Membicarakan Cita-Cita

Dalam proyek SEBAYA FSP ini saya berkesempatan untuk banyak berinteraksi dengan para remaja SMP dan SMA. Proyek ini garis besarnya adalah tentang pengetahuan kesehatan seksual dan reproduksi. Tapi kami pun juga membicarakan hal-hal lain secara umum, seperti mimpi dan cita-cita.

Saat membicarakan cita-cita kepada remaja di kota Soe tidak mengherankan kalau kita akan mendengar jawaban yang seragam. Cita-cita mereka antara lain, menjadi: pendeta, guru, polisi, perawat, atau bidan. Banyak pula yang masih bingung dengan cita-citanya. Ada satu dua murid yang bercita-cita sesuai hobi, misalnya pemain bola.


Tumbuh sebagai remaja di kota kecil dan sepi membuat para remaja ini tidak banyak terpapar dengan dunia luar. Mungkin mereka sekarang punya facebook, tapi toh teman facebook mereka adalah juga sesama penghuni kota kecil ini maupun para om tante mereka yang lebih banyak posting foto selfie di media sosial.

Dunia digital semakin maju, peradaban terus berganti, di jepang murid sekolah menengah sudah menciptakan robot, perekonomian Indonesia dikatakan semakin baik, para konglomerat Indonesia saat ini berburu untuk memiliki jet pribadi, sedangkan para remaja kita di tahun 2017 masih bercita-cita sama seperti remaja tahun 1977.

Bukan, saya tidak sedang mendiskreditkan pekerjaan-pekerjaan itu. Tapi saya berani bertaruh, saat ini anak asli TTS sudah banyaaakk sekali menghasilkan sarjana theologi maupun sarjana keperawatan dan belum semua mendapatkan pekerjaan.

Tapi pun, saya tidak menyalahkan mimpi polos anak-anak ini. Toh yang mereka lihat sehari-hari adalah jenis pekerjaan-pekerjaan tersebut. Mereka memilih cita-cita berdasarkan hasil pengamatan mereka sehari-hari. Yang mereka lihat setiap minggu adalah pendeta berkhotbah dan pendeta tersebut dihargai di masyarakat, sehingga mereka yang suka membaca alkitab akhirnya ingin menjadi pendeta, dan seterusnya.

Saya berargumen, dalam bercita-cita pun, para remaja kita tidak 'berani' bermimpi sedikit liar. Belum pernah saya mendengar cita-cita dari mereka yang ingin menjadi guru untuk bilang, 'saya ingin bangun perpustakaan di kampung saya, dan saya mau mengajari anak-anak bahasa inggris.' Atau mungkin mereka yang mau menjadi pendeta bercita-cita, 'saya ingin menulis buku tentang khotbah saya.' Atau mungkin cita-cita yang bukan profesi seperti polisi, bidan, perawat, tapi lebih ke pencipta karya dan kerja seperti seorang desainer tenunan dari TTS, mungkin? Atau yang bercita-cita sebagai pemberi solusi. Misalnya, ilmuwan menemukan cara supaya jeruk soe dan segala jeruk-jeruk yang dulu banyak dijumpai kembali menjadi ciri khas Soe dan diproduksi besar-besaran. Atau cita-cita lain seperti peneliti, konsultan, penemu, pendiri perusahaan xxx, chef, pejuang hak anak, pemilik media, penulis, pembuat film dll dll.

Ahh saya terlalu naif. Toh, pada jamannya saya remaja 17 tahun lalu, saya pun tidak sampai terpikir seperti itu. Saya ingat cita-cita saya adalah menjadi Arsitek dan seorang sarjana filsafat (karena meniru Dian Sastro). (being a medical doctor was never become my dream).

Mungkin, ini sebabnya belasan tahun kemudian, tidak banyak yang berubah dari orang NTT. Maksud saya, kita tetap tinggal di NTT, bekerja di NTT, tapi kita tidak terlalu banyak mempercantik dan memperbaiki NTT. Namun, tanpa kita sadari, beberapa hal sudah berubah. Contohnya, sudah mulai banyak tanah-tanah yang strategis di daerah wisata yang dibeli oleh orang luar. Karena kita tidak pernah bermimpi untuk memiliki penginapan yang nyaman untuk orang datang menikmati keindahan pantai dan bebukitan di NTT. Atau tenunan NTT sudah diproduksi masal di Jepara dan dijual besar-besaran karena kita tidak pernah bercita-cita untuk menjadi pengrajin tenun NTT.

Saya sudah ngawur terlalu jauh.

Oh iya, tambahan lagi. Sebenarnya, menurut saya membicarakan cita-cita juga termasuk hal yang sensitif. Karena tidak semua remaja (di TTS) mempunyai pilihan yang sama. Tentu saja saya tidak mungkin membicarakan mimpi untuk setelah SMA ini mau kuliah di mana dengan terbuka kepada seorang remaja yang tinggal dengan pengampu misalnya. Karena mungkin ini akan melukai hatinya. Karena selama ini ketika kita berbicara tentang cita-cita, yang kita kenalkan ke para remaja adalah profesi yang populer seperti yang di atas. Kita jarang sekali meyakinkan mereka bahwa penenun dan petani adalah profesi yang amat sangat berjasa.

Tapi, ada suatu diskusi yang menghangatkan hati saya. Di salah satu sekolah negeri yang kami datangi, pada sebuah kelompok kecil, ada seorang remaja putri yang bercita-cita untuk meneruskan usaha bertani sayur milik ayahnya. Anak ini tahu apa yang akan dia lakukan. Dan cita-citanya bisa menjadi sesuatu yang besar. Kelak, dia tidak harus merengek-rengek ke instansi atau perusahaan untuk memberi dia kerja. Kelak, dia tidak harus bermuka dua dengan bosnya karena toh dia yang akan menjadi bos di tempat kerja miliknya sendiri.


Pada akhirnya, ini akan menjadi pengingat bagi saya. Bahwa ketika berhadapan dengan remaja, tugas sayalah untuk membuka pikiran mereka tentang cita-cita.


Komentar: