Menumpahkan Minuman di Cafe

Hari Sabtu kemarin sungguh menyenangkan. Saya bertemu dengan tim Sebaya untuk melakukan evaluasi kegiatan kami yang sudah 70% terlaksana. Tim Sebaya bagi saya sudah seperti keluarga sendiri. Kami memiliki banyak kecocokan di antaranya punya selera humor yang sama. Jadi saat berjumpa selalu saja ada cerita lucu yang membuat kami tertawa lepas.

Pertemuan ini kami lakukan di sebuah toko kopi yang nyaman di Kupang. Sambil menunggu minuman datang, kami bercerita tentang apa saja sambil tertawa ngakak. Kemudian minuman datang, lalu kami memutuskan untuk memulai rapat (tapi sebelumnya foto-foto dulu :p). Mungkin karena suasana cafè yang nyaman, dan beberapa dari kami sudah beberapa minggu tidak bertemu, juga suasana hati sedang riang, agak sulit untuk fokus ke evaluasi. Setiap masuk ke satu topik, tiba-tiba kami akan bernostalgia tentang kegiatan tersebut, lalu mengingat beberapa peristiwa lucu dan kemudian melebar kemana-mana. Salah satu dari kami kemudian ijin ke kamar mandi, saat dia bangun dari tempat duduk, tanpa sengaja dia menyenggol minuman-nya yang masih penuh dan menumpahkannya di meja yang ada laptop saya, buku catatan, juga kertas notulensi. Kami berempat terdiam dan serentak mengambil tissue untuk membereskan meja. Hening-nya kami itu ada sekitar 10 menit karena teman saya sempat menghubungi pelayan, sedangkan pelayan masih sibuk, sehingga dia yang lalu mencari tissue, kain dan tempat sampah. Lalu setelah itu entah siapa yang memulai kami menertawakan kekonyolan kami barusan yang tiba-tiba hening karena kaget dengan tumpahan minuman di meja yang penuh benda itu. Saya pun baru menyadari ada percikan minuman di baju (baru) saya dan teman saya. (Kebetulan kami janjian memakai baju komunitas Lakoat Kujawas :D).  Tapi bagi saya yang gampang iritasi ini, noda di baju saya sama sekali tidak membuat saya marah. Saya berpikir, ini akan hilang dengan sekali cuci. Teman saya yang juga kena noda pun tidak marah ataupun kesal. Kami kembali melanjutkan pembicaraan (kali ini jadi lebih fokus) dan setelah itu masih lagi melanjutkan perbincangan seru kami.

Saya lalu berpikir, 'Kenapa saya tidak ada perasaan marah sama sekali ya?' Situasinya akan jauh berbeda jika Nyongki adik saya yang masih SMA yang menumpahkan minuman di cafe dan minuman itu mengotori notebook serta baju saya. Saya pasti tidak akan bisa tertawa tapi mengomeli dia dengan nasihat supaya berhati-hati, dengan kalimat-kalimat menusuk telinga seperti, 'Makanya, jangan grasak-grusuk. kayak anak kecil saja.' Atau jangankan Nyongki, kalau misalnya suami saya yang menumpahkan minuman, saya yakin ekspresi saya langsung berubah. Saya yakin saya akan melemparkan pandangan yang menuduh ke dia. Saya yakin, saya bakal ngambek beberapa saat karena peristiwa itu. Tidak mungkin saya akan tertawa menertawakan kejadian itu. (I told you, i easily got irritated). Tapi kenapa, saat yang melakukan ini adalah teman saya, saya sama sekali tidak ada rasa jengkel?

Ahh, ternyata saya masih saja memberlakukan double standard dengan orang-orang terdekat saya. Kejadian yang sama akan saya beri perlakuan yang berbeda jika yang melakukan itu adalah orang terdekat saya.

Kalau orang lain berbuat kesalahan, saya bisa mengatakan dengan tulus: 'Tidak apa-apa, kan tidak sengaja.' Tapi tidak jika suami yang berbuat kesalahan, misalnya lupa matikan air keran.

dan seterusnya...             


Padahal kalau mau dipikir, apa gunanya marah terhadap kejadian yang sudah terjadi? Toh kita tidak akan bisa membalikkan waktu untuk memperbaiki apapun, bukan?

Saya berkata kepada pikiran saya sendiri untuk jadi lebih rileks terutama ketika berinteraksi dengan orang terdekat. 'Don't be too hard on yourself or on him/them'. Mungkin itu yang harus sering-sering saya ingat. Karena pada kenyataannya, teman saat tertawa akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan orang terdekat itu terus menemani tanpa lelah :).

Kupang, Agustus 2017


 
Sesaat sebelum kejadian. Minuman yang tumpah persis seperti minuman saya itu :D

Komentar: