Tentang Membaca

Hari ini, gara-gara nonton youtube wawancara Sarah Sechan dan Dian Sastro di sini : https://www.youtube.com/watch?v=6sZVycBHZV8 , jadi kepikiran terus sama mbak DiSas ini eaaaa.

Siapa juga ya ngga kenal sama pemeran Cinta di AADC ini. Jujur dulu saya kagum sama dia tapi ya biasa aja, ngga terlalu mengidolakan yang gimana seperti kekaguman saya sama Dewi Lestari atau Ayu Utami. Tapi lalu semakin kesini, kehidupan pribadi Dian Sastro semakin menarik untuk menjadi inspirasi para perempuan Indonesia, baik itu sebagai pekerja seni, sebagai ibu, sebagai wanita yang berkarir, pun wanita yang ingin selalu belajar.

Jadi di wawancara itu terkuak sisi lain Dian Sastro yang belum banyak orang tahu dan lalu membuat saya terpukau. Salah satunya adalah kecintaan Dian sejak SD terhadap buku sastra indonesia maupun manca negara. Hal ini disebabkan awalnya karena dorongan ibunya. Lalu bagaimana sejak umur 10 tahun Dian sudah dicekoki untuk membuat tujuan hidup yang jelas. Yah bagi saya dan mungkin banyak orang hal ini adalah sesuatu yang begitu unik sekali. Dimana kita ketika umur 10 tahun yang dipikirkan adalah gimana besok bisa tetap main tali karet sama teman di sela waktu istirahat sekolah, ini mbak Dian kecil sudah memikirkan mau jadi apa dia di umur 20 tahun, dan apa strategi yang harus dia lakukan saat ini untuk mencapai tujuan itu. Ruar biasa.

Ok balik lagi ke satu kalimat mbak Dian yang begitu membekas bagi saya, 'Harus banyak membaca buku untuk bisa menghasilkan sesuatu.'

Deg!

Bagi saya kalimat sederhana yang sebenarnya saya dan kita juga sudah tahu, itu cukup menohok. Mengapa? Karena saya sendiri sudah mulai meninggalkan hobi itu (digantikan dengan berjam-jam online tidak penting atau nonton drama korea). Padahal salah satu komitmen saya tahun ini ingin banyak baca buku. Hmmmmmm. Padahal lumayan sih Januari kemaren sudah baca 4 buku (fiksi), tapi sejak kembali ke sini (di tempat di mana internet cepat banget dan unlimited 24 jam) saya kembali tidak membaca. 

Tapi dibalik ini semua, kisah mbak Dian waktu kecil yang hobi membaca bikin saya bersyukur saya juga dilahirkan di jaman yang hampir sama, yaitu ketika objek distraksi tidak sebanyak sekarang. Saya bersyukur dulu itu belum ada internet dan social media, juga streaming drama korea. Saya bersyukur, walaupun saat saya kecil video games sudah banyak dimainkan teman-teman saya, tapi saya tidak punya di rumah. Saya juga bersyukur, orang tua tidak beli vcd player (yang sekitar taun 2000 tuh happening banget di Soe plus persewaan cd bajakan), sehingga banyaaakkk sekali waktu yang saya pakai saat itu untuk membaca, ya walau bacaannya ngga seberat mbak Dian Sastro sih ya.

Dan somehow, saya merindukan hobi itu kembali menjadi habit saya. Semoga bisa ya. Anyway, saya mau list buku yang sudah saya baca tahun ini
1. Paulo Coelho - Selingkuh 
Judulnya semacam provokatif ya. Apalagi saya baca buku ini masih di bulan pertama menikah. Baru nikah kok ya udah kepikiran sama kata itu. Haha. Tenang, don't judge a book by its title. Justru kebalikannya, saya belajar banyak tentang pernikahan ketika membaca buku itu. Dan saya merencanakan akan membaca lagi buku itu selanjutnya di tahun-tahun pernikahan mendatang. Ceileh. Yep. Membaca buku Coelho selalu membuat saya berefleksi, mempertanyakan, atau (kadang) berdamai dengan diri sendiri. Ceritanya tentang seorang wanita yang memiliki suami begitu sempurna, anak-anak yang manis, tapi dia sedang mencapai titik dimana dia mempertanyakan tentang kehidupan dia saat itu. Apa dia sudah bahagia? Lalu masuklah dia ke dalam drama demi drama untuk kemudian mencari jawaban demi jawaban.

2. Sapardi Djoko Damono - Suti
Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang perempuan sederhana di desa bernama Suti. Seperti biasa pak Sapardi dengan kemampuan menulis dapat membius pembaca lewat peristiwa sehari-hari dari tokoh yang sederhana. 

3. Mario Lawi - Lelaki Bukan Malaikat
Kumpulan puisi. Kembali Mario hadir dengan kumpulan puisi yang bagus, indah dan penuh makna. 

4. Sophie Kinsele - Can I Have your Number?
Sophie adalah satu dari sedikit penulis novel pop yang saya suka. Seperti biasa ya walaupun akhirnya bisa ketebak, tapi tetap seru dibaca.

5. Dewi Lestari - Supernova, Inteligensi Embun Pagi
Yak, akhirnya novel yang ditunggu-tunggu keluar juga. Seri terakhir Supernova yang betul-betul menguak banyak rahasia yang tak terduga di buku-buku selanjutnya. Saya beli ebooknya karena bukunya terbit setelah sampai di Melbourne. Sangat sangat menegangkan dan betul-betul kaya yangtidak diragukan lagi novel ini ditulis oleh seorang yang sangat pintar.

Well, sebenarnya kelima pengarang di atas itu semuanya adalah pengarang favorit saya sih. Semua buku tulisan mereka PASTI saya baca (kalau tersedia). Bahkan saya bisa dikatakan fanatik untuk no. 1 dan 5. Mereka kalaupun hanya menulis nota pesanan saja bisa akan menarik perhatian saya, apalagi ini menulis buku :).

Hmmm tulisannya sudah agak melantur ya?

Jadi kalian bulan ini sudah baca buku apa saja? ;)

Komentar