Untuk Kamu

Tulisan untuk memperingati hari ayah.

Beberapa hari ini, bukan, maksud saya minggu, oh tunggu bisa jadi beberapa bulan, atau mungkin beberapa tahun ini, saya memikirkan tentang hari itu. Memang tidak selalu saya berpikir tentang hari itu, hari di mana suatu saat kamu akan dengan legawa menyerahkan buah hatimu secara utuh kepada seorang asing, yang di matamu pastilah masih kekanakan. Atau  mungkin juga kamu meragukan seberapa besar kasih orang ini kepada saya, hingga saya bisa berpaling dari begitu sangat mencintaimu menjadi bercabang kepada dia.

Beberapa waktu ini saya memikirkan kamu… dan perasaanmu.

Saya masih ingat tujuh belas tahun lalu, bagaimana kamu mengusir anak-anak laki-laki seumuran saya yang menggoda saya di lorong sekolah. Anak itu sampai lari ketakutan. Saat itu kamu sangat tidak siap, bahwa suatu saat anak perempuanmu mungkin sudah bukan lagi seutuhnya milikmu. Dan kamu mungkin tidak punya hak lagi mengusir siapapun yang datang di depannya.

Saya masih ingat ekspresi mukamu pertama kali saat sekitar 8 tahun lalu saya keluar dengan seorang laki-laki. Kerut di mukamu begitu kencang, kamu seperti kaget dan tidak siap.

Saya masih ingat bentakan kamu saat kamu tahu saya menjalin hubungan dengan kekasih saya saat ini. Kamu marah. Dan saya tidak kaget. Kamu memang belum siap.

Saya masih bisa mereka akhirnya kamu menyapa lembut kekasih saya, dan mengajak dia berbicara sebagaimana seorang laki-laki. Tapi tetap, kamu belum siap.

Saya masih mengenang banyak perdebatan kita mengenai kapan sebaiknya kami hidup bersama. Kamu masih saja belum siap.

Bahkan beberapa bulan lalu, kamu masih berkeras untuk tetap mengatakan tidak untuk setiap permintaan saya mengenai pernikahan. Bagi saya ini aneh. Karena sikapmu kepada lelaki saya itu sangat baik dan kamu bahkan sudah menganggap dia sebagai anak yang kamu percaya. Bukankah harusnya mudah bagimu melepas saya untuk dia? Kamu memang tidak pernah siap.

Kamu selalu ada di baris pertama untuk mendukung saya meraih cita-cita. Kamu selalu antusias menengar cerita anak-anakmu tentang sekolah, tentang pekerjaan, tentang masa depan dan lainnya. Tapi kamu diam dan merespon sebailknya jika perbincangan mengarah ke situ.

Kamu tidak pernah siap.

Dan aku bagaimanapun mengerti itu, Papa.

Ambil waktumu sebanyak yang kamu mau.

Tapi ketahuilah, aku tidak kemana.

Aku akan selalu menjadi pencinta dan pengagummu.

Aku menunggu, sampai dengan lega dan hati yang ringan kamu berkata, ‘pergilah, aku mendoakanmu.’

Aku menunggu itu.


Melbourne, 7 September 2015


Keterangan Foto: 

Foto diambil 2 Januari 2016 di Gereja GMIT Tebes Kobelete, saat papa dengan susah payah terbata-bata mengucapkan dua kalimat ini, 
"Yosua Natanael Sriadi, saya serahkan putri pertama saya, Sandra Olivia Frans untuk kau ambil sebagai istri. Hiduplah saling mengasihi satu sama lain."


Komentar

  1. Tulisan yang sangat menyentuh.... Terima kasih sist, sukses selalu dalam studi, pekerjaan dan keluarga sist, Tuhan berkati

    BalasHapus
  2. Tulisan yang sangat menyentuh.... Terima kasih sist, sukses selalu dalam studi, pekerjaan dan keluarga sist, Tuhan berkati

    BalasHapus
  3. terharu :) sukses selalu buat kakah.. Tuhan berkat.

    BalasHapus

Posting Komentar