulau ini. Tidak butuh usaha pula, untuk merasa nyaman di sini. Dengan pesonanya, Rote telah memikat saya dan Mercusuar itu memancak seolah mengawasi kami pergi dan menunggu kami datang kembali.


Februari 2016
Selamat datang di Rote

Saya suka foto ini, walau miring, maklum diambil saat lagi di atas motor

Kalau Meggy Blue bisa ngomong, dia senang juga ngga ya diajak jalan :)

Sawah di mana mana

Partner!

Jalan setapak kecil di pinggir pantai Nembrala

Ini Pantai Nembrala yang penuh residu dari budi daya rumput laut.

we are ready for sunset

Anak-anak Dela (sebutan untuk daerah Nemberala) sedang atraksi senam pantai :)

Love the colour

Foto ini di ambil pas depan kamar penginapan

Kami nginap di sini, salah satu cottage di Hotel Tirosa

tumbuhan duri


Jalanan menuju Bo'a dan Oeseli

Pantai Bo'a

Pantai biru Bo'a

Pohon-pohon damar



Kelapa kelapa dan kelapa

Hidden park

pantai tiang bendera

Di Tiang bendera. Duh tiang benderanya ngga ada di hp yang ini


Mercusuar


My fave photo!


Semua foto-foto di atas diambil memakai kamera iphone (kecuali yang foto favorit itu pake hp Yosua, xiomi :D)

Komentar