Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Menunggu

Kamu masih menunggu, bukan?
Aku tahu.
Karena kamu masih menunjukkan muka.

Kamu tahu seberapa besar aku ingin kamu, bukan?
Bahkan sejak aku masih anak-anak, kamu sudah aku rindukan.

Kamu tahu ini tidak mudah, bukan?
Karena kalau saja mudah kamu sudah ada sejak lama.

Kamu tahu ini bukan karena aku egois, bukan?
Semua orang berasumsi.
Tapi hanya kamu dan dia saja yang tahu apa yang benar.

Kamu jangan lelah menanti,
aku di sini juga tidak capek berharap.

Itu saja.
Kita akan berbicara lagi, nanti.

Salam,
aku.

Yogyakarta, 2018

Hampir Semua Kita Mempunyai Dilan-nya Masing-Masing

Gambar
Sudah nonton film Dilan 1990? Film yang baru di hari kelima pemutarannya sudah membius 1.6 juta penonton Indonesia. Berikut trailer-nya:

Saya termasuk salah satu yang tidak tahu menahu tentang Dilan. Katanya kan novel Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990  termasuk salah satu novel laris, namun saya sama sekali tidak tahu. Mungkin juga sebenarnya genre teenlit itu sudah tidak begitu saya ikuti dan nikmati lagi. Jadi saat ada teman kantor mengajak saya nonton Dilan di hari pertama pemutarannya, saya langsung menolak. Karena saya pikir, saya tidak akan menikmati film remaja itu. Akhirnya mengikuti teman lain yang menonton Maze Runner 3.
Kemudian besoknya, di twitter ramai dengan orang-orang yang sudah menonton Dilan dan berkata bahwa film itu bagus. Saya pikir, ahh paling juga para endorser. Tapi kemudian saya coba liat Trailer-nya dan mendapati saya senyum-senyum sendiri saat Dilan bilang ke Milea di dalam angkot : 'Milea kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu, enggak tahu kalau s…

Baju Baru, Kebutuhan atau Keinginan?

Gambar
Beberapa teman saya di kantor yang baru tengah mengikuti kursus bahasa Inggris. Hari ini mereka belajar conversation, dengan salah satu pertanyaan: 'Kapan terakhir kali membeli baju?'. Saat mereka menceritakan itu, saya bertanya ke diri saya: kalau saya kapan ya? Dan kemudian baru teringat itu sekitar 6 minggu yang lalu, yaitu membeli dress untuk dipakai ke nikahan saudara. Saat mengingat itu, dalam hati saya tersenyum menang. Yes! Akhirnya bisa mengendalikan diri untuk membeli pakaian. Kalau dua atau tiga tahun lalu, saat ditanya kapan terakhir kali membeli baju, saya akan menjawab satu atau dua minggu yang lalu. Sepertinya sangat tidak mungkin dalam 1 bulan itu saya tidak membeli baju. Padahal kalau mau dibilang, gaya saya itu-itu saja. Dan baju yang saya beli secara impulsif juga beberapa tidak saya pakai, atau mungkin hanya bertahan beberapa bulan karena kwalitas-nya jelek (korban sale). Saat ini ketika saya memakai baju, kadang saya mengingat kapan baju ini saya beli dan…

Belajar Mengatur Keuangan Bagian Kedua

Gambar
2017 sebenarnya bukan menjadi tahun favorit dalam hal pencapaian pribadi. Walaupun (terlihat) ada banyak hal yang saya lakukan, seperti bisa dibaca di Kaleidoskop saya di 2017. Namun, sebenarnya hanya 2 dari 6 resolusi utama yang bisa saya jalankan. Beberapa kebiasaan yang ingin saya terapkan di 2017 nyatanya gagal, seperti jalan pagi atau rutin olahraga. Mungkin hanya satu ini yang menjadi kepuasaan pribadi saya yaitu sudah rutin mencatat keuangan dan mulai rapih dalam merencanakan keuangan yang ditulis di sini.
Di bulan Desember kemarin saya kemudian melakukan 'analisa data' terhadap hasil pencatatan keuangan yang dicatat sejak bulan Juni. Di situ saya bisa mendapat gambaran riil besar pemasukan, besar pengeluaran, seberapa banyak yang kami tabung, berapa yang diinvestasikan, pos pengeluaran terbesar ada di mana, dan sebenarnya pengeluaran apa yang bisa kami atur lebih baik lagi.
Dan ternyata melakukan ini sungguh menyenangkan dan memuaskan bagi saya :p.
Salah satu keputus…

Tentang Berbuat Baik (bagian kesekian)

Awalnya, saya mau menceritakan kejadian tanggal 7 Januari ini di buku harian saya, tapi saya pikir walaupun ini bersifat pengalaman pribadi mungkin ada gunanya juga jika saya share di blog.

Semenjak saya tinggal di Melbourne selama 2 tahun, standar saya terhadap kehidupan sosial sesama manusia itu meningkat. Maksud saya, saya banyak belajar bahwa terhadap orang asing sekalipun, kita wajib saling berbuat baik, termasuk di dalamnya saling mengucapkan 4 kata kunci (Terima kasih, maaf, tolong, salam).
DI Melbourne, suatu ketika saya dan 2 teman sedang mencari alamat. Kami bertanya ke sebuah toko, pemiliknya tidak tahu. Tanpa disangka, seorang pengunjung toko menghampiri kami dan menawarkan akan mengantarkan kami ke alamat tersebut. Kata dia, jauh sekali kalau kalian harus jalan. Kejadian lain, suatu ketika di atas bis dan saya bingung harus turun di mana, seorang penumpang yang melihat saya celinguk sana sini bertanya saya hendak turun di mana lalu menjelaskan kapan saya harus berhenti. …