Manusia harus bisa memasak

Seperti biasa, kalau sudah mau belajar, hal-hal lain yang sebenarnya bisa ditunda, tiba-tiba menjadi penting. Contohnya tadi pagi saat mau belajar, akhirnya saya memasak, trus sore ini, akhirnya saya menulis di blog.

Kali ini saya mau berpendapat tentang memasak.

Sebelumnya, perkenalkan, saya ini seorang perempuan dengan pengalaman memasak yang sangat minimal. Terlalu minimal sampai pernah dalam setahun di usia pertengahan 20an, saya tidak pernah memasak (di luar masak mie dan goreng telur). Bahkan sesimpel tumis sayur sekalipun, belum tentu (dulu) saya lakukan setahun sekali.

Kenapa begitu? Karena saya sangat dimanjakan. Hampir sepuluh tahun tinggal di Malang, saya tidak harus masak karena makanan di Malang sangatlah murah dan terjangkau dan ada di mana-mana. Apalagi waktu kos di daerah ITN, semua macam makanan bangsanya nasi goreng duk-duk, ayam lalapan, prasmanan, soto lamongan, sampai terang bulan sekalipun, ada di situ. Enak dan murah. Ngapain juga saya harus susah-susah ke pasar, trus di kos ngga ada kulkas buat nyimpan bahan makanan, butuh waktu pula buat masak.

Saat kerja dan kembali tinggal bersama orang tua saya kembali dimanja dengan masakan mama, yang tidak pernah absen menghidangkan minimal 2 macam makanan di meja makan. ENtah itu sayur singkong dan ikan goreng, atau tempe kecap dan bihun ayam. Mama yang juga pekerja kantoran selalu bangun pagi-pagi sekali untuk memasak buat kami. Pernah suatu kali saya bertanya ke mama, 'kira-kira nanti saya bisa memasak seperti mama tidak?' Jawaban mama waktu itu kemudian jadi pegangan hidup saya, 'masak tuh gampang, kam bakal terbiasa dengan sendirinya.' Sejak mendengar itu semua semangat saya untuk belajar masak (biar kayak perempuan-perempuan lain) luluh tak bersisa.  Apalagi kemudian mama dan papa tahu kalau Yosua itu bisa dan pintar meracik bumbu kalau masak. Yosua pernah masak di rumah saya, dan masakannya menuai pujian dari satu rumah. Semakin mama tidak ragu kalau saya bakal bisa survive setelah nikah :D.

Lalu sejak tinggal di Melbourne, mau tidak mau, saya harus bisa bertahan hidup dengan cara memasak. Semua teman-teman saya dengan rajinnya biasa pamer di whatsapp atau di facebook hasil masakan mereka di Aussie. Rasanya bervariasi dan terlihat enak sekali. Sedangkan saya? Boro-boro aplot, ambil foto untuk dokumentasi pribadi saja tidak pernah. Secara gitu ya, ngga menjanjikan bentuk dan rasanya. Akhirnya, barulah saya menyesal saya tidak pernah belajar masak.

Well, dari sini, saya mengambil kesimpulan. Manusia itu harus bisa masak. Mau laki-laki atau perempuan, dia harus bisa memasak. Karena bagaimanapun, memasak adalah salah satu survival sklill yang terpenting. Tidak selamanya kita hidup dekat dengan warung-warung yang murah. Tidak selamanya kita hidup seatap dengan ibu kita yang masakannya juara.

Saya belajar memasak sejak saya jadi pelajar lagi di Melbourne. Apalagi sejak saya pindah rumah ke peel street. Dulu waktu tinggal di flat di Cardigan, saya juga ngga sering memasak. Karena tuan flat-nya emang rada cerewet kalau kita pakai dapur kelamaan, atau kalau ngga bersih. Ya gitu deh. Tapi di sini, apalagi sejak ada Yosua yang rajin, mau tak mau, saya juga ketularan sedikit (belum banyak). Walau memasak masih dengan bantuan bumbu jadi kadang-kadang, tapi setidaknya ada kemajuanlah. Dari yang dulu memasak setahun sekali, sekarang memasak seminggu dua kali. Hehe.

Kalau ada yang bilang Perempuan harus bisa masak, saya ingin menambahkan, semua orang harus bisa memasak.


Saya pernah membaca sebuah twit yang bilang, 'cooking is the matter of following the instructions'. Well, mungkin argumen itu ada benarnya juga. Memasak itu ya seperti kita lagi bikin kerajinan tangan atau bikin prakarya, atau instal sesuatu. Tapi seperti juga seni lainnya, memasak juga butuh jam terbang dan perasaan. Semakin banyak jam terbang dan semakin tajam feelingnya, semakin enak masakan kita. Ya ngga?

Hehe. Ngga, di postingan ini tentunya saya tidak akan upload masakan saya yang ala kadarnya. Karena saya memasak bukan untuk pamer. Tapi setidaknya ada beberapa masakan saya yang disukai Yosua, ada juga masakan saya yang keasinan dan kehambaran. :D.

Tapi, setidaknya saya sudah menemukan confident sedikit saat memasak.

Kembali ke mama saya, sekali lagi, dia benar, memasak itu tidak sulit.

Kalau kamu, suka masak apa?

Komentar