Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Kemilau itu sudah berganti bentuk

Sekarang, kau tidak lagi harus memiringkan spion motormu agar bisa terus memandangiku kapan saja saat kita sedang dalam perjalanan. Bukan hanya karena kau sekarang tidak lagi memakai motor, tapi juga kau sudah terlalu sering dan terus menerus melihatku. Sorot matamu pun tidak lagi seperti dulu, yang berbinar terus saat kita beradu mata.

Sekarang, kau tidak lagi harus menghitung jam atau hari untuk bisa bertemu denganku seperti dulu. Atau kau tidak lagi harus melihat jam di dinding dan berkata, 'kayaknya sudah malam. aku pulang dulu.' Sekarang, kau dan aku selalu pulang ke tempat yang sama.

Sekarang, kau tidak lagi harus menunggu momen yang tepat untuk memegang tanganku. Mungkin itu saat menikmati matahari terbenam, atau ketika berjalan di pantai. Saat ini, sentuhan adalah sehari-harinya kita. Ia sudah bukan lagi sesuatu yang mendatangkan kejutan listrik ataupun menyebabkan kupu-kupu menari di perut. Ia sudah tidak lagi istimewa.

Sekarang, kau tidak lagi harus tersenyum bahagia…

Kerja Sampingan di Melbourne

Mumpung lagi santai, saya ingin menulis tentang part time jobs di Melbourne.

Sebelumnya pendahuluan dulu ya :D.

Jadi anggap saja saya ini kuper (emang kuper sih) atau telat informasi atau tidak peduli atau semacam itu, saya ini ngga pernah tahu bahwa Australia ini banyak diidentikan dengan lahan basah nyari duit. Bahkan oleh pemburu beasiswa sekalipun. Waktu saya melamar beasiswa, sama sekali tidak terpikirkan untuk bisa nabung banyak di Australia. Murni saat itu impian saya adalah merasakan hidup di negeri orang. Waktu berlalu dan kemudian saya banyak tahu hal-hal baru :D. Saat kami PDT di Bali dan masih galau memilih universitas, perbincangan biasanya seputar, 'ahh jangan di Sidney atau Melbourne, biaya hidupnya mahal banget loh, nanti ngga bisa nabung.' Atau misalnya, 'Ya ampun harga akomodasi di sini kok segitu sih, di kota ini loh cuma segini.' Atau, 'Pokoknya nanti kalau sudah di sini kamu bisa kerja di sini sini sini.' Bahkan ada seseorang yang akhirnya …

Susah tidak kuliah di sini?

Salah satu partisipan kursus Malaria dari Papua menanyakan ini kepada saya tiga kali, di tiga hari berturut-turut. Tampaknya kakak ini sepertinya ingin juga kuliah di sini, dan dia melihat kok saya tampaknya santai banget ya masih bisa ada kerja jadi interpreter segala, yang mengharuskan minimal 3 hari dari 5 hari kerja kami harus full bekerja.

Dan jawaban saya selalu konsisten, 'susah.' Tidak puas, dia terus mengikuti saya bertanya, 'tapi tidak terlalu susah kan?'. Saya tetap kukuh menjawab, 'ya menurut saya susah. Tapi sistem pendidikan di sini sudah bagus dan sangat mendukung kita untuk belajar. Dosen umumnya siap membantu, perpustakaan online menyediakan sumber ilmu tanpa batas, dan lainnya. Jadi kalau mau berusaha, pasti bisa. Tapi bukan berarti hasil bisa diperoleh dengan gampang'.

Pertanyaan berikut yang sering dia tanyakan pada saya jika saat itu saya tugas di kursus, 'hari ini tidak ada kuliah ya?' Saya membenarkan. Lalu kemudian saya berpikir,…

Feeling included is part of personal responsibility

Gambar
Di semester ini saya mengambil subject 'Community-based participatory research'. Intinya
, subject ini mengajarkan atau melatih muridnya dalam melakukan penelitian qualitative berbasis masyarakat. Jadi masyarakatnya bukan hanya sebagai subjek dalam melakukan penelitian tapi berperan aktif dalam proses penelitian. Contoh kegiatannya bisa : photovoice dan in-depth interview. Well, dalam blog ini saya tidak bermaksud menerangkan seperti apa detil cara penelitiannya, tapi saya mau menceritakan pengalaman saya saja.

Jadi di subject ini para siswa diajak untuk ikut meneliti tentang 'social inclusion and diversity on campus'. Seperti yang terlihat nyata, university of Melbourne ini bervariasi sekali suku, ras dan negaranya. Bahkan sekitar 30% dari seluruh siswa itu mahasiswa international. Bukan hanya itu, di Unimelb juga terdiri dari beberapa golongan ekonomi dan sosial, pun bervariasi dalam hal agama juga gender. Unimelb menurut saya, kampus yang mengapresiasi keberagaman g…

Hidup seperti apa yang kamu bayangkan?

Gambar
Jauh sebelum menikah, saya sudah tahu bahwa kalau nanti saya  hidup sendiri dan mandiri, prinsip sederhana dan minimalis yang akan saya pegang.

Saya belajar banyak dari sekitar saya. Ibu saya walau  tidak banyak beli barang. Tapi menurut saya, barang beliau cukup banyak! Koleksi piring-piringnya itu sekitar belasan atau 20 lusin! Padahal kami di rumah hanya 5 orang saja. Selalu alasannya adalah ya nanti supaya kalau ada acara kita sudah punya barang. Walau kalau menurut saya, kayaknya lebih praktis kalau menyewa barang saja kalau lagi sedang membuat acara. Di sekitar saya, misalnya keluarga saya, para ibu suka mengoleksi barang. Setiap natal beli banyak ukiran mangkok baru dan segala jenis perlenkapan masak untuk open house, lalu disimpan lagi selama setahun, atau nanti beli lagi.

Itu baru peralatan makan, belum misalnya sofa, lemari, barang ekeltronik, baju, sepatu, tas dan semua banyak barang lainnya.

Saya rasa, saya tidak akan bisa seperti itu. Saya tidak bisa masuk rumah dan melih…

Minggu Malam

Gambar
Apa kabar semuanya,

Rasanya lega sekali hari ini saya bisa submit satu tugas besar, 3000 kata! Seharusnya di semester tiga ini, saya sudah mulai terbiasa dengan tugas ribuan kata, tapi tetap saja setiap tugas ada dengan tantangan tersendiri.

Boleh diakui, tidak ada yang bisa membandingkan perasaan lega setelah kumpul tugas. Akhirnya setelah kepikiran berminggi-minggu, membaca puluhan jurnal, coba ngetik, ngetik-hapus-ngetik-hapus-diam-ngetik lagi. Kebingung-bingung dengan ini bahasa inggrisnya apa ya, kira-kira ekspresi saya di kata ini terdengar aneh tidak ya di telinga native english speakers, dsb, sekarang saya boleh nafas lega dikit. Nanti lanjut lagi gugupnya di tugas yang lain :D.

Hmmm, setidaknya sampai saat ini, saya sudah tahu otak saya ini paling bisa diajak kompromi pas kapan. Yak, kapan lagi kalau bukan, menjelang due-date! Padahal sudah berusaha mengerjakan berminggu yang lalu, tapi kok ujung-ujungnya malah buntu. Tapi menjelang deadline, semua pintu ilmu pengetahuan sepe…

Menata Barang, Menata Pikiran, Menata Hidup

Gambar
Semalam, saya bilang ke Yosua kalau baju-baju saya kayaknya jelek, dan saya butuh baju baru. Padahal itu dalam konteks sudah malam dan bentar lagi kami tidur. Dan Yosua sendiri kalau mau jujur, mungkin dia bisa saja menyindir seperti yang sering saya lakukan kepada dia  'bukannya dua minggu lalu baru beli baju ya?' atau 'bosan ah, lu bilang seperti itu terus'. Tapi karena Yosua adalah Yosua, jawaban dia adalah, 'ya sudah besok beta antar pi beli baju'. Saya pun senang sudah mendapat acc. Lalu tidur pulas.

Hari ini, kami bangun pagi seperti biasa, saya panaskan makanan buat Yosua yang berangkat kerja pagi, lalu membuat teh buat kami berdua. Dalam hati saya sudah me-list apa yang akan saya lakukan hari ini. Setelah Yosua berangkat kerja, saya lanjut mencuci baju yang menumpuk. Saya bagi jadi dua bagian, ada yang dicuci mesin, dan ada baju yang saya cuci sendiri. Setelah itu saya istirahat sambil scroll down instagram. Lalu, ketemulah saya dengan satu akun yang k…

Ke mana Kata Pergi?

Aku mencari di setiap sudut rumah di mana kata bersembunyi.
Ku bongkar susunan sofa, mencrinya di bawah bantal,
Mengobrak-abrik lemari makan, hingga memecahkan satu mangkok putih.
Tapi kata tak juga kutemukan.

Kata lenyap!
Aku melaporkan hal itu segera kepada hatiku.
Si hati diam saja, dia hanya melirikku sebentar lalu kembali sibuk menggambar.
Aku gemas karena hati seakan cuek.
Aku menggoyang-goyangkan pundaknya sambil mengeluhkan,
bagaimana mungkin kamu diam saja.
Ini penting! Ini darurat!

Air mataku pun tak terbendung lagi.
Tak jelas mengapa mereka  mengalir,
untuk mencari kata, atau menangis karena rindu kata.

Kata, tunjukkan wujudmu!
Sepi ini menjengahkan, kau tahu bukan?
Tak kuasa dengan senyap, aku pun melangkah keluar rumah
Di luar dingin. Angin menusuk membuat kepalaku sakit


Aku bertanya pada pepohonan merah, kuning, bercampur hijau,
'kalau-kalau mereka melihat kata'
Lagi-lagi aku harus kecewa karena mereka pun tak tahu.

Aku terduduk lesu di salah satu taman kota
Seek…

Tentang Mother's Day

Tulisan ini hanya sekedar pemikiran bahwa dibalik makna indah dari mother's day, ada efek samping yaitu penegasan terhadap struktur sosial yang lalu membedakan wanita.
Kemaren itu di beberapa negara di dunia (terutama western countries) memperingati Mother's day alias hari ibu. Di pusat perbelanjaan sudah banyak sale untuk produk-produk wanita sejak seminggu yang lalu. Di sekolah, juga ada perayaan khusus dimana anak-anak membuat kreatifitas apapun untuk dikasih ke ibu. Toko bunga semakin laku saja, karena banyak yang membeli bunga untuk ibu atau pasangan. Di gereja saya, juga ada perayaan Mother's day dengan semua ibu dan semua calon ibu (istilah yang dipakai untuk yang belum punya anak) diberi kado dan bunga. Terus hari itu makan siang dilayani para bapak dan pemuda laki-laki. Makanannya banyak dan enak-enak semua. Khas makanan indonesia yang berminyak dan pedas. Katanya bapak--bapak juga yang memasak buat semua. Sweet sekali.

Saya mendapat kesan bahwa, secara umum inti…